Peran Ulama Perempuan dalam Mengembangkan Kontra-Narasi terhadap Ekstremesme

Oleh: Ahmad Nanang Firdaus

Fenomena ekstremesme dalam berbagai bentuk ideologi telah menjadi ancaman global yang semakin meresahkan, terlebih ketika ideologi tersebut mengklaim pembenaran atas nama agama. Ajaran agama yang seharusnya membawa rahmat bagi seluruh alam yang menyeru kepada kemanusiaan dan keadilan seringkali diselewengkan dengan pemahaman yang tekstual dan ekstrem yang dapat menumbuhkan bumbu-bumbu ideologi ekstrem dalam beragama dan berdakwah.

Peran Ulama Perempuan dalam Mengembangkan Kontra-Narasi terhadap Ekstremesme

Seiring dengan perkembangan teknologi, penyebaran narasi-narasi ekstrem menjadi semakin masif, memungkinkan penyebaran ideologi atau narasi-narasi tersebut menjangkau berbagai kalangan dengan cepat. Pemahaman yang sempit dan keliru terhadap teks-teks agama menjadi akar permasalahan  yang menyebabkan pemikiran ekstrem terus berkembang.

Namun, dibalik fenomena ini, kehadiran peran ulama sangat penting, karena mereka memiliki kapasitas ilmiah yang memiliki pendekatan yang inklusif, memiliki pemahaman tafsir agama yang peka gender, yang menjunjung tinggi martabat manusia tanpa mengurangi nilai-nilai agama yang luhur, termasuk perempuan yang rentan terdampak dan terlibat aktif dalam aksi ekstremesme, sehingga perlunya eksistensi ulama perempuan untuk hadir dalam pengembangan kontra-narasi terhadap ekstremesme. 

 

Tafsir agama yang inklusif dan ramah perempuan untuk melawan narasi ekstrem

Aksi dan narasi ekstremesme sering kali berakar dari pemahaman tafsir agama yang sempit. Interpretasi yang cenderung ekstrem ini biasanya dilakukan oleh individu atau pemuka agama tanpa memperhatikan konteks sosial dan perspektif yang lebih luas. Pemahaman semacam ini seringkali menafikan nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman, yang akhirnya menghasilkan interpretasi yang membenarkan tindakan ekstrem.

Dalam konteks ini, peran ulama perempuan sangat dibutuhkan. Mereka dapat menawarkan tafsir agama yang lebih inklusif, kontekstual, dan ramah perempuan. Mereka tidak hanya melihat teks-teks agama dari perspektif laki-laki yang mendominasi sejarah tafsir, tetapi juga dari sudut pandang pengalaman perempuan. Dengan demikian, mereka dapat menggali makna yang lebih dalam teks agama, membuka ruang bagi pemahaman yang mengakomodasi kebutuhan serta pengalaman perempuan.

Tafsir yang dihasilkan oleh ulama perempuan tidak hanya lebih relevan dengan konteks sosial dan budaya saat ini, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan potensi emansipasi dalam ajaran agama. Tafsir ini menjadi alat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, menentang diskriminasi, serta mempromosikan kesetaraan gender dalam masyarakat. 

Dengan demikian, tafsir yang dihasilkan oleh ulama perempuan sangat penting dalam membangun kontra-narasi terhadap ekstremesme. Mereka dapat menawarkan perspektif yang lebih menenangkan, mendamaikan, dan mendorong pemahaman agama yang tidak hanya memperjuangkan hak-hak individu, tetapi juga harmoni sosial yang lebih inklusif bagi seluruh umat manusia.

