Kuatnya Stigma Terorisme
Mega menemui banyak anggota masyarakat yang masih berpendapat bahwa terorisme hanya urusan aparat keamanan, bahkan tidak sedikit yang menilai terorisme “dipelihara” institusi negara agar mendapatkan uang dari pihak atau negara lain. “Memangnya teroris itu benar ada ya Mbak? Bukankah itu rekayasa?” tanya seseorang kepada Mega. Faktanya, banyak korban aksi teror yang telah terjadi dan banyak warga negara Indonesia yang saat ini berada di kamp pengungsian perbatasan Suriah.
Lekatnya label teroris senyatanya menghambat gerak para perempuan termasuk istri para mantan dan juga anak-anak mereka. Beberapa anak napiter yang Mega dampingi mendapat penolakan orang tua murid di sekolahnya, bahkan pihak sekolah didemo karena menerima anak mantan teroris di tempat anak mereka sekolah. Stigma tersebut menambah berat beban mereka. “Sampai kapan anak-anak saya menyandang beban sebagai anak teroris?” Sebagai anak, pada dasarnya mereka mempunyai hak untuk hidup, mendapatkan pendidikan, mendapatkan perlindungan, dan sebagainya. Hak anak adalah bagian hak asasi manusia yang wajib dipenuhi tidak hanya oleh orang tua dan keluarganya, tetapi juga oleh masyarakat dan pemerintah.
Stigma lainnya datang dari keluarga Mega sendiri yang mengkhawatirkan resiko pekerjaannya. Mereka menganggap pekerjaan mendampingi mantan napiter dan keluarganya sama dengan mendukung gerakan dan paham terorisme. Tak ayal, saking kuatnya stigma terorisme mengakar di masyarakat, Mega terkadang limbung meneruskan kerja-kerja pendampingan.
Di Balik Kerentanan Selalu Ada Kekuatan
Benturan-benturan ada kalanya membuat hati dan tubuh Mega lelah. Seringkali Mega merasa ingin “membereskan” semua persoalan yang dihadapi para dampingannya. Namun, tentu saja tak semudah membalik telapak tangan. Mega hampir tidak bisa memisahkan antara pekerjaan dengan urusan pribadinya. Persoalan dampingan dan persoalan pribadinya kadang bertumpuk seperti benang kusut yang harus diurai. Jika sudah terasa tanda-tanda kelelahan atau burn out, Mega memutuskan menarik diri. Ia perlu menenangkan diri, datang ke tempat “hijau” atau mendengarkan musik sambil merapikan tanaman-tanaman di halaman rumahnya. Mega juga sekali dua kali sekedar curhat, menumpahkan segala rasa kepada Teh Ani, salah seorang teman dari Peace Generation yang sama-sama pernah mendampingi deportan. Itu semua cukup membuat Mega kembali lega dan tumbuh semangat baru. Setelah itu, timbul kesadaran bahwa sebetulnya kerentanan dampingannya yang terkadang mempengaruhi kondisi Mega justru memberikan kekuatan tersendiri baginya. Menjadikan jiwa Mega dipenuhi rasa syukur tak terhingga.
Buah Tangan Dingin Perempuan
Pendampingan deportan, returni dan mantan napiter perlu melibatkan banyak pihak dan memperkuat jaringan, baik dengan organisasi masyarakat sipil maupun dengan pihak kelurahan, tokoh masyarakat, tokoh agama dan stakeholder atau pihak lain yang berkepentingan. Terlebih kata Mega, “… bekerja dengan perempuan-perempuan hebat di kelurahan Mekarjaya dan tokoh perempuan lainnya di Tim Tangguh sangat memudahkan pekerjaan saya.” Katanya perempuan-perempuan ini selalu bekerja dengan hati. Tidak memikirkan kepentingan pribadi tetapi fokus pada kepentingan masyarakat luas. Selama melakukan kerja-kerja sosial, perempuan lebih mudah memahami kesulitan perempuan lain yang bagi laki-laki dianggap mengada-ada atau membesar-besarkan masalah. Padahal, perempuan bisa lebih peka untuk melihat dan memahami kondisi sekelilingnya. Sehingga, lewat tangan dingin perempuan, banyak perubahan bisa terwujud.
Serangkaian proses dialog yang membutuhkan waktu tidak sebentar serta melibatkan peran dan dukungan banyak pihak membuahkan hasil penerimaan masyarakat terhadap mantan pendukung ISIS dan keluarganya di kelurahan Mekarjaya. Kegelisahan Mega selama pendampingan terbayarkan sudah. Kini, mantan napiter dan keluarganya itu sudah tidak lagi menutup diri dan enggan keluar rumah. Mereka berbaur dengan masyarakat. Tidak lagi merasa diwaspadai. Masyarakat pun merangkul mereka. Tidak lagi berprasangka dan menyebarkan kabar miring karena sudah berkenalan dan berinteraksi secara langsung. “Ternyata mereka baik ya,” ujar salah satu warga kelurahan Mekarjaya kepada Ibu Gina dan Ibu Devi.
Saat ada bazar makanan atau momen-momen akhir pekan, keluarga para mantan membuka usaha makanan ringan atau cemilan seperti dimsum, siomay, dan sebagainya. Pihak aparat pemerintah juga membantu proses pendataan merk dagang ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) misalnya agar mutu produk terjamin dan harganya bisa bersaing. Sejak masyarakat mulai menerima keluarga para mantan, mereka mulai bangkit dan percaya diri untuk tampil di ruang publik dan menguatkan kembali sosial ekonomi keluarga. Anak-anak keluarga mantan juga mulai kembali ke sekolah, memperoleh hak pendidikan layak sebagaimana warga negara. Optimisme mereka mencuat menyambut kesempatan kedua dengan menebarkan kebaikan dan kedamaian untuk dirinya sendiri dan sesamanya. Kebaikan dan kedamaian yang jelas, nyata, dan terasa, bukan sekedar propaganda atau iming-iming surga fatamorgana.
(bersambung)
***
Tulisan Yuyun Khairun Nisa dan Mega Priyanti selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





