Perempuan Berdaya: Pekerja Sosial dan Keluarga (Bagian 2)

Niat  jadi Peneliti dan Pekerja Sosial serta Kesempatan Kedua 

Tuhan, aku ingin menjadi pelayan-Mu dan mencintai-Mu. Hal itulah yang aku tanamkan pada diriku sejak kecil. Mendekat pada Sang Pencipta, menangis, mengadu dan memohon kehadiran-Nya di dalam hidup seorang anak yang bahkan belum 10 tahun. Perjalanan spiritualku sejak kecil membuat aku tertarik menjadi relawan literasi bahkan ikut mendirikan  taman baca di dekat tempat tinggalku. Seorang AKU mengawali ide pada dunianya dengan tidak ingin ada anak kecil yang merasakan hal serupa yang ia alami dulu, seperti kekerasan dalam lingkungan keluarga; kurangnya penegasan cinta orang tua; perlakuan tidak menyenangkan karena kulitku gelap, hidung tidak mancung, dan bibir tebal di lingkungan sekolah atau tempat tinggal (bullying fisik dan verbal); juga kekerasan seksual.

Perempuan Berdaya: Pekerja Sosial dan Keluarga (Bagian 2)

Aku tidak memiliki tempat bercerita atau tempat “aman” untuk sekedar mengatakan “aku tidak baik-baik saja”. Keinginan bunuh diri terus meliputi isi kepalaku bahkan percobaan pernah aku lakukan. Tak pernah ada satu malam pun tanpa mimpi buruk bahkan bangun dengan kengerian anak yang takut “neraka”. Tak pernah terpikirkan ingin cepat dewasa. Ingin lari dari rasa “tidak aman” di tempat aku dilahirkan. Belajar agama dan menelannya mentah-mentah, tanpa disaring pengetahuan dan wawasan cukup, melahirkan “aku” sebagai remaja yang mudah menghakimi orang lain. Aku merasa paling benar dan orang lain yang berbeda dengan apa yang aku pelajari itu salah dan pasti masuk neraka.

Mengulur jilbab sepanjang yang aku bisa, mengganti pakaian dari tahun ke tahun menjadi lebih tertutup, menjadi pilihanku saat itu. Keinginan keras masuk pesantren menjadi alternatif bagiku untuk lari dari kesepian, kesedihan, rasa bersalah, dan amarahku terhadap tidak bergunanya hidupku dan kekacauan hidup yang aku rasakan. Alih-alih menjadi lebih baik, semakin hari pemikiranku semakin keras terhadap orang lain yang berbeda pandangan. Ini kafir, ini haram, dan seterusnya adalah hal lain yang mengisi hari-hari remajaku. Bahkan sempat terlintas ingin menjadi suicide bomber di negeri Timur Tengah yang terinspirasi dari sebuah novel. Semua ini tidak terlepaskan dari emosiku yang tidak bahagia menjalani hidup ini. Berpakaian tertutup, dan menjalani pendidikan pesantren, bukan hal yang harus dikhawatirkan, bahkan itu adalah pengalaman luar biasa bagiku dan bermanfaat. Yang dikhawatirkan dariku “sekarang” adalah aku yang “dulu” sempat tergoda mengamini kekerasan atas nama agama.

Alih-alih mendapatkan ketenangan, aku malah mendapat banyak masalah. Mulai dari keluarga hingga kesempitan pemikiranku sendiri. Ah itu dia, aku mulai berpikir lagi dan mencari jawaban dari kegelisahan. Aku menjerit “aku tidak bahagia!” Berpikir kritis terhadap sesuatu dan memiliki kesenangan membaca dan belajar adalah satu dari banyak hal yang menolongku keluar dari belenggu ketidakdamaian. Aku mengalami fase hidup yang mempertanyakan diriku kembali, “apakah ini yang Tuhan inginkan?”. Aku tahu, Sang Kuasa mencintaiku, lalu apa gerangan yang membuatku tidak bahagia dan bahkan mengalami gangguan psikologis yang perlu ditangani secara profesional.

