Tafsir Keagamaan Progresif: Salah Satu Senjata Mencegah Ekstremisme Kekerasan

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Tafsir Keagamaan Progresif: Salah Satu Senjata Mencegah Ekstremisme Kekerasan

Tulisan ini berangkat dari refleksi atas penelitian tesis saya yang berjudul Program Kontra Ekstremisme Kekerasan di Indonesia Berbasis Pendekatan Humanistis dan Keagamaan Islam (Studi Kasus Division for Applied Social Psychology Research dan Civil Society Against Violent Extremism) yang saya selesaikan pada tahun 2023.

Di tengah upaya memutus rantai radikalisme dan ekstremisme kekerasan, narasi keagamaan Islam memainkan peran penting. Alih-alih mengedepankan pendekatan keras, lembaga seperti DASPR (Division for Applied Social Psychology Research) memilih jalan dialog, tafsir alternatif, dan pengalaman nyata mantan pelaku teror. Tujuannya sederhana namun mendasar: mengembalikan makna agama pada jalur damai, kooperatif, dan relevan dengan konteks Indonesia. 

 

Dari Penjara: Bicara tentang Syariat dan Demokrasi

Salah satu bentuk intervensi dilakukan adalah In Prison Re-Education Program. Di dalam ruang kelas kecil penjara, materi bertema “Memperjuangkan Syariat Islam di Era Demokrasi (Counter Takfiri)” disampaikan kepada para narapidana terorisme. Topik yang diangkat mulai dari hakikat hidup, kebebasan beragama, hingga hubungan Islam dan negara. 

Menariknya, narasumber tidak langsung menolak pandangan para peserta. Sebaliknya, ia mengajak mereka untuk lebih dulu menyepakati hal-hal dasar: bahwa Al-Qur’an adalah pedoman, bahwa hidup adalah untuk Allah, dan bahwa Islam memandang dunia sebagai ladang akhirat. Setelah membangun kesepakatan, barulah ia masuk pada diskusi kritis tentang negara Islam dan demokrasi di Indonesia.

Pendekatan ini sengaja dirancang agar peserta tidak merasa digurui. Bahkan, ketika narapidana menolak pandangan tertentu, fasilitator menahan diri untuk tidak memaksakan. Hasilnya, forum tetap terbuka, percakapan berjalan, dan bibit berpikir kritis mulai tumbuh.

 

Jihad: Dari Kekerasan ke Ketangguhan

Program berikutnya, Family Resilience Program 2019, membawa narasi jihad ke ranah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Peserta yang sebagian besar adalah istri atau perempuan dalam keluarga napiter diberi pemahaman tentang jihad sebagai kesungguhan, bukan sekadar perang. Ayat-ayat Al-Qur’an seperti Al-Kahfi 29, Al-Kafirun 1-6, hingga Ali Imran 159 dipakai untuk menunjukkan bahwa jihad bisa berarti menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah, atau mendidik anak dengan sabar. 

Keyakinan diperkuat dengan testimoni Sofyan Tsauri, salah satu narasumber, seorang mantan napiter yang pernah terhubung dengan jaringan radikal. Ia menuturkan perjalanan keluar dari lingkaran kekerasan dan menegaskan bahwa kelompok seperti ISIS sesat layaknya Khawarij di masa lalu. Pesannya jelas: jihad sejati adalah berjuang sungguh-sungguh demi kebaikan, bukan merusak kehidupan orang lain.

 

Ibu Tangguh, Keluarga Utuh: Ketika Perempuan Sebagai Aktor Perdamaian

Dalam Program Resiliensi Keluarga: Ibu Tangguh, Keluarga Utuh, pendekatan narasi keagamaan dipadukan dengan aspek psikologis. Salah satu sesi paling emosional adalah saat Nasir Abas, mantan pimpinan Jamaah Islamiyah Mantiqi III, berbagi kisah. Ia menjelaskan makna jihad dengan cara yang berbeda: berjihad harus memenuhi syarat, dilakukan dalam komando yang sah, dan tidak boleh menimbulkan mudarat bagi umat Islam.

Selain ceramah, film dokumenter “Keluargaku Jihadku” juga menjadi alat dakwah yang efektif. Dalam film itu, salah satu istri mantan napiter menuturkan jihad versi mereka:

“[…] Jihad sendiri artinya bersungguh-sungguh, jadi jihad itu banyak macamnya, belajar dengan sungguh-sungguh itu termasuk jihad, mencari nafkah juga termasuk jihad gitu. Apapun yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh insyaAllah itu dinamakan dengan jihad. Kalo di Indonesia ini jihadnya kalo saya ini belajar, belajar yang sungguh-sungguh karena yang muda-muda gitu kan, pumpung masih muda, umur masih panjang ya.”

Kutipan lain dari seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dalam filem dokumenter juga menggugah: 

“[…] Saya berjihad untuk keluarga karena saya banting tulang untuk menghidupi keluarga yang seharusnya ini ditanggung sama kepala keluarga, suami, saya harus menanggung semuanya, mulai dari pendidikan, setiap harinya makan, ataupun yang lain, ini termasuk jihad juga menurut saya.”

Pesan yang mengalir dari film ini jelas: Indonesia adalah negeri damai, sehingga jihad dengan kekerasan tidak pantas dilakukan. 

 

Mengapa Tafsir Keagamaan atau Narasi Progresif Penting? 

Di era digital, tafsir atau narasi keagamaan adalah senjata. Ekstremis merekrut pengikut lewat cerita heroik palsu, janji surga instan, dan doktrin hitam-putih. Untuk melawan itu, kontra-narasi menjadi kunci. DASPR menunjukkan bahwa memberikan ruang dialog, menyajikan tafsir alternatif, dan menghadirkan figur otentik bisa meruntuhkan tembok ideologis sedikit demi sedikit.

Dari evaluasi, strategi ini terbukti efektif. Peserta yang semula kaku dalam pandangan keagamaan mulai lebih terbuka, lebih kritis, bahkan ada yang memilih menjadi agen perdamaian di lingkungannya. Bagi banyak perempuan peserta program, narasi agama yang lebih moderat menjadi pegangan untuk bangkit, percaya diri, dan mendampingi keluarga keluar dari lingkaran radikalisme.

Meski berhasil membuka ruang perubahan, tantangan tetap besar. Pertama, kesinambungan program masih lemah. Banyak peserta berharap kegiatan dilanjutkan, namun keterbatasan sumber daya membuat program berhenti begitu saja. Kedua, melawan narasi ekstremis di ruang digital membutuhkan strategi komunikasi baru yang lebih kreatif dan masif.

Namun, dari pengalaman DASPR, kita belajar bahwa narasi keagamaan bisa menjadi jembatan. Agama yang sering dipelintir untuk membenarkan kekerasan justru bisa menjadi solusi, ketika disampaikan dengan pendekatan yang humanis, kontekstual, dan menyentuh hati.

Tafsir atau narasi keagamaan dalam program kontra ekstremisme kekerasan membuktikan bahwa melawan ideologi radikal tidak selalu dengan senjata atau hukuman. Melalui tafsir, cerita, dan pengalaman, manusia bisa disentuh untuk melihat Islam sebagai agama yang menebar rahmat, bukan teror.

Kisah para ibu yang memilih berdagang demi anak dan mantan napiter yang berbalik arah, semuanya menunjukkan satu hal: kekuatan narasi lebih tajam dari peluru, bila digunakan untuk membangun perdamaian.

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top