Transformasi Diri: Dari Anak Muda untuk Anak Muda (Bagian 2:)

Cerita Anak Muda jadi Cermin Diri

Mendengar kisah Risa, Yuza, Iko, serta anak muda lainnya yang terdampak pendampingan program selalu membuatku kembali bertanya, “Kenapa aku mau melakukan pekerjaan ini?” Pekerjaan yang tidak dengan mulusnya aku dapatkan. Pekerjaan yang selalu memicu pertanyaan kedua orangtua dan sekitarku.

Transformasi Diri: Dari Anak Muda untuk Anak Muda (Bagian 2:)

Aku mengalami keberagaman dari kecil: keluarga mama adalah keluarga Tionghoa Kristen dan bapa dari keluarga Sunda Muslim. Semasa kecil, aku sempat menghabiskan waktu beberapa bulan bersama nenek dari pihak mama. Sebagaimana interaksi cucu dan nenek pada umumnya, aku menikmati momen kebersamaan itu. Nenek sosok penuh perhatian walaupun cerewet. Tak jarang aku bertengkar dengannya hanya karena perkara sup yang sudah tidak panas. Namun di waktu lain, nenek sering mengajakku jalan-jalan menikmati udara segar di tengah perkebunan teh Pangalengan, lokasi kedua orangtuaku ditempatkan sebagai guru pegawai negeri sipil (PNS).

Nenek meninggalkan kami saat aku masih batita. Saat itu tidak banyak momen yang aku ingat. Nenek jatuh dari kamar mandi, lalu digendong dan kembali tidur. Keesokan harinya, ternyata beliau sudah meninggal. Kehilangan nenek di waktu kecil menjadi momen kehilangan pertamaku. Tahun-tahun berikutnya, kami rajin mengunjungi makam nenek setiap Idul Fitri sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga dekat. Namun, ketika aku kelas 4 atau 5 SD, orangtua memutuskan untuk tidak lagi datang ke makam nenek. Katanya, ada seorang pemuka agama yang menyampaikan, “Doa kepada orang berbeda agama yang meninggal, termasuk orang tua itu tidak akan sampai. Berziarah ke makamnya pun sia-sia belaka”. Di saat itu aku merasa sedih karena tidak bisa lagi merasakan kehadiran nenek. Aku hanya bisa mengutuk keadaan, mengapa hanya karena nenek berbeda agama dan sudah meninggal, kita tidak boleh berbuat kebaikan pada beliau.

Pengalaman masa kecil tersebut ternyata begitu membekas dan mengantarkanku pada pilihan-pilihan hidup untuk menemukan jawaban  pertanyaan, “Mengapa manusia melihat perbedaan agama dan perbedaan lain sebagai hal negatif?” serta “Apa yang bisa aku lakukan untuk membuat manusia bisa mencintai keberagaman?”.

Ketika menginjakkan kaki di perguruan tinggi, aku dipertemukan dengan beragam perbedaan yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan. Aku berteman dengan kelompok Tionghoa yang selama ini menjadi bagian diriku namun tidak pernah aku kenali. Aku juga bertemu teman-teman dari beragam agama dan kepercayaan. Rasanya menyenangkan sekali bisa berdiskusi tentang perbedaan kami sehingga kami bisa saling mengenal. Di luar tugasku sebagai seorang mahasiswi Teknik Geologi, aku pun mulai suka eksplorasi diri dengan ikut unit kajian humaniora hingga belajar di kelas-kelas Filsafat. Aku menyukai buku-buku karya Karen Armstrong atau buku-buku pemikiran keagamaan lainnya.

 

(bersambung)

***

Tulisan Lindawati Sumpena selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top