Pendidikan Moderasi Beragama: Strategi Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kesetaraan Gender

Di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, moderasi beragama hadir sebagai salah satu strategi penting dalam upaya mencegah ekstremisme. Namun, seringkali peran perempuan dalam upaya ini kurang mendapatkan perhatian yang layak. Padahal, perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun narasi moderasi, baik sebagai pendidik, penggerak komunitas, maupun agen perubahan di tingkat keluarga dan masyarakat. Pendidikan moderasi beragama memainkan peran krusial dalam memastikan masyarakat tidak terjebak ke dalam narasi ekstremisme yang seringkali merugikan perempuan dan kelompok rentan lainnya.

 

Pendidikan Moderasi Beragama: Strategi Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kesetaraan Gender

Perempuan dalam Pendidikan Moderasi Beragama

Di Indonesia, istilah moderasi beragama masih menjadi perdebatan di kalangan sebagian umat Islam. Sebagai agama mayoritas, penguatan pemahaman ini menjadi penting bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk tenaga pendidik, peserta didik, dan komunitas luas. Perempuan, sebagai agen perubahan, memiliki peran signifikan dalam memastikan bahwa nilai-nilai moderasi tidak hanya diajarkan tetapi juga dipraktikkan secara nyata.

Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) di menjadi salah satu institusi yang menonjol dalam mengintegrasikan moderasi beragama ke dalam sistem pendidikannya. Di ISIF, dialog antar umat beragama dan diskusi multikulturalisme menjadi bagian integral dari kurikulum. Salah satu contoh konkret adalah mata kuliah moderasi beragama dan multikulturalisme yang diajarkan oleh Alifatul Arifiati. Sebagai dosen perempuan, Alifatul tidak hanya memberikan teori di ruang kelas tetapi juga mengajak mahasiswa untuk berdialog langsung dengan komunitas keagamaan yang sering mengalami diskriminasi, seperti Jamaat Ahmadiyyah Indonesia (JAI) di Desa Manis Lor dan penganut Sunda Wiwitan di Cigugur, Kuningan.

Ibu Alif menjadi salah satu perempuan yang dengan jitu memanfaatkan ruang untuk bisa berbagi keilmuan dan menyuarakan ketidakadilan yang dirasakan Jamaat Ahmadiyyah dan kepercayaan Sunda Wiwitan agar sampai mendapatkan hak-haknya. Di sini dapat kita lihat bahwa peran penting perempuan dalam menyampaikan sesuatu sangatlah berpengaruh pada pendidikan apa pun, termasuk moderasi beragama. Mendorong sikap yang tidak gampang goyah terhadap doktrin sesat yang dapat kita temui baik secara langsung maupun dari dunia maya

Pendekatan ini memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa, khususnya perempuan, untuk memahami pentingnya toleransi dan hak asasi manusia. Alifatul, melalui pengajarannya, menjadi contoh bagaimana perempuan dapat berkontribusi dalam mempromosikan keadilan sosial dan mengadvokasi hak-hak komunitas yang terpinggirkan. 

 

Persepktif Gender dalam Moderasi Beragama

Menurut KH Marzuki Wahid, Rektor ISIF,  moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik yang mengejawantahkan esensi ajaran agama untuk melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum. Relasi gender menjadi salah satu aspek penting yang ditekankan, di mana perempuan memiliki hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. 

Dalam berbagai kesempatan, KH Marzuki Wahid menegaskan bahwa kekerasan, termasuk kekerasan berbasis gender, bertentangan dengan prinsip moderasi beragama. Kekerasan adalah bentuk ekstremisme yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kemaslahatan. Oleh karena itu, pendidikan moderasi beragama juga harus menjadi ruang untuk mengkritisi praktik-praktik diskriminatif yang sering sekali dilegalkan atas nama agama. 

Di ISIF, pendidikan tidak hanya menjadi upaya akademis tetapi juga transformasional. Kegiatan seperti Public Lecture 2024 dengan tema “Pengantar Studi Islam Transformatif: untuk Keadilan, kemanusiaan, dan kedamaian Semesta” menjadi platform untuk menanamkan nilai-nilai moderasi beragama. Dalam kegiatan ini, semua peserta, tanpa memandang gender, didorong untuk terlibat aktif, menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan toleran. 

KH Marzuki Wahid juga menekankan bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun, baik kekerasan seksual maupun kekerasan berbasis gender, bertentangan dengan semua prinsip moderasi beragama. Kekerasan adalah tindakan ekstrem yang melanggar kemanusiaan, madarat, zalim, dan bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama. Kekerasan, dalam segala bentuknya, sering menjadi alat ideologi ekstremisme untuk memaksakan kepatuhan atau membungkam perbedaan. Jika ada suatu ajaran agama yang membolehkan atau menyetujui kekerasan seksual, maka  cara beragama tersebut adalah ekstrem. 

Tidak hanya itu, dalam diskusi ini maupun diskusi-diskusi lainnya, semua orang boleh ikut terlibat tanpa memandang gender,  ras, suku, atau agama. Keterlibatan antar manusia inilah yang menjadikan kita untuk saling toleran dan menghargai sesama.

Dengan pendekatan ini, ISIF mencerminkan strategi pendidikan yang sangat inklusif, menanam dan memupuk kesadaran kepada tenaga pendidik dan peserta didiknya untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial yang ada di sekitar mereka. Pendidikan ini juga menjadi bagian penting dalam upaya melawan narasi ekstremisme yang sering memanfaatkan kekerasan untuk menciptakan ketakutan dan ketidakstabilan.

 

Mengintegrasikan Moderasi Beragama dengan Strategi Pencegahan

Pendidikan moderasi beragama dapat dilihat debagai implementasi dari pilar pencegahan dalam RAN PE. Dengan menanamkan nilai-nilai moderasi, institusi pendidikan seperti ISIF berkontribusi dalam mencegah penyebaran ideologi ektremisme, terutama di kalangan generasi muda. Peran perempuan dalam proses ini tidak bisa diabaikan. Mereka adalah pendidik di rumah, sekolah, dan komunitas, yang memiliki kemampuan untuk membntuk pola pikir yang inklusif dan damai. 

Melalui dialog antar umat beragama dan kerja sama lintas komunitas, pendidikan moderasi beragama menciptakan ruang aman bagi semua pihak untuk berbagi dan belajar. Perempuan, dengan kemampuan dan perannya yang unik, seringkali menjadi jembatan dalam membangun hubungan yang harmonis. Misalnya, melalui pengalaman mahasiswa ISIF yang diajak berdialog langsung dengan komunitas Ahmadiyah dan Sunda Wiwitan, mereka dapat memahami pentingnya terhadap perbedaan dan membangun solidaritas antarumat beragama.

 

Menuju Masyarakat yang Damai dan Setara

Pendidikan moderasi beragama adalah kunci untuk membangun Masyarakat yang toleran, adil, dan damai. Dengan melibatkan perempuan secara aktif dalam proses ini, kita dapat memberdayakan mereka dan memastikan bahwa nilai-nilai moderasi dapat menyentuh semua lapisan masyarakat. Melalui pendekatan yang berbasis kesetaraan gender, pendidikan moderasi beragama menjadi strategi pencegahan yang efektif dalam melawan ideologi ekstremisme. 

Oleh karena itu, mari kita wujudkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademis tetapi juga pada pembentukan karakter yang menghargai perbedaan. Dengan melibatkan semua pihak —pendidik, peserta didik, orang tua, dan masyarakat—kita dapat menciptakan generasi yang cerdas, bajik dan bijak, demi perdamaian yang berkelanjutan.[]

 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top