 

Peningkatan Kapasitas Ulama Perempuan sebagai Pemimpin dan Pengambil Kebijakan

Kapasitas keilmuan ulama perempuan yang inklusif dan ramah dengan pengalaman perempuan tidak cukup hanya berhenti pada kajian, dialog atau teori yang tertulis dalam berbagai media saja. Mereka perlu dilibatkan secara langsung dalam pembuatan kebijakan politik dan kepemimpinan untuk memastikan bahwa kebijakan yang diputuskan memiliki nilai kemanusiaan, moderasi beragama dan keadilan, terutama bagi perempuan yang sering kali terdampak aktivitas ekstremesme, salah satunya ekstremesme kekerasan. Oleh karena itu, penting bagi pemerintahan untuk menyediakan wadah dan memberikan kesempatan bagi ulama perempuan untuk memiliki suara yang kuat di arena politik, supaya kebijakan yang dihasilkan lebih inklusif, humanis, adil, dan bebas dari unsur ekstremesme, khususnya ekstremesme kekerasan terhadap perempuan. 

Nur Rofiah, seorang akademisi dan tokoh perempuan Muslim yang terlibat dalam anggota musyawarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) mengatakan “Perempuan harus terlibat penuh dan dilibatkan dalam seluruh proses pengambilan kebijakan”, ia menambahkan bahwa standar laki-laki tidak bisa menjadi standar tunggal, perlunya intervensi agar perempuan tetap bisa menjalankan fungsi reproduksinya, dalam dunia pemerintahan, perempuan harus diberlakukan sama dengan pengalaman yang sama, tetapi juga diperlakukan berbeda sesuai dengan pengalaman perempuan yang berbeda. 

 

Langkah-langkah Mengembangkan Kontra-Narasi terhadap Ekstremesme

Selain sebagai penghasil tafsir agama yang inklusif, moderat dan humanis, ulama perempuan dapat mengembangkan Kontra-Narasi terhadap ekstremesme, antara lain: 

  • Mensyiarkan Pesan Damai dan Tafsir Agama yang Inklusif

Ulama perempuan berperan dalam menyebarkan pesan damai dengan menggali tafsir agama yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, kedamaian, keadilan dan ramah terhadap pengalaman perempuan. Dengan pendekatan ini, mereka memperkenalkan pandangan bahwa Islam adalah agama yang menghargai hak setiap individu, tanpa terkecuali.

Ulama perempuan memberikan ruang bagi perempuan untuk lebih memahami peran mereka dalam agama dan masyarakat, sehingga dapat menghindari diri dari narasi kekerasan yang seringkali meminggirkan suara perempuan.

  • Kolaborasi dan Kerja Sama dengan Berbagai Pihak

Tantangan ekstremesme, baik di lingkungan maupun media sosial memerlukan penanganan komprehensif. Oleh karena itu, ulama perempuan tidak cukup bekerja sendirian. Kolaborasi dan kerjasama dengan berbagai pihak sangat diperlukan untuk mengembangkan kontra-narasi yang efektif dan komprehensif. 

Ulama perempuan perlu membangun kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat—mulai dari pemerintah, keluarga, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas lokal. Ulama perempuan menegaskan bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin, memastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya mengutamakan standar laki-laki, melainkan mempertimbangkan kepentingan perempuan sebagai bagian integral dari masyarakat.

  • Menciptakan Kohesi Sosial dan Ketahanan Komunitas

Menghadapi potensi aktivitas ekstremesme yang tak terbendung, memerlukan terciptanya kohesi sosial di masyarakat. Ulama perempuan memiliki peran penting untuk menyadarkan masyarakat bahwa perlunya upaya bersama untuk membangun ketahanan sosial yang berorientasi pada nilai-nilai gotong royong dan saling menghormati. Dalam konteks ini, ulama perempuan memfasilitasi dialog antar kelompok serta mendorong terciptanya ruang aman bagi semua terutama perempuan, serta memperjuangkan hak mereka untuk hidup tanpa kekerasan.

Dengan demikian, peran ulama perempuan sangat penting dalam mengembangkan kontra-narasi terhadap ekstremesme dengan tawaran tafsir agama yang inklusif dan kontekstual, dengan memberikan pendekatan yang memiliki nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan ramah bagi pengalaman perempuan. 

 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top