Aku bersiap pergi dari titik temu dengan dua orang tim lainnya menuju sebuah kawasan. Berjalan menyusuri tempat yang penuh aneka sampah yang akan ditimbang. Terlihat gerobak bersandar dengan kardus-kardus memenuhi ruangnya. Hatiku menjerit, inikah tempatnya?! Aku membayangkan lingkungan dengan tata letak kota rapih. Tak kusangka aku sedang berjalan di wilayah yang jauh dari imajinasiku yang tinggal di perkampungan. Rumah-rumah berdempetan. Ada keluarga narapidana terorisme yang akan aku temui, yang tinggal di rumah semi permanen dan tidak permanen.
Aku mendesah panjang. Duduk berdempetan di tempat yang sama di mana ibu ini juga tidur beserta anak-anaknya. Anak-anaknya tersenyum senang kepadaku dan kedua rekanku. Mereka dengan tersipu malu menceritakan keinginan mereka untuk ikut kegiatan kami lagi di hotel. Raut muka yang berbinar dan tatapan lugu anak-anak membuatku ikut merasakan kebahagiaan mereka. Mereka bercerita senang saat bisa keluar bersama ibu mereka menikmati fasilitas hotel seperti kolam renang, dan berkunjung ke tempat wisata.
Berjalan ke kota lain, suasana layaknya perkampungan. Tak jauh dari kehidupanku yang bukan dari kota ini. Aku melihat anak-anak sekolah, bermain, dan pulang menagih kehangatan keluarga. Kehadiranku dan rekanku disambut hangat selain oleh para istri juga oleh anak-anak mereka. Bukan satu atau dua tapi hampir semua anak yang mengikuti kegiatan kami terlihat antusias dengan kehadiran kami. Mereka berharap bisa diajak lagi ke luar rumah untuk menikmati tempat wisata atau hanya sekedar berkumpul di ruangan yang telah disediakan sambil bermain atau menonton.
Aku sadar, keluarga narapidana terorisme tak ada bedanya dengan keluarga lainnya. Mereka tinggal dan menghirup udara yang sama. Lalu, apa yang membuat mereka berbeda? Apa inti dari semua ini? Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dari mereka dalam sesi pelatihan yang mereka ikuti atau yang mereka lontarkan secara pribadi padaku juga terkait persoalan keluarga sehari-hari di Indonesia. Hampir semua keluarga tampak resah dengan persoalan anak dengan gawai, pendidikannya, pertemanannya, dan seterusnya yang terkait kekhawatiran orang tua pada umumnya; kondisi psikologis mereka sendiri seperti marah, sedih, kecewa, jengkel, senang, dan seterusnya dalam merespons situasi keluarga, pertemanan, pekerjaan, maupun hubungan dengan pasangan; kondisi ekonomi yang tidak stabil dan kebutuhan-kebutuhan pokok untuk bisa hidup; dan pengalaman pribadi atau orang lain terkait kekerasan dalam rumah tangga dan seterusnya.
Aku melihat ideologi bukan satu-satunya masalah mereka. Bukan hanya kewajiban kementrian atau lembaga tertentu yang menangani isu ekstremisme kekerasan, tapi semua sektor ternyata perlu menyentuhnya. Layaknya aku sebagai manusia yang ingin diperlakukan baik, mereka pun begitu. Keluarga mana pun begitu. Aku pernah mengalami masa tidak punya uang bahkan untuk sekedar makan nasi di warung Tegal, pernah mengalami emosi yang meledak-ledak karena tidak mendapat kebutuhan psikologis seperti dicintai dan dihargai, dan pernah mengalami kegagalan dalam banyak hal seperti cinta maupun karir. Aku pernah mengalaminya, dan siapa pun yang pernah mengalami masalah hidup yang ia tak mampu tangani, akan lari. Salah satu pelarian itu adalah tindakan yang merugikan dirinya, keluarganya, dan orang lain. Kemudian, pada akhirnya ada satu titik, bagi mereka yang memilih melakukan atau membenarkan tindakan kekerasan pada orang lain yang berbeda untuk membela ideologi yang dipegang.
Tantangan dan Mempertahankan Kualitas Hidup sebagai Pekerja Sosial
Aku masih belum memiliki pasangan. Aku masih dewasa muda, di bawah 30 tahun. Aku mulai mendampingi dan meleburkan diri dengan para istri, ibu, anak perempuan, maupun saudara perempuan dari keluarga khusus di usia 20-an. Bahkan, aku bukan dari jurusan psikologi, ilmu kesejahteraan sosial, atau ilmu yang mempersiapkan aku untuk menjadi seorang pendamping/pekerja sosial. Aku bukan dari keluarga kaya, bahkan setiap hari aku harus berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan pokok hidup seperti makan, transportasi, keluargaku di kampung, dan pendidikanku. Aku, seorang individu, dengan masalah psikologi dan sosialku sendiri.
Selain bekerja, aku juga mahasiswa paska sarjana. Aku belajar menjadi peneliti dan mengembangkan sebuah program intervensi sosial/kegiatan sosial. Tapi, aku suka. Melanjutkan studi Kajian Islam dengan konsentrasi Sosiologi dan Antropologi Agama, serta membahas ekstremisme kekerasan dalam tesisku adalah bagian usahaku untuk tidak menyerah dengan tantangan sebagai pekerja sosial/pendamping. Alasan masih belum berumah tangga bukanlah alasan meninggalkan pekerjaan ini. Cerita-cerita dan permasalahan keluarga membuatku setingkat lebih bijak.
Di luar tugas-tugas kampus aku juga mengerjakan setumpuk laporan dan kegiatan sehingga harus belajar manajemen waktu. Aku juga rutin ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter jiwa dan psikolog. Bahkan, aku sempat menjauh dari rutinitas pekerjaan dan fokus dalam proses pemulihan diri di pulau lain.
Membantu orang lain itu penting. Tapi membantu diri sendiri untuk hidup sehat secara jasmani dan rohani itu jauh lebih penting. Tak jarang aku menuangkan emosi-emosi negatif ke dalam air mata maupun tulisan. Hal ini akibat seringnya mendengar masalah orang lain dan memikirkan intervensi apa yang perlu aku diskusikan dengan tim. Beruntung aku memiliki kesadaran diri untuk pergi ke psikolog atau orang dewasa lainnya yang bisa aku ajak diskusi terkait permasalahan keluarga. Pengetahuanku juga bertambah terkait keluarga dan mencintai diri sendiri dari buku, artikel online, podcast, seminar, maupun video edukasi.
(bersambung)
***
Tulisan Erni Kurniati selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