Aku punya mimpi keluar dari kesengsaraan finansial dan emosi. Aku ingin bahagia. Aku ingin bermimpi dan menjadikannya nyata. Aku ingin menjadi seorang ilmuwan dan hamba yang melayani, berbuat kebaikan untuk umat manusia. Tak disangka takdir mengamini. Aku mulai karirku dengan magang sebagai asisten peneliti di kampus di mana aku belajar sampai S1. Setelah lulus, aku depresi berat. Beban psikologis akibat kejadian masa lalu yang belum selesai muncul begitu hebohnya dalam emosi maupun gangguan fisik seperti tidak tidur, sakit maag, kecemasan dan lain-lain. Aku terus mencari peluang di mana aku bisa berkarir sambil tetap bisa berbuat baik dan bermanfaat serta mencari apa yang aku inginkan dalam hidup ini.

Takdir membawaku pada sebuah lembaga riset dan sosial non pemerintah di Jakarta, yang sempat menolakku saat aku melamar sebagai pemagang asisten peneliti. Tiba-tiba pada hari itu, ketika aku sedang di sebuah desa adat, aku mendapat email tentang peserta magang yang mengundurkan diri dan aku menerima kesempatan menggantikannya. Proses penyadaran diri bahwa aku tidak baik-baik saja mulai terjadi setelah masa magang dan aku menjadi asisten peneliti di tempat sama. Dengan berat hati, akhirnya untuk pertama kalinya aku ke rumah sakit jiwa, bertemu dokter jiwa. Kesadaran membutuhkan orang lain menjadi awal kehidupanku yang lebih baik.

Bagian pekerjaan yang tak terelakkan adalah bertemu dan terus berlanjut menjadi teman para istri, anak, ibu, dan adik perempuan dari sebuah keluarga yang mengalami kejadian khusus. Menjadi seorang “pendamping” atau “pekerja sosial” mempercepat proses kesadaranku untuk menjadi lebih baik. Pengalaman dan cerita para keluarga alami itu berkorelasi dengan masa laluku, sehingga aku bisa mengerti dan menyadari keragaman sudut pandang dalam hidup.

Aku memiliki kemampuan dan daya tahan cukup sebagai modal menjadi manusia yang lebih baik, walau isu sosial tak pernah habis. Setiap manusia berhak mendapat kesempatan kedua menjadi lebih baik, bahkan ketiga dan seterusnya. Manusia selalu memiliki harapan untuk mengubah takdirnya.

Tak pernah terbayangkan, niatku ke laut  mendapat ikan agar bisa makan, tapi aku malah mendapat kesempatan juga  melihat keindahan karang dan makhluk laut lainnya. Niatku  mencapai mimpi sebagai ilmuwan dan peneliti sosial, namun  aku juga mendapat kesempatan menerapkan pengetahuan ke dalam sebuah intervensi sosial. Tak pernah aku bayangkan manfaatnya juga ternyata panjang. Hingga empat tahun lebih, aku dapat melihat perubahan paling menyentuh dan sulit didapatkan yaitu kesadaran diri. Kesadaran diri para istri atau anggota perempuan keluarga napiter / mantan napiter untuk hidup lebih baik, lebih terbuka dan toleran terhadap perbedaan, dan lebih berdaya sebagai perempuan yang bisa bersuara untuk kebutuhannya — suatu kemajuan dan kesempatan meraih kehidupan yang lebih aman dan nyaman.

Bagiku, dengan pengalaman hidupku, kesadaran diri dapat membuka pintu-pintu kesempatan hidup yang lebih bahagia dan lebih mendekatkan diri kita pada sumber-sumber tak terbatas. Tak pernah aku sangka, aku bisa terbang ke luar negeri dan bertemu orang-orang yang aku anggap hebat di bidangnya. Hal ini dikarenakan kesadaran diriku yang ingin hidup lebih baik dan bermanfaat dengan cara-cara yang tidak menyakiti orang lain apalagi menyakiti diri sendiri. Kesadaran diri membuka pintu rezeki. Rezeki dalam benakku bukan hanya bentuk uang, tapi bentuk hubungan sehat, tubuh yang lebih sehat, peluang pekerjaan, dan sumber-sumber pengetahuan yang luas tak terbatas dari bacaan, interaksi, bahkan proses berpikir.

 

(bersambung)

***

Tulisan Erni Kurniati selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc    

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top