Dalam kasus ekstremisme yang melibatkan laki-laki berstatus suami, perempuan yang menjadi istrinya sering kali menghadapi stigma sosial yang berat. Istri pelaku kerap dianggap ikut bertanggung jawab atas tindakan suaminya, seolah-olah mereka terlibat atau mendukung aksi tersebut. Akibatnya, mereka menjadi sasaran pengucilan, diskriminasi, bahkan pengusiran dari lingkungan masyarakat.
Asumsi ini berangkat dari pandangan bahwa pasangan suami-istri pasti saling mengetahui aktivitas satu sama lain. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam banyak kasus di Indonesia, istri pelaku justru sama sekali tidak tahu-menahu soal keterlibatan suaminya dalam aktivitas ekstremisme. Mereka bahkan bisa menjadi korban dari ketidaktahuan, manipulasi, dan tekanan sosial yang muncul pasca pengungkapan kasus tersebut.
Stigma ini juga diperparah oleh pemberitaan media yang cenderung menggeneralisasi peran perempuan dalam lingkaran ekstremisme. Perempuan yang seharusnya dipandang sebagai korban, justru diposisikan sebagai tersangka di mata masyarakat. Beban psikologis ini memperparah kondisi mental mereka, menghambat proses pemulihan, dan membuat mereka kesulitan memulai kehidupan baru pasca penangkapan atau keterlibatan suaminya dalam ekstremisme.
Erni Kurniati: Hadir untuk Merangkul dan Mendampingi
Erni Kurniati adalah sosok perempuan yang hadir mengisi celah kosong dalam isu pendampingan keluarga pelaku ekstremisme. Awalnya Erni merupakan asisten peneliti Division for Applied Social Psycology Research (DASPR). Perjalanan Erni menjadi pendamping keluarga pelaku ekstremisme bermula dari rasa penasarannya. Ia bertanya-tanya, “Mengapa sebuah keluarga bisa terlibat dalam jaringan ekstremisme? Bagaimana peran istri dan keluarga dalam hal ini? Apa yang terjadi dengan keluarga setelah suaminya ditangkap?”
Selain dorongan intelektual, motivasi Erni juga bersumber dari pengalaman pribadinya. Ia pernah merasakan kesendirian dan pengucilan dari lingkungannya. Pengalaman itu membuatnya paham betapa sulitnya melewati fase-fase berat seorang diri. Dari pengalaman tersebut, lahir empati dan tekad untuk membantu istri-istri pelaku ekstremisme yang menghadapi kondisi serupa.
Dengan tekad itu, Erni memutuskan untuk menjadi pendamping melalui program family resilience atau ketahanan keluarga. Bersama DASPR Ia mendampingi istri-istri pelaku ekstremisme agar mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi tekanan sosial dan psikologis. Lebih dari itu, Erni berupaya membantu mereka bangkit dari keterpurukan, baik secara mental, sosial, maupun ekonomi.
Tantangan Pendampingan: Membangun Kepercayaan
Mendampingi keluarga pelaku ekstremisme bukanlah tugas yang mudah. Di fase awal, Erni menghadapi kesulitan besar dalam mengumpulkan istri-istri pelaku ekstremisme. Kepercayaan menjadi tantangan utama.
Banyak istri pelaku ekstremisme yang enggan terbuka atau menerima bantuan. Mereka menganggap kehadiran Erni sebagai ancaman. Beberapa dari mereka curiga bahwa Erni adalah perwakilan dari lembaga pemerintahan atau partai politik tertentu yang bertujuan memata-matai mereka. Asumsi ini muncul akibat trauma dan ketidakpercayaan terhadap pihak luar setelah kasus suami mereka terungkap.
Untuk mengatasi tantangan ini, Erni berupaya membangun kepercayaan melalui pendekatan yang persuasif dan penuh empati. Ia tidak memaksakan bantuan, melainkan hadir dengan sikap ramah, mendengarkan cerita mereka, dan menunjukkan bahwa kehadirannya murni untuk membantu. Butuh waktu yang tidak sebentar, namun perlahan-lahan kepercayaan mulai terbentuk.
Tiga Pendekatan Pendampingan
Dalam proses pendampingan istri pelaku ekstrimisme, Erni menggunakan tiga pendekatan, yaitu psikologi, sosial ekonomi, dan ideologi.
Pertama, pendekatan psikologi. Pendekatan ini dilakukan dengan cara memberikan konseling kelompok yang memberikan ruang aman, dan nyaman bagi para istri pelaku ekstrimisme untuk berbagi pengalaman tanpa rasa takut. Privasi dijamin sepenuhnya tanpa ada rekaman, notulensi atau dokumentasi lainnya. Hal ini dilakukan untuk mendorong keterbukaan dan membantu mereka mengatasi trauma, rasa malu, dan stigma sosial.
Kedua, pendekatan sosial ekonomi. Pendekatan ini penting dilakukan karena ketika suaminya ditangkap, keluarga akan kehilangan sumber penghasilan utama sehingga keuangan keluarga akan terganggu. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan kemandirian ekonomi, dan memperkuat posisi istri sebagai penopang keluarga.
Ketiga, pendekatan ideologi. Pendekatan ini dilakukan untuk meluruskan pemahaman agama yang sempat terpapar ideologi ekstrem. Melaui diskusi dan refleksi, para istri pelaku ekstrimisme diajak memahami Islam sebagai agama yang mengedepankan kasih sayang dan perdamaian.
Dari pendekatan dan strategi yang dilakukan Erni, kita bisa belajar bahwa pendampingan kepada istri pelaku ekstremisme membutuhkan lebih dari sekadar bantuan ekonomi. Lebih dari itu mereka membutuhkan pemulihan psikososial guna membantu memberikan dukungan emosional, pemulihan kepercayaan diri, dan penguatan hubungan sosial.
Melalui pendekatan psikologi, sosial ekonomi, dan ideologi, ia berhasil memberdayakan para istri pelaku ekstrimisme yang kerap dipinggirkan oleh masyarakat. Usahanya dalam membangun kepercayaan, menciptakan ruang aman, dan memperkuat kemandirian keluarga merupakan langkah penting menuju ketahanan keluarga yang lebih kuat. Dengan model pendampingan ini, Erni tidak hanya membantu para istri untuk bangkit dari keterpurukan, tetapi juga menginspirasi gerakan pemberdayaan perempuan yang lebih luas di tengah upaya pencegahan ekstremisme di Indonesia.





