Merajut Gerakan Kolektif Perempuan, Memperkuat Resiliensi terhadap Ekstremisme (Bagian 2)

Saya sangat sadar, setiap organisasi yang bergabung dalam WGWC memiliki fokus berbeda. Maka dibutuhkan langgam gerakan yang bisa mengakomodasi semua kekuatan anggotanya, dan mendorong setiap lembaga memiliki kesadaran penuh untuk aktif alam  jaringan ini. Saya yakin pendekatan berbasis dampak (impact-oriented approach)  akan optimal meletakkan setiap aktor dalam lapis perubahan berbeda, baik perubahan personal maupun sosial politik. Impact oriented approach menuntun semua aktor pada pencapaian bernama “menang bersama”. 

Gimana caranya agar setiap orang merasa menang bersama? Apalagi tidak semua orang memiliki imajinasi tentang menang bersama. Sebagai salah satu SC, saya mencontohkannya dengan model kepemimpinan terbuka, akuntabel, dan menghargai peran setiap lembaga sesuai fokus perhatian masing-masing. AMAN Indonesia yang dipercaya sebagai sekretariat WGWC juga harus berupaya adil dalam manajemen proyek. Distribusi sumber daya keuangan proyek difokuskan pada partner atau mitra yang tidak memiliki kontrak langsung dengan donor WGWC, sehingga terjadi pemerataan sumber daya. Bagi mitra tanpa kontrak langsung dengan donor sama atau berbeda, saya mendorong mereka membangun sinergi. Untuk mencegah salah alokasi keuangan, sekretariat menerapkan pembagian management fee untuk mendukung biaya operasional mitra yang dikeluarkan selama pendampingan pada napiter, mantan napiter dan keluarga.

Merajut Gerakan Kolektif Perempuan, Memperkuat Resiliensi terhadap Ekstremisme (Bagian 2)

Kunci “menang bersama” terletak pada pengalaman diapresiasi dan dihargai, maka beberapa skenario dijajal untuk menghadirkan perasaan tersebut. Pertama, pemahaman bahwa perubahan tidak mungkin dilakukan satu lembaga. Kerjasama dengan sejumlah lembaga yang memiliki sumber pengetahuan, modalitas sosial dan keuangan serta jaringan yang dibutuhkan dalam mendorong perubahan sangat dianjurkan. Proyek mendorong reintegrasi sosial para mantan pendukung jaringan teroris global bernama Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di kota Depok merupakan contoh kolaborasi antar aktor yang efektif. Yayasan Empatiku sebagai organisasi yang memimpin proyek, berpengalaman membangun peringatan dini atau Early Warning System terhadap radikalisme, sudah mempunyai hubungan positif dengan para mantan pendukung ISIS, dan memiliki modal sosial program pemberdayaan di keluarga mantan napiter di tingkat kelurahan.  Sedangkan intervensi pemerintah berbasis client (orang yang pernah direhabilitasi) dan pengawasan atau surveillance selama ini tampaknya tidak memberikan ruang interaksi efektif.

Menyadari ini, saya merasa sudah saatnya menerapkan pendekatan peacebuilding. Penerimaan terjadi ketika ada dialog dan rekonsiliasi. Maka, berbekal pengalaman dialog, AMAN Indonesia memperkenalkan Reflective Structured Dialogue (RSD) sebagai pendekatan meningkatkan penerimaan sosial pada mantan napiter dan keluarga. Dengan bekal training dialog yang dimentori langsung oleh Mediator Beyond Border International (MBBI) secara online, seri dialog dengan warga kelurahan Mekarjaya digelar, dengan dukungan Tim Tangguh yang dibentuk beberapa bulan lalu. Kehadiran YPP dan DASPR dengan modal sosial bekerja di keluarga mantan napiter memberikan kunci-kunci penting dalam memenangkan hati dan pikiran keluarga-keluarga tersebut agar bisa terlibat dialog. Hasilnya, kini interaksi antara para mantan napiter dan keluarganya dengan masyarakat sekitar sudah lebih kondusif dalam membangun kesejahteraan bersama. Keberhasilan reintegrasi sosial di Depok merupakan buah karya pemerintah kelurahan Mekarjaya, dengan kerjasama apik sejumlah lembaga dalam payung WGWC.

Kedua, mobilisasi masyarakat sipil untuk perubahan. Dalam kerja advokasi melokalkan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Kekerasan (RAN PE) di tingkat provinsi, sejumlah mitra dipilih untuk menggerakkan gerbong masyarakat sipil dari berbagai latar belakang lembaga, dan membentuk jaringan khusus  pengawalan Rencana Aksi Daerah (RAD). Interaksi semua aktor dalam  penyiapan draft regulasi dan naskah akademis, serta pembahasan pasal per pasal yang melibatkan pemerintah lokal dan organisasi masyarakat sipil, membentuk kepercayaan kolektif.

Ketiga, sinergi sumber daya untuk maksimalisasi dampak. Menang bersama diwujudkan dalam sinergi kerja;  tidak hanya gagasan, juga sumber keuangan. Misalnya International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) yang fokusnya penguatan multi stakeholder di Jawa Barat dan Jawa Timur, mensinergikan koordinasi dengan WGWC, sehingga bisa membawa sejumlah provinsi lainnya dalam lokakarya konsolidasi nasional. Sedangkan YPP menggunakan sumber daya proyeknya untuk menggunakan platform WGWC Talks, guna mengangkat isu-isu anak dan tindak pidana terorisme.

Untuk memperkuat perasaan menang bersama, saya melakukan peningkatan kapasitas para aktor dalam WGWC. Caranya melalui sejumlah forum diskusi konsep-konsep terkait pencegahan dan kontra ekstremisme kekerasan yang menghadirkan beberapa anggota WGWC, melibatkan perwakilan mitra WGWC dalam pelatihan dialog reflektif RSD, membangun tim penulis dan fasilitator, dan sebagainya. 

 

(bersambung)

***

Tulisan Dwi Rubiyanti Kholifah selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top