Selintas Keluarga yang Terlibat Kasus Terorisme
Terusir — ia, seorang istri narapidana terorisme yang terusir dari komunitasnya di mana ia dulu tinggal bersama suami dan anak-anaknya. Bukan satu saja yang aku temui seperti ini. Ada istri-istri lain yang juga diusir/mengusir diri dari lingkungan tempat mereka tinggal karena takut stigma atau cap pada mereka. Orang-orang mengumpat istri-istri narapidana terorisme, menggunjingi mereka, dan bahkan sinis karena suami-suami mereka ditangkap polisi.
Aku duduk diam. Aku coba fokus pada informasi yang aku terima dan tubuh ini juga ikut kaku, lemas tak berdaya. Aku berusaha tetap mendengarkan dan mencerna ceritanya. Ibu ini menangis sambil mengisahkan penangkapan suaminya. Ia bertanya-tanya, “kenapa suami saya?”, “apa salah suami saya?”. Kenapa tidak ada penjelasan alasan suaminya ditangkap. Ibu ini menyeka air matanya sambil terus bercerita. Setelah ia tahu suaminya ditangkap polisi, ia langsung mengumpulkan anak-anaknya. Dari sorot matanya, jelas situasi berat yang ia lalui, tapi di sisi lain ia juga harus tetap bisa menghadapi anak-anak yang bertanya, “di mana Abi?”.
Dengan perasaan bingung dan tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya, ia juga melihat orang-orang di sekelilingnya takut dengan kehadirannya. Aku tahu bagaimana rasanya. Pasti hancur. Dengan ketangkasan dan analisanya sebagai manusia dalam situasi tidak menguntungkan, ia meningggalkan rumah bersama anak-anaknya, mencari perlindungan untuk keluarganya ke rumah kelahirannya di kota lain. Sambil terus mencari informasi terkait kasus suaminya serta alasan izin suaminya tidak masuk kantor, ia juga ke sana kemari mengurus perpindahan sekolah anak-anaknya. Ia bahkan luput memikirkan kondisi dirinya sendiri baik lahir dan batin. Ia sibuk mengurusi perpindahan sekolah anak-anaknya ke tempat lebih dekat dari tempat barunya dan memastikan anak-anaknya tidak menjadi korban bullying di sekolah, jika kasus suaminya mencuat di lingkungan sekolah anak-anaknya.
Pindah ke cerita istri narapidana terorisme lainnya di lokasi berbeda. Di tengah udara panas dan juga lelah karena perjalanan jauh, aku menyimak kisah ibu tersebut. Sebelum mulai bercerita, matanya sudah berkaca-kaca. Aku bayangkan, pasti banyak beban yang ia rasakan. Terucap, “Saya harus gimana mbak?” Dua anaknya bertanya kenapa polisi membawa Abi-nya. Kenapa Abi-nya diborgol. Anak yang masih belum SD ikut dibawa polisi dan menyaksikan penangkapan ayahnya sendiri. Ia menceritakan reaksi anaknya yang melamun dan diam setelah dipulangkan. Ada perasaan takut yang aku rasakan pada ibu ini jika anaknya bertanya tentang kejadian itu. Ketakutan menghantuinya jika anaknya suatu saat menuntut penjelasan.
Selain itu, ia menceritakan keputusannya untuk langsung pindah ke kampung halamannya sebelum berita itu menyebar dan anak-anaknya yang tak bersalah di-bully. Aku merasakan naluri seorang ibu yang ingin melindungi anak-anaknya dari bahaya. Ia juga bertanya-tanya, kenapa suaminya bisa terlibat kelompok pendukung ISIS atau Negara Islam Irak dan Suriah. Berkali-kali dalam wawancara bersamanya, aku mendengar keluhannya terkait sikap suami yang mulai berubah sejak ikut suatu pengajian (yang tidak bisa saya sebutkan). Ia mengeluhkan suaminya, yang waktunya untuk keluarga tersita sehingga berujung pada bebannya sebagai seorang ibu sekaligus pencari nafkah bagi dirinya dan anak-anak — semua akibat tindakan suami yang ia tidak ketahui sebelumnya sampai akhirnya ditangkap.
Mendengarkan cerita-cerita para istri, aku merasa ikut terbelenggu situasi para istri akibat keterlibatan suami mereka dalam kasus terorisme. Aku juga mendengar bagaimana situasi istri narapidana terorisme lainnya yang diusir dari tempat tinggal bersama anak-anak setelah suaminya ditangkap. Makian dari orang-orang sekitar, tundingan-tundingan yang menurut istri tidak benar terhadap dirinya dan keluarga. Pindah ke lokasi baru menjadi pilihan kebanyakan dipilih istri untuk menjaga anak-anaknya. Aku juga menyaksikan betapa depresinya para istri ini. Ekonomi keluarga yang sulit, menerima tudingan-tudingan sebagai keluarga teroris atau tudingan buruk lainnya, mendapatkan orang-orang menjauh dan berhati-hati terhadap dirinya, sampai mengalami kondisi psikologis yang butuh penanganan profesional — keadaan seperti ini umum di antara keluarga narapidana terorisme yang aku temui.
Tetap bertahan tinggal di lingkungan sama merupakan satu cara juga bagi beberapa istri narapidana terorisme untuk membuktikan mereka tidak terlibat dan tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Yang aku tangkap, istri hanya tahu suaminya ikut pengajian, yang tentu mereka anggap kegiatan positif. Sebagian istri juga mendapat dukungan keluarga dan tetangganya. Mereka ceritakan hal ini untuk menunjukkan bahwa sebenarnya suami mereka diajak atau ikut-ikutan saja. Tetangga dan orang-orang yang mengenalnya tak menyangka suami mereka ditangkap karena keluarga ini baik dengan tetangga dan tidak menunjukkan gejala-gejala mengucilkan diri atau tanda-tanda lainnya.
Aku melihat respons berbeda-beda yang dirasakan istri dari tetangga atau orang-orang yang tahu kasus mereka. Dari penuturan para istri, ada tetangga atau orang-orang luar lainnya juga yang memberi dukungan moral dan materil sehingga menguatkan para istri untuk tetap tegar. Ada juga orang-orang atau tetangga yang sengaja menyudutkan keluarga narapidana terorisme di akun sosial media, bahkan mengumumkannya dengan suara pengeras di masjid. Sebagai orang luar yang mengetahui situasi ini, terlepas dari tindakan suami mereka, aku melihat keluarga jelas terkena dampak ketidakstabilan ekonomi, trauma, dan gangguan fisik dan mental bahkan kesenjangan sosial, yang dialami baik istri, ibu, saudara perempuan, maupun anak-anak. Patutkah keluarga yang benar-benar tidak tahu tindakan sang bapak dihakimi sama dengan sang suami dan ayah?
(bersambung)
***
Tulisan Erni Kurniati selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





