Tangan Dingin Perempuan Wujudkan Penerimaan terhadap Para ‘Mantan’: Krisis Menghadirkan Sisi Humanis (Bagian 4)

Siasat Menumbuhkan Empati dan Narasi Kemanusiaan

 Pendampingan merupakan proses menemani dan berteman yang panjang. Tidak dibatasi program atau proyek. Tidak juga dihalangi stigma dan perkataan orang lain yang mengucilkan. Yang dipegang teguh ialah nilai-nilai kemanusiaan bahwa sudah seyogyanya saling menolong antar sesama manusia. Jika bukan tetangga, siapa lagi yang akan menyangga. Jika tidak dimulai dari diri sendiri, sampai kapan perubahan hanya menjadi ilusi. Memang tidak mudah menumbuhkan kepekaan sosial untuk membangun daya tahan atau resiliensi di masyarakat. Namun, narasi-narasi yang menghidupkan empati itu penting untuk selalu digaungkan. Sehingga mengendap dalam alam bawah sadar yang kemudian terwujud melalui tindakan.

Tangan Dingin Perempuan Wujudkan Penerimaan terhadap Para ‘Mantan’: Krisis Menghadirkan Sisi Humanis (Bagian 4)

 Mendampingi para mantan napiter, mempunyai warna tersendiri. Stigma masyarakat yang sangat kuat tidak jarang berimbas pada diri Mega. Kedekatan dan bantuan-bantuan yang Mega berikan dianggap memperkuat terorisme. Keluarga dan teman dekat Mega khawatir dan menganggap ia berlebihan dengan pekerjaannya yang dianggap aneh. Menurut mereka, teroris tidak perlu dibantu, karena masih banyak orang baik yang perlu bantuan.

Mega mencoba memberi gambaran sisi lain latar belakang para mantan napiter bahwa mereka terekrut kelompok ekstrem kekerasan. Jadi, bukan serta merta keinginan mereka. Mantan napiter juga korban. Mereka kehilangan keluarga, saudara, teman, pekerjaan, kekayaan, bahkan kepercayaan diri dan semangat melanjutkan hidup. Sebagian yang lain justru bisa lebih parah lagi, misalnya kehilangan anggota tubuh.

Belum lagi stigma yang melekat pada diri mantan napiter membuat beban dan tuntutan hidupnya makin berat. Apalagi yang dialami perempuan dan anak. Banyak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Anak-anak putus sekolah, terenggut masa depannya. Lantas, ketika mereka ingin memperbaiki kesalahannya, tidak ada salahnya kita membantu mereka. Memberikan kesempatan kedua dalam hidup mereka, yang sebenarnya juga tidak mudah dilakukan. Narasi-narasi kemanusiaan inilah yang membuat empati itu tumbuh sehingga masyarakat mampu melihat mantan napiter dan keluarganya dengan kacamata korban. 

 

Menjadi Teman, Merekatkan Hubungan

Selain berusaha menumbuhkan empati melalui narasi kemanusiaan di masyarakat, menjadi pendamping juga perlu memposisikan diri setara dampingannya. Misalnya Mega menggunakan gaya bahasa yang dituturkan dampingannya. Pernah saat itu Mega mendampingi anak mantan pecandu narkoba. Layaknya anak remaja ibukota pada umumnya, penggunaan “elu”, “gue” dipakai saat berbicara. Mega pun bersikap seperti teman agar tidak ada sekat yang membuat hubungan berjarak. Juga selama proses pendampingan, Mega tak enggan mengulurkan tangan terlebih dahulu, menanyakan kabar, atau sekedar menemani. Benar-benar melayani setulus hati.

“Bukan namanya pendamping jika tidak inisiatif memulai duluan. Karena orang cenderung sungkan atau malu meminta bantuan,” ujar Mega. Ia berbaur menjadi teman atau keluarga. Menjadi orang terdekat agar hubungan semakin rekat. Sehingga, segala bentuk perhatian berupa ucapan, waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi, yang Mega beri bisa memberikan kemudahan, kebahagiaan, pun kebermanfaatan bagi sesama. Membahagiakan orang lain dan memberikan manfaat membuat hidup Mega lebih berarti.  

 

Pemberdayaan: Melampaui Dukungan Materi

Setiap kali datang bantuan bagi mantan napiter dan keluarganya, bentuknya selalu materi. Pernah suatu hari Mega mendatangi rumah salah satu keluarga mantan napiter. Setelah memperkenalkan diri sebagai pendamping, tanggapan yang Mega dapatkan justru membuatnya kaget. “Oh, mau ngasih uang ya bu?”. Dukungan yang seringkali diberikan memang sebatas materi. Namun, uang tentu saja bukan solusi setiap persoalan karena ketika dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari, uang akan habis. Oleh karenanya, alih-alih sekedar memberikan bantuan berupa uang, Mega justru melakukan pemberdayaan kepada istri mantan napiter.

Melihat di sekitar rumah tidak ada yang berjualan sarapan, Mega mengusulkan istri para mantan untuk menjual menu sarapan ke tetangga-tetangga atau dijajakan di depan rumah. Ia berinisiatif mengadakan pelatihan membuat panganan kecil. Tidak harus mengeluarkan banyak modal, seberapapun modal yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk membuka usaha agar menghasilkan perputaran uang. Sehingga, istri para mantan bisa lebih berdaya dan lebih percaya diri untuk bersosialisasi di masyarakat. Hal sama juga Mega lakukan saat melakukan pemberdayaan ekonomi melalui keripik pisang untuk mencegah menguatnya isu radikalisme dan ekstremisme pada perempuan dan anak. Ketika dihadapkan dengan kegiatan, mereka akan fokus mengerjakannya tanpa berusaha memikirkan hal lain yang sebetulnya tidak bermanfaat sama sekali. 

 

(bersambung)

***

Tulisan Yuyun Khairun Nisa dan Mega Priyanti selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top