Oleh: Siti Robiah
Ekstremisme kekerasan adalah masalah kompleks yang masih menjadi momok menakutkan tidak hanya di Indonesia namun di seluruh dunia.The Global Counterterrorism Forum (GCTF): GCTF mendefinisikan ekstremisme kekerasan sebagai “ideologi yang membenarkan atau mendorong penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan politik atau sosial.”
Bentuk-bentuk dari ekstremisme kekerasan sangatlah beragam mulai dari tindakan terorisme berupa bom bunuh diri, serangan ke rumah ibadah, aparat keamanan dan fasilitas umum. Belum lagi radikalisme dan ujaran kebencian yang menargetkan komunitas, agama atau gender tertentu yang masih sering kita temui baik dilakukan secara langsung atau melalui platform media sosial.
Di Indonesia sendiri, menurut laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI menemukan sebanyak 2.670 konten digital bermuatan radikalisme dan terorisme sepanjang tahun 2023. Sungguh fakta yang sangat ironis memang.
Pentingnya peran perempuan dalam upaya pencegahan ekstremisme kekerasan
Lalu bagaimana solusi agar ekstremisme kekerasan tidak semakin berlanjut? Salah satunya adalah dengan merumuskan kebijakan yang inklusif yang melibatkan banyak pihak yang efektif dan inklusif dari tingkat lokal, nasional regional maupun global. Terutama dengan memperhatikan keterlibatan perempuan dalam setiap langkah-langkah yang akan ditempuh.
Perempuan dalam konteks pencegahan ekstrimisme punya peranan yang sangat krusial. Ini bukan hanya tentang memperbanyak jumlah perempuan dalam proses pengambilan keputusan, tetapi juga tentang bagaimana mengakui dan memanfaatkan perspektif dan pengalaman unik yang dapat mereka bagikan dalam setiap perumusan kebijakan.
Karena selama ini, upaya pencegahan masih banyak mengabaikan peran perempuan. Mereka hanya dilibatkan sebatas partisipan dan diminta pendapat sebagai korban kekerasan. Padahal, perempuan memiliki pemahaman yang mendalam tentang dinamika sosial, keluarga, dan komunitas yang tentu akan sangat berguna bagi keberhasilan pencegahan kekerasan.
Alasan perempuan harus dilibatkan dalam pencegahan ekstrimisme kekerasan
Setidaknya ada tiga alasan mengapa pengalaman perempuan menjadi subjek wajib yang harus diperhatikan dalam upaya pencegahan ekstremisme kekerasan.
Pertama bahwa perempuan bukan entitas yang homogen. Memahami keragaman perempuan adalah pondasi penting dalam upaya mencegah ekstremisme kekerasan. Setiap perempuan memiliki pengalaman hidup yang berbeda baik secara biologis maupun karena faktor budaya yang ada di lingkungan tersebut.
Mengabaikan keragaman ini berarti kita mengabaikan kebutuhan dan perspektif yang berbeda-beda. Dengan mengakui dan menghargai keragaman ini, kita dapat merancang program pencegahan yang lebih efektif dan inklusif.
Oleh karenanya keterlibatan perempuan tidak bisa hanya diwakilkan oleh sebagian saja tapi perlunya ada keterlibatan secara aktif dan penuh, yang dapat mewakili setiap perbedaan yang mereka alami. Ketika kita memahami bahwa perempuan bukan entitas yang homogen, kita dapat menghindari generalisasi yang tidak akurat dan merancang strategi pencegahan yang lebih tepat sasaran.
Kedua keterlibatan perempuan di jenjang pengambilan keputusan strategis, akan membantu mengenali keragaman pengalaman perempuan sebagai pelaku, korban dan juru damai. Pengalaman beragam mereka bisa dijadikan basis untuk analisis dan pengembangan kebijakan.
Dengan menganalisis pengalaman perempuan secara spesifik, kita dapat mengidentifikasi isu-isu gender yang terkait dengan ekstremisme kekerasan. Sebagai contoh, bagaimana konstruksi gender yang patriarki di masyarakat bisa mempengaruhi kerentanan perempuan terhadap radikalisasi yang bisa menjadi target atau pelaku kekerasan ekstremis. Atau narasi stereotype baik positif dan negatif yang sudah diterima perempuan di lingkungan tertentu.
Melansir dari British Online Archives yang ditulis oleh Martha Bird pada masa perang perempuan sering dikaitkan dengan perdamaian, keibuan dan pengasuhan yang menjadi simbol persatuan nasional. tapi hal ini telah mengabadikan bahwa perempuan memiliki konflik yang homogen, yaitu sebagai korban pasif yang tidak melakukan kei pelaku, korban ataupun juu damai.
Ketiga perempuan memiliki akses ke komunitas dan informasi yang mungkin tidak dapat diakses oleh laki-laki, selain itu sensitivitas gender yang perempuan miliki akan sangat dibutuhkan agar perspektif dan pengalaman mereka bisa menghasilkan kebijakan yang lebih relevan dan efektif.
Sebagai contoh adalah kisah pendampingan narapidana teroris perempuan dalam diskusi online yang diselenggarakan WGWC Talk#7. Pendampingan yang dilakukan oleh salah satu petugas lapas nya yaitu bu Nuraini ialah pendekatan dari hati kehati. Napiter teroris saat itu memiliki sifat keras, sering marah-marah dan banyak doktrinisasi yang menganggap para petugas adalah thagut yang darahnya halal untuk dibunuh. Sudah pasti ini menjadi tantangan tersendiri dalam menangani napiter yang dari awal saja sudah menolak dan bahkan mengancam petugas keamanan.
Pendekatan yang dilakukan bu Nurani sangat unik, ia mulai dengan pendekatan yang ramah, menempatkan diri sebagai kawan. Sebagai sesama perempuan bu Nuraini mencoba untuk memahami dari sisi mana ia bisa memulai pendekatan. Salah satu yang dilakukan bu Nuraini adalah membahas dari sisi keluarga selain karena mereka memiliki latar belakang yang sama berasal dari Ciamis dan dari kampung yang sama.
Benar saja napiter teroris ini bisa lebih menerima jika sudah membahas keluarganya, kerasan. hal yang disorot disini ialah bagaimana kebiasaan atau adat kita masih sering menyeragamkan kebutuhan dan keadaan perempuan. Oleh karenanya, pengalaman perempuan memang harus dikenali secara spesifik agar diketahui solusi yang diperlukan jika perempuan sebagasehingga lambat laun sikap dia mulai berubah, tidak menutup diri dan menganggap musuh lagi terhadap orang yang tidak sepaham dengan dia.
Informasi yang diperoleh secara personal dapat membantu menyusun strategi pendekatan yang efektif terhadap pelaku agar tidak kembali melakukan kesalahan yang sama. Disini pula sensitivitas gender mempengaruhi cara bu Nuraini dalam mendekati narapidana teroris ini. Untuk itulah pengalaman perempuan bisa sangat mempengaruhi terhadap strategi penanganan pelaku ekstrimisme juga. Karena sudah barang tentu ada hal-hal yang tidak dimiliki laki-laki yang bisa diperoleh dari pengalaman perempuan. Maka kerjasama antar keduanya akan sangat penting dilakukan demi mewujudkan dunia yang penuh keamanan dan perdamaian.





