Transformasi Diri: Dari Anak Muda untuk Anak Muda (Bagian 1)

Pemberani Muda

Risa, bukan nama sebenarnya,  memilih meninggalkan kelompok kajian agama eksklusif di sekitar rumahnya setelah berkonsultasi dengan mentornya Fajar, juga bukan nama sebenarnya.. Lewat pembicaraan dari hati ke hati, Risa berhasil mengurai pergumulan batinnya: apakah ia akan memutuskan berbai’at atau sumpah setia pada kelompok yang meyakini tegaknya Negara Islam di Indonesia secara buta atau memilih memaknai ketaatan beragama dengan cara lebih luwes. Syukurlah, Risa memilih yang kedua.

Transformasi Diri: Dari Anak Muda untuk Anak Muda (Bagian 1)

Aku berkenalan dengan Risa tahun 2019 saat mengelola program bernama Frosh Project ID. Risa waktu itu seorang mahasiswi baru di salah satu universitas pendidikan di Bandung. Berkuliah di kampus yang hanya 1,5 jam dari rumah, Risa tidak perlu repot-repot mencari rumah kos. Selain mengikuti beragam aktivitas akademik dan kemahasiswaan, Risa tetap tekun memelihara spiritualitasnya, dan rajin mengikuti kajian agama di mesjid sekitar rumahnya.

Risa juga mahasiswi yang tidak ingin tertinggal agenda pengembangan diri di kampus. Pertemuannya dengan Frosh dimulai saat dia memperoleh informasi dari kawannya di satu Unit Kegiatan Mahasiswa. Risa melihat info rekrutmen menjadi mentee. Tanpa pikir panjang, ia pun ikut mendaftar. Lumayan, sekalian menambah kenalan baru.

Risa dikelompokkan dengan beberapa mentee dari jurusan berbeda-beda dan didampingi Fajar dari jurusan Sosiologi. Pada awalnya dia terkejut dengan pendekatan belajar yang tidak biasa. Risa punya peran baru, menjadi bagian sekelompok wanderer (petualang) yang “terjebak” di “dimensi Frosh”. Para wanderer harus berpindah ke 10 tempat dan menjalankan misinya hingga tuntas supaya bisa kembali ke dunia nyata. Sepanjang perjalanan, ternyata Fajar berperan sebagai penjaga dimensi yang menuntun setiap langkah wanderer. 

Kesepuluh misi yang harus ditaklukkan pun ternyata sekitar keseharian anak muda: bagaimana menerima diri, mengelola emosi, mengelola waktu, manajemen informasi, membina pertemanan sehat, menjauhi fanatisme, bagaimana menjadi warga negara yang menjunjung persatuan, menghindarkan diri dari gerakan pro kekerasan, menjadi pemecah masalah kreatif atau creative problem solver, dan menjadi pendamai atau peacemaker. Uniknya, kesepuluh materi tersebut dikemas dalam permainan petualangan fiktif dengan permainan papan atau board game. Sebagai anak muda yang tidak asing dengan game, Risa sangat menikmati proses mentoring ini. Bermain board game Telefrosh bersama teman-temannya sangat berkesan bagi Risa.

Salah satu aturan mentoring Frosh adalah setiap kelompok secara berkala harus berpindah tempat melalui gerbang teleportasi yaitu board game itu sendiri. Risa dan para mentee lain harus mencari kunci gerbang teleportasi yang digembok. Satu-satunya cara menemukan kunci adalah memecahkan teka-teki dan bertransaksi bersama setiap makhluk yang mereka temui di perjalanan. Ada makhluk yang berbicara jujur, namun tidak sedikit juga yang picik. Para mentee harus cerdik menebak niatan setiap orang yang ditemui, berpikir kritis, dan hati-hati mengambil keputusan. Permainan menjadi lebih menantang ketika watak setiap pemain ditunjukkan. Ada yang tidak sabar dan tergesa-gesa sehingga tidak jarang mencelakakan kelompok. Ada juga yang sangat berhati-hati sehingga memperlambat kemajuan kelompok. Risa belajar bagaimana pentingnya memahami setiap individu dan kesediaan berkompromi untuk bisa bekerja sama.

Melalui mentoring Frosh, Risa tidak hanya mengalami pengalaman belajar dengan metode game-based learning yang menyenangkan. Risa juga dipertemukan dengan kelompok pendukung (support group) serta mentor yang sangat pengertian. Hal ini ia rasakan ketika ia menghadapi ancaman dan perlu menentukan sikap.

Di awal mengikuti kajian Islam dekat rumahnya, Risa merasa baik-baik saja. Namun, suatu ketika narasumber kajian tersebut mulai mengarahkan diskusi pada kewajiban mendirikan Negara Islam. Para peserta kajian pun diajak sumpah setia (baiat) pada agenda tersebut. Sontak saja Risa terkejut, dia tidak pernah menyangka akan ada di momen ini.

Risa menghubungi Fajar, mentornya,dan menceritakan dilema yang ia rasakan. Risa merasa ketidaklaziman di lingkungan kajiannya. Namun, ia juga gundah jika harus melepaskan diri dari lingkungan tersebut. Apalagi, lokasi kajian dekat rumahnya. Di luar itu pun, ia khawatir mengingkari ajaran agama yang ia yakini. Fajar kemudian mengajak Risa ikut diskusi pembahasan salah satu materi Frosh, “Bridge of Country”, artinya Menjadi Warga Negara yang Baik dan Menjaga Keutuhan Bangsa, termasuk pembahasan konsep negara Islam. Pada sebuah video interaktif, mentee diperkenalkan dengan gagasan bahwa sepanjang sejarah, negara dengan mayoritas penduduk Muslim memiliki banyak bentuk negara. Lebih lanjut lagi, Fajar mengajak Risa merenungkan bagaimana nilai-nilai Pancasila sejalan dengan nilai-nilai keislaman seperti persatuan, perdamaian, dan penghargaan.

Fajar juga mencoba mempertajam empatinya dengan menyampaikan pengalaman pribadi serupa. Melalui hubungan antar individu yang bermakna dan positif, Risa kemudian memutuskan menjauh dari kelompok kajian tersebut. Ia menyibukkan diri dengan pengembangan diri lain dan berhati-hati dalam belajar agama. Di tahun 2021, Risa bergabung menjadi mentor Frosh untuk menebar dampak kepada lebih banyak orang.

 

(bersambung)

***

Tulisan Lindawati Sumpena selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top