Oleh: Rinrin Rianti
Kekerasan ekstremisme menjadi salah satu tantangan besar bagi masyarakat global saat ini. Dalam konteks ini, peran perempuan sering kali diabaikan, padahal mereka memiliki potensi yang sangat besar dalam ekstremisme.
Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam pencegahan ekstremisme, baik ditingkat keluarga maupun komunitas. Dalam konteks ini, perempuan tidak hanya sebagai korban dari kekerasan ekstremisme, tetapi juga sebagai agen perubahan yang aktif.
Dengan pendekatan yang tepat, perempuan dapat menjadi penggerak utama dalam menciptakan masyarakat yang lebih aman dan toleran.
Perempuan memainkan peran penting dalam menciptakan perdamaian melalui berbagai cara, mulai dari mediasi konflik hingga penyediaan bantuan kemanusiaan. Insting keibuan mereka sering kali mendorong pendekatan yang lebih inklusif dan dialogisdalam penyelesaian masalah.
Misalnya, gerakan Women Wage Peace di Timur Tengah menunjukkan bagaimana perempuan dalam dapat bersatu untuk mencapai solusi damai. Selain itu, keterlibatan perempuan dalam misi penjaga perdamaian, seperti yang dilakukan oleh Letnan Kolonel Ratih Pusporini, membuktikan bahwa mereka dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam konteks keamanan dan perdamaian global.
Perempuan sering kali menjadi penjaga nilai-nilai moral dan budaya dalam lingkungan keluarga. Dalam lingkungan keluarga, perempuan menjadi pondasi nilai-nilai moral dan keagamaan. Dengan menanamkan nilai-nilai toleransi, kasih sayang, dan saling menghormati sejak usia dini.
Mereka memiliki kemampuan untuk mendidik anak-anak tentang pentingnya toleransi, empati, dan perdamaian. Melalui interaksi sehari-hari, perempuan dapat membentengi generasi muda dari ideologi radikal yang dapat mengarah pada ekstremisme.
Inisiatif Pemberdayaan Perempuan di Indonesia
Berbagai inisiatif telah diluncurkan untuk memberdayakan perempuan dalam pencegahan ekstremisme seperti program Women’s Participation for Inclusive Society (WISE) oleh Wahid Foundation. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas perempuan di tingkat lokal agar mereka dapat berkontribusi dan mempromosikan perdamaian dan toleransi.
Selain itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga menekankan pentingnya pengarusutamaan gender dalam Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ektremisme (RAN PE). Program ini melibatkan perempuan dalam berbagai kegiatan penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan, termasuk pelatihan keterampilan dan pendidikan tentang bahaya radikalisasi.
Salah satu inisiatif sukses lainnya dalam pencegahan ekstremisme di Indonesia adalah program Sekolah Perempuan untuk Perdamaian yang dijalankan oleh AMAN Indonesia. Program ini bertujuan untuk memberdayakan perempuan di tujuh provinsi, termasuk Aceh, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.
Dalam program ini, perempuan dilatih untuk menjadi agen perdamaian di komunitas mereka. Mereka mendapatkan pendidikan tentang nilai-nilai toleransi, keterampilan komunikasi, dan teknik mediasi konflik.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya belajar cara mencegah radikalisasi tetapi juga berperan aktif dalam membangun dialog antaragama dan memperkuat solidaritas sosial. Hasilnya, banyak peserta yang berhasil menciptakan jaringan dukungan dikomunitas mereka, dan membantu mengurangi potensi radikalisasi di kalangan generasi muda.
Keterlibatan Perempuan dalam Komunitas
Tidak hanya dilingkungan keluarga, perempuan juga memiliki peran penting dalam masyarakat. Di tingkat komunitas, perempuan sering kali terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang mendorong kerukunan antar warga. Mereka memiliki kemampuan untuk membangun jaringan sosial yang kuat dan menciptakan ruang untuk diskusi kontruktif tentang isu-isu sensitif, termasuk ekstremisme.
Mereka aktif dalam berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Melalui jaringan sosial yang luas, perempuan dapat menjadi agen perubahan yang menginspirasi.
Mereka mampu membangun kesadaran masyarakat akan bahaya ekstremisme dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama melawannya.
Melalui pengarusutamaan gender, pemerintah Indonesia sudah seharusnya memastikan perempuan terlibat dalam pengambilan keputusan di berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Keterlibatan perempuan dalam kebijakan nasional di Indonesia melalui 30% keterwakilan di parlemen, yang diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang pemilu.
Meskipun tantangan seperti gender dan diskriminasi masih ada, upaya untuk memberdayakan perempuan dan meningkatkan partisipasi mereka dalam kebijakan publik harus terus dilakukan untuk mencapai kesetaraan gender dan pembangunan inklusif.
Kepekaan Sosial Perempuan
Di sisi lain, perempuan memiliki kepekaan sosial yang tinggi, di mana, perempuan mampu mendeteksi tanda-tanda awal radikalisasi pada anggota keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar.
Dengan kepekaan ini, perempuan dapat memberikan pertolongan pertama dengan cara mengajak mereka berdiskusi, memberikan dukungan emosional, atau bahkan melaporkan pihak berwenang jika diperlukan.
Dalam konteks pencegahan ekstremisme, perempuan tidak hanya menjadi korban tetapi juga menjadi agen perubahan. Mereka memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi suara rasional di tengah gempuran narasi-narasi kebencian.
Perempuan juga dapat menjadi jembatan penghubung antara kelompok yang berbeda, membangun dialog, dan mencari solusi bersama. Namun, untuk dapat menjalankan peran ini secara optimal, perempuan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.
Pemerintah, masyarakat sipil, dan lembaga agama perlu memberikan ruang dan kesempatan bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan ekstremisme. Pendidikan dan pelatihan yang relevan juga sangat penting untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam menghadapi tantangan radikalisme.
Menurut catatan SinPo.id, saat ini lebih dari 600 juta perempuan dan anak perempuan terpengaruh oleh perang, dengan jumlah perempuan yang terbunuh dalam konflik meningkat dua kali lipat pada tahun 2023. Contohnya dalam konflik di Gaza, hampir 70% korban tewas adalah perempuan dan anak-anak, dengan lebih dari 10.000 perempuan dilaporkan tewas.
Dalam rehabilitasi pasca-konflik, perempuan berperan penting sebagai pemimpin komunitas dan penyedia dukungan emosional. Mereka sering terlibat dalam program-program pemulihan yang fokus pada kesehatan mental dan pendidikan untuk anak-anak.
Misalnya, organisasi seperti Oxfam mendukung perempuan dalam memimpin rumah tangga dan menyediakan layanan kesehatan bagi keluarga mereka di tengah krisis. Peran ini sangat penting dalam membantu masyarakat yang hancur akibat konflik untuk pulih dan membangun kembali kehidupan dengan harapan dan kekuatan baru.
Kesimpulan
Perempuan memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam pencegahan ekstremisme. Dengan memberdayakan mereka melalui pendidikan, pelatihan, dan dukungan kebijakan, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih aman dan harmonis.
Maka dari itu, mari kita dukung inisiatif yang memberdayakan perempuan untuk bersama-sama mencegah ekstremisme dan membangun masa depan yang lebih baik.





