Mengasah Empati dan Tantangan Pendamping PCVE

Dalam dunia yang terus bergulat dengan isu radikalisasi dan kekerasan ekstrem, para pekerja di bidang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Ekstremisme/Preventing and Countering Violent Extremism (PCVE) memegang peran yang krusial. Meski demikian, tantangan yang mereka hadapi sering kali tidak hanya kompleks tetapi juga terabaikan. Kisah nyata dari beberapa pendamping –diambil dari wawancara penulis dengan dua pendamping dan refleksi penulis sendiri sebagai pendamping, yang telah bekerja di isu ini memberikan wawasan mendalam tentang dinamika di lapangan.

Tantangan di Lapangan: Dari Stigma hingga Kurangnya Dukungan

Pendampingan dalam isu PCVE sering kali dimulai dengan kesulitan mendasar yaitu mencari individu yang membutuhkan bantuan. Data yang diberikan sering kali kurang akurat atau adanya penolakan. Bahkan, ditemukan pihak tertentu yang menyangkal keberadaan deportan atau returnee di wilayah mereka karena stigma yang melekat pada individu-individu ini.

Mengasah Empati dan Tantangan Pendamping PCVE

Stigma masyarakat juga menjadi tantangan besar. Banyak yang beranggapan bahwa individu yang pernah terlibat dengan kelompok ekstremis mendapatkan perlakuan istimewa dari pemerintah, seperti bantuan finansial. Hal ini memicu kecemburuan sosial dan persepsi bahwa program reintegrasi justru memberikan insentif untuk menjadi ekstremis. Selain itu, masih ada masyarakat yang menganggap isu terorisme sebagai “rekayasa pemerintah” untuk kepentingan tertentu, sehingga mereka enggan bekerja sama dalam proses reintegrasi.

Tantangan selanjutnya adalah memandang sebelah mata terhadap keberadaan civil society organization (CSO) atau organisasi masyarakat sipil. Selain pemerintah, CSO memainkan peran penting dalam masyarakat, dan banyak bukti yang menunjukkan bahwa kerja-kerja CSO memberikan dampak nyata serta berkelanjutan. Stigma terhadap CSO sebagai “antek asing” adalah salah satu tantangan yang perlu diatasi ke depannya agar kolaborasi dapat berjalan dengan lancar.

Mengasah Empati melalui Pendampingan

Refleksi ini juga didasarkan pada pengalaman pendamping yang berbagi cerita tentang tantangan dan pelajaran hidup dari pekerjaan di isu PCVE. Bekerja di isu PCVE bukan hanya soal mendampingi individu kembali ke masyarakat, tetapi juga soal belajar memahami dan memaafkan. Sebagai pendamping, pengalaman ini menjadi sarana untuk mengasah empati dan rasa kemanusiaan. Dalam prosesnya, pendamping sering kali dihadapkan pada kisah-kisah menyentuh yang mengubah cara pandang mereka terhadap dunia.

Salah satu pelajaran penting adalah bagaimana memaafkan individu yang sebelumnya dianggap “bersalah” karena memilih jalan ekstremisme. Ketika mereka kembali dan mencoba membangun kehidupan baru, pendamping harus menjadi jembatan yang membantu mereka mendapatkan kesempatan kedua. Hal ini bukan hanya tentang membantu individu, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Ketimpangan dalam Dukungan untuk Pendamping

Ironisnya, meski pendamping diharapkan memberikan dukungan penuh kepada klien, mereka sendiri sering kali tidak mendapatkan dukungan yang memadai. Salah satu tantangan utama adalah kesejahteraan. Banyak organisasi masyarakat sipil atau civil society organization (CSO) yang bergerak di isu PCVE tidak mampu memberikan asuransi kesehatan atau gaji yang layak kepada staf mereka. Alasan klasik yang sering kali muncul adalah keterbatasan dana.

Hal ini berdampak langsung pada kesehatan mental pendamping. Mereka harus mendengarkan keluhan klien setiap hari tanpa memiliki wadah untuk menyalurkan beban emosional mereka. Ketidakmampuan untuk mengolah emosi ini dapat berujung pada burnout, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas pendampingan.

Selain itu, aspek keamanan juga menjadi perhatian serius. Hingga saat ini, tidak ada undang-undang yang melindungi pendamping dari kalangan masyarakat sipil. Berbeda dengan aparat penegak hukum yang memiliki perlindungan hukum, pendamping sering kali bekerja di bawah risiko tinggi tanpa payung hukum yang memadai. Hal ini menempatkan mereka pada posisi yang rentan, terutama ketika harus menghadapi ancaman dari individu atau kelompok tertentu.

Meningkatkan Apresiasi dan Dukungan

Untuk memastikan keberlanjutan program PCVE, diperlukan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan apresiasi dan dukungan bagi para pendamping. Beberapa rekomendasi yang dapat diambil yaitu: Pertama, peningkatan kesejahteraan. Organisasi yang bergerak di isu PCVE perlu mencari cara untuk memastikan kesejahteraan staf mereka, baik melalui peningkatan gaji, asuransi kesehatan, maupun akses ke layanan kesehatan mental.

Kedua, edukasi publik. Mengurangi stigma masyarakat terhadap individu yang terlibat dalam program reintegrasi sangat penting. Kampanye edukasi publik dapat membantu membangun pemahaman yang lebih baik tentang tujuan program ini. 

Ketiga, perlindungan hukum. Pemerintah perlu mempertimbangkan pembuatan regulasi yang memberikan perlindungan hukum bagi pendamping dari kalangan masyarakat sipil. Hal ini akan memberikan rasa aman bagi mereka yang bekerja di lapangan.

Keempat, penghargaan atas kontribusi. Apresiasi atas kerja keras pendamping, baik dalam bentuk pengakuan formal maupun informal, dapat meningkatkan motivasi dan rasa kepuasan dalam pekerjaan mereka.

Pelajaran Berharga dari Lapangan

Pendampingan dalam isu PCVE memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya empati, rasa kemanusiaan, dan kerja sama. Meski penuh tantangan, pekerjaan ini juga membawa dampak positif, baik bagi individu yang didampingi maupun bagi pendamping itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh seorang pendamping, “Bekerja di isu ini membuat kita menjadi lebih peka, mengasah kemanusiaan, dan meningkatkan kepedulian.

Namun, untuk memastikan bahwa pendamping dapat terus menjalankan peran mereka dengan baik, dukungan yang memadai dari berbagai pihak sangatlah penting. Dengan demikian, program PCVE dapat menjadi lebih efektif dalam menciptakan masyarakat yang damai dan inklusif.

 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top