Tangan Dingin Perempuan Wujudkan Penerimaan terhadap Para ‘Mantan’: Krisis Menghadirkan Sisi Humanis (Bagian 1)

Waktu itu tahun 1998, krisis ekonomi melanda Indonesia. Harga susu melambung tinggi, dan saya punya 2 anak yang masih minum susu formula. Saya membaca di koran kalau di Megaria Jakarta ada kelompok perempuan yang menjual susu dengan harga murah, lalu saya segera datang ke sana. Dari situlah, kali pertama saya bertemu dengan Gadis Arivia, Karlina Leksono, Myra Diarsi, Ciciek Farha, Ita Nadia. Kami sering membuka ruang-ruang bertukar cerita yang akhirnya membuka mata saya bahwa saya adalah perempuan berharga.

Begitu kira-kira jawaban Mega Priyanti, salah satu penulis kisah ini, saat mengisahkan titik balik kehidupannya. Pengalaman dilecehkan orang terdekat membuat Mega membenci tubuhnya sendiri. Ia tumbuh menjadi anak pendiam yang jarang bicara bahkan ketika mengalami kekerasan seksual. Apalagi setelah mendapat respon kakak Mega yang justru menyalahkan cara berpakaiannya. “Kalau tidak mau diganggu, jangan mengundang.” Padahal, saat itu Mega memakai baju santai dan celana pendek hanya di dalam rumah. Mendengar respon kakaknya itu, hati Mega terluka. Bertahun-tahun ia menganggap dirinya kotor, merasa takut berada di dalam rumah dan tidak aman meski di sekeliling orang-orang terdekat. 

Tangan Dingin Perempuan Wujudkan Penerimaan terhadap Para ‘Mantan’: Krisis Menghadirkan Sisi Humanis (Bagian 1)

Selain kekerasan seksual, Mega juga mengalami domestikasi dari orang tuanya. Anak perempuan diwajibkan membersihkan rumah, sedangkan anak laki-laki tidak. Ibu Mega juga selalu melarang ketika ia izin bermain di sawah, memanjat pohon, berkemah, atau menerbangkan layang-layang. Padahal, Mega senang sekali memanjat pohon jambu dan berayun di dahan rantingnya sambil menikmati buahnya yang manis. Namun, orang tuanya mendidik anak perempuan untuk tidak keluar rumah. Sekalipun hanya bermain. Pernah suatu kali ibu Mega mengizinkannya untuk berkemah, tetapi hanya di sekitar halaman rumah saja.

Hidup sebagai anak perempuan amat sulit dan menyakitkan. Namun, hidup harus terus berjalan. Di tahun 1987 Mega menikah, dan dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Kepindahannya dari Cirebon ke Jakarta mempertemukan Mega dengan kelompok perempuan yang menyuarakan perubahan untuk kehidupan yang lebih baik bernama Suara Ibu Peduli (SIP). Situasi krisis yang mencekik seluruh masyarakat Indonesia di tahun 1998, justru membangkitkan semangat perempuan-perempuan yang tergabung dalam SIP untuk saling menguatkan. Untuk terbebas dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketidakberdayaan yang selama ini dialami baik dari budaya patriarki maupun otoritarianisme rezim kala itu.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak perempuan yang tergabung dalam SIP. Pada tahun 2000-2003, Mega didaulat menjadi salah satu pengurus sebagai ketua bidang ekonomi. Ia juga pernah dilantik sebagai ketua presidium. Bersama SIP, Mega berproses mengubah hidupnya, menjadi pribadi yang kuat hingga mampu menjadi teman berbagi dan teman diskusi untuk menguatkan sesama perempuan.

 

Melihat dengan Kacamata Korban

Berangkat dari pengalaman kekerasan berbasis gender yang Mega alami sejak kecil, ia kemudian memutuskan terjun bergerak di isu sosial, khususnya dalam pendampingan. Sejak tahun 2017 hingga sekarang, Mega menjadi bagian Yayasan Empatiku sebagai pendamping mulai dari korban kekerasan seksual, KDRT, remaja pengguna narkoba, hingga mantan napiter dan keluarganya.

Mega kecil yang pendiam dan tidak berani bicara kini berubah menjadi Mega dewasa yang piawai mendampingi masyarakat dari berbagai latar belakang. Mega tak pernah tebang pilih. Tangannya terbuka lebar membantu siapapun yang kesusahan. Tak jarang waktu, tenaga, pikiran serta materi ia pertaruhkan untuk membantu dampingannya. Namun, Mega tetap menjalankan tugas mulia tersebut. Tak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya untuk berhenti.

Rasa empati yang tertanam dalam diri Mega ini tumbuh karena kesadaran melihat suatu peristiwa dengan kacamata korban. Ia sendiri pernah merasakan rasa sakit yang sama. Pada dasarnya, tidak ada seorang pun yang ingin mengalami kekerasan seksual, terjerat narkotika, begitu pula terlibat dalam lingkaran ekstremisme dan terorisme. Oleh karenanya, alih-alih menjaga jarak apalagi menghakimi, justru penting untuk merangkul dan mendampingi korban. Menemani dan memberikan kesempatan kedua agar memberikan harapan baru untuk menjalani hidup lebih baik lagi.

Tentu tidaklah mudah. Namun, bagaimana jadinya jika hal tersebut menimpa diri kita sendiri atau anggota keluarga kita? Memposisikan diri sebagai korban atau berusaha merasakan apa yang dialami korban ini sangat penting untuk memunculkan sifat empati dalam proses pendampingan. 

 

(bersambung)

***

Tulisan Yuyun Khairun Nisa dan Mega Priyanti selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top