Oleh : Miranti
Menyayangi anak adalah prioritas semua orang tua. Memberikan tempat tinggal yang aman, makanan bergizi, dan pendidikan yang baik adalah fondasi yang sering dianggap cukup untuk membangun masa depan anak. Namun, kemajuan teknologi yang begitu pesat saat ini perlahan-lahan dapat mencemari nilai-nilai dasar yang telah ditanamkan oleh orangtua.
Psikolog anak dan remaja, Arijani Lasmawati, menjelaskan pentingnya pendekatan berbasis usia dalam membangun rasa percaya (basic trust) pada anak. “Dari 0 sampai 7 tahun, kita perlakukan anak kita itu seperti raja. Apa saja yang menjadi kebutuhan yang dia perlukan, segera harus dipenuhi. Konteks raja di sini bukan berarti kalau minta handphone dikasih, itu bukan ya. Ini menyangkut kebutuhan dasar dia, kebutuhan rasa dicintai, rasa aman, kebutuhan fisik. Seketika, karena itu akan membangun basic trust-nya yang saya terikat tadi, anak menjadi percaya,” katanya. Namun, ketika anak menginjak usia remaja, pengaruh lingkungan semakin luas, termasuk kelompok-kelompok atau reference group. “Nah, maka perlunya orang tua itu punya rule yang jelas. Yang pertama, ketika menegakkan aturan. Ini saya berbicara di ranah anak yang tinggal dengan orang tua sehari-hari ya,” tambahnya.
Perempuan, khususnya ibu, memiliki peran strategis dalam membentengi keluarga dari pengaruh radikalisme dan terorisme sejak usia dini. Ibu adalah duta damai yang mampu menanamkan nilai-nilai toleransi dan kasih sayang. Dalam konteks ini, pencegahan menjadi kunci untuk melindungi generasi muda dari bahaya radikalisme dan intoleransi.
Kisah Inspiratif Bunda Indah
Salah satu sosok inspiratif dalam upaya pencegahan ini adalah Bunda Indah, seorang aktivis yang lahir dan besar di Medan. Ia mendirikan Yayasan Bunda dan Majelis Taklim Halimah pada 1 Desember 2019 untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam mengatasi kemiskinan dan memberikan pendidikan keluarga. Melalui yayasan ini, Bunda Indah berupaya membangun harmoni antara orang tua dan anak sebagai langkah awal mencegah radikalisme.
“Saya sejak kecil sudah merasakan susah dan berteman juga dengan orang-orang susah. Makanya saya tahu bagaimana merasakan kepahitan hidup, itulah yang mendorong saya hingga sekarang harus menjadi seseorang yang berdaya,” ungkapnya dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Mardono Salim TV. Pengalaman hidup yang penuh tantangan menjadi motivasi bagi Bunda indah untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat yang damai dan toleran.
Strategi Pencegahan di Tingkat Keluarga
Melalui Majelis Taklim Halimah, Bunda indah menyebarkan perdamaian dan kerukunan di komunitasnya. Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak. Dengan menciptakan suasana yang nyaman dan penuh kasih sayang, anak-anak akan lebih terbuka untuk berbagi pikiran dan perasaan. Hal ini akan mempermudah orang tua mendeteksi pengaruh negatif sejak dini.
Bunda Indah juga mendorong para orang tua untuk mewaspadai aktivitas anak di media sosial. “Akses ke situs yang menyebarkan ujaran kebencian atau paham eksremisme harus diawasi dengan cermat,” tegasnya. Selain itu, ia mengajarkan pentingnya memberikan pemahaman agama yang moderat dan nilai-nilai toleransi kepada anak-anak. Langkah ini bertujuan untuk membangun fondasi moral yang kuat sehingga anak tidak mudah terpengaruh oleh idelogi yang merusak.
“Perempuan memiliki peran penting dalam mencegah ekstremisme dengan membangun nilai-nilai toleransi dan kasih sayang dalam keluarga. Dengan mendidik anak-anak kita untuk menghargai perbedaan dan berkomunikasi secara terbuka, kita dapat menciptakan generasi yang lebih baik dan aman,” ujar Bunda Indah.
Menjadikan Keluarga sebagai Pondasi Perdamaian
Bunda Indah memainkan peran penting dalam pencegahan radikalisme melalui berbagai strategi, seperti mendidik keluarga, melakukan deteksi dini, memberikan pendidikan agama yang moderat, dan menyebarkan pesan perdamaian melalui ruang diskusi di majelis taklim.
Melalui pendidikan keluarga, Bunda Indah menegaskan pentingnya kontribusi orang tua dalam membentuk karakter anak. Orang tua dapat menjadi benteng utama dalam melindungi anak-anak dari paham radikalisme. Dengan menciptakan lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang, membangun komunikasi yang terbuka, dan menanamkan nilai saling menghargai, kita dapat membantu membentuk generasi yang lebih toleran.





