Menjaga Rumah Bersama: Peran Percik menghadapi Ekstremisme di Jawa Tengah (Bagian 3)

Refleksi  Perjalanan

Dari catatan di atas ada dua hal yang membuat WGWC di Jawa Tengah berjalan, yakni:

Menjaga Rumah Bersama: Peran Percik menghadapi Ekstremisme di Jawa Tengah (Bagian 3)
  • Pengarusutamaan gender: Basis perubahan di tingkat propinsi

Apa yang membedakan program WGWC dan program kami sebelumnya adalah mendorong dan memastikan perspektif gender dalam setiap tahapan program dan  kegiatan. Dalam berbagai diskusi dengan pemerintah dan terutama Gubernur, beliau juga sepakat bahwa  kami harus memastikan pengarusutamaan gender (PUG)  dalam  pencegahan dan penanggulangan ekstremisme yang  membenarkan kekerasan. Ini yang membuat Gubernur Ganjar Pranowo bersemangat mendukung inisiatif WGWC di Jawa Tengah. 

Pendekatan PUG ini dimulai dari pengakuan pengalaman perempuan. Bagaimana perempuan berperan ganda  dalam penanggulangan ekstremisme, yakni sebagai korban dan mungkin sebagai pelaku. Kompleksitas ini kami temui dalam cerita seorang ibu yang trauma ketika anaknya menjadi korban aksi kekerasan.

Anak laki-laki, sebut saja bernama Iwan, menjadi salah sasaran aksi kekerasan segerombolan anak muda. Malam itu Iwan bersama teman-teman sedang menyiapkan hajatan di kampungnya. Tiba-tiba segerombolan anak muda datang. Mereka kemudian menyerang Iwan dan teman-temannya. Mereka mengira Iwan dan teman-temannya sedang pesta miras. Padahal mereka sedang menyiapkan hajatan di kampungnya, tanpa pesta miras. Namun gerombolan itu langsung bertindak kasar, menuntut Iwan dan kawan-kawannya yang sedang bekerja untuk segera bubar sambil  memukuli Iwan dan teman-temannya. Tubuh Iwan babak belur. Ia  kemudian diantar ke rumah dan diterima ibunya. Sang ibu kaget dan menangis melihat kondisi tubuh Iwan. Pengalaman tersebut masih jelas  menyisakan trauma dan tidak mudah dilupakan sang ibu. “Kalau mengingat peristiwa itu,  saya tidak terima,“ ungkap Ibunya sambil mengusap air matanya.

Apa yang menimpa Iwan dan menyisakan trauma bagi sang ibu adalah dampak merebaknya intoleransi dan radikalisme yang ditanamkan kelompok-kelompok eksklusif di Jawa Tengah. Kelompok-kelompok eksklusif itu kerap mendiami masjid-masjid tertentu, menyebarkan ideologi kekerasan, menanamkan kebencian kepada kelompok lain yang dianggap berbeda, dan tidak segan melakukan aksi sweeping dan kekerasan sebagai bentuk penghakiman kepada kelompok yang mereka anggap keliru. Aksi kekerasan seperti cerita Iwan ini menjadi kekhawatiran besar bagaimana kami menjaga masjid sebagai rumah umat.

Dalam salah satu sesi konsultasi dengan gubernur, kami berusaha memastikan  pentingnya peraturan gubernur yang sedang disusun untuk Jawa Tengah. Melalui analisis data filosofis, yuridis dan sosiologis yang komprehensif dengan menyertakan berbagai kasus di Jawa Tengah, kami bersama kelompok masyarakat sipil lainnya, pemerintah propinsi dan berbagai aktor dan tokoh di Jawa Tengah melakukan seri diskusi jagongan atau obrolan santai guna mendeteksi kejadian dan mengumpulkan pengalaman dan inventarisasi kegiatan guna mengatasi kekerasan berbasis ekstremisme di Jawa Tengah.

Dalam berbagai forum, kami menyampaikan misi bersama yaitu menjadikan Jawa Tengah rumah bersama. Rumah masa depan yang memastikan anak cucu hidup aman dan terpenuhi hak-haknya. Tumbuh dan berkembang dalam pelukan orang tua. Pengalaman kerusuhan tahun 1998 di jantung propinsi ini menjadi pembelajaran berharga, bahwa keamanan tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif warganya dari semua kategori umur.

 

  • Kunci: Kerjasama dengan Tokoh Lokal dan Dialog Budaya

Kisah-kisah di atas merupakan sepenggal perjalanan yang memberikan pengalaman luar biasa bagi lembaga kami. Bertemu orang-orang yang yang tidak sekedar menjalankan tugas pekerjaan, aktivitas, atau menyelesaikan program, lalu selesai. Kami menemukan orang-orang yang bekerja tulus, lebih karena panggilan hati untuk mempersembahkan yang terbaik dari apa yang bisa diberikan. Memang tidak selalu mudah. Butuh tenaga ekstra, pikiran jernih serta niat tulus. Demikian juga jalan di depan  tidak selalu mulus, terkadang sedikit berliku. Namun akhirnya terbuka jalan di mana kami bisa terus melangkah.

Salah satu upaya kami adalah menyelenggarakan diskusi dengan mengundang pihak-pihak berkepentingan untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, serta saling memberi inspirasi. Agendanya  termasuk sharing berbagi inisiatif baik di tingkat komunitas maupun lebih luas dalam menanggapi dan mengelola persoalan kekerasan ekstrem atas nama agama. Perencanaan kegiatan ini berupaya melibatkan banyak pihak dan menampung masukan agar bisa berjalan baik. Kami mulai dengan pertemuan tim kecil yang sekiranya dapat memberikan wawasan dan saran mengenai bentuk acara dan siapa sebaiknya yang diundang, hingga perencanaan relatif matang dan kami pun tinggal menyelenggarakan acaranya, walau terkadang masih ada tantangan.

Suatu ketika kami menyelenggarakan diskusi dengan mengundang pemangku kepentingan seperti pemerintahan tingkat kota, sejumlah lurah, kepolisian, tokoh keagamaan, tokoh perempuan, serta tokoh pemuda. Awalnya lancar. Namun di tengah acara seorang lurah memutuskan tidak melanjutkan diskusi dan meninggalkan ruangan. Suasana sedikit tegang namun akhirnya bisa diatasi dan diskusi dapat dilanjutkan. Belakangan kami tahu ada sebagian anggota masyarakat yang kurang setuju dengan topik diskusi yang kami angkat. 

 

(bersambung)

***

Tulisan Haryani Saptaningtyas dan C. Dwi Wuryaningsih selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top