Menemani di Kesempatan Kedua: Cerita Pendampingan Anak Terlibat Terorisme (Bagian 4)

Masa-Masa Sulit dan Dilematis

Sebenarnya masa-masa dilematis sudah saya alami sejak mulai kerja pendampingan. Berbagai pertanyaan selalu muncul yang kadang memperdalam dilema. Apakah saya mampu melakukan perjalanan pendampingan dengan baik? Apakah intervensi saya berhasil? Bagaimana jika anak-anak dampingan kembali melakukan aksi teror? Bagaimana jika ada ancaman dan resiko keamanan lainnya? Kepada siapa saya berlindung?

Menemani di Kesempatan Kedua: Cerita Pendampingan Anak Terlibat Terorisme (Bagian 4)

Jika muncul pertanyaan-pertanyaan itu, kadang rasanya ingin menyudahi pendampingan ini. Beruntungnya saya memiliki support system yang kuat. Mas Taufik Andrie, tim YPP dan juga mas Huda banyak memberikan dukungan. Di saat saya kelelahan karena perjalanan pendampingan serasa tidak berujung, mereka selalu meyakinkan saya dengan berbagai argumen yang menenangkan. Saya kembali merasa aman. Sumber dukungan lain saya dapat dari keluarga. Orang tua dan suami saya memberikan dukungan yang tidak kalah banyak. Mereka juga meyakinkan saya, bahwa ini adalah bagian amal saleh. Saya merasa perjalanan panjang pendampingan juga perjalanan panjang spiritual saya.

Ada empat situasi dalam masa dilematis dan kritis dalam perjalanan pendampingan saya sejak 2016 hingga sekarang. Pada tahun pertama saya melakukan pendampingan terhadap anak-anak berkasus terorisme, saya harus berhadapan dengan para napiter dewasa yang satu lapas dengan mereka. Saya harus perang pengaruh dengan para napiter dewasa itu untuk memenangkan hati anak-anak. Para napiter dewasa memiliki kesempatan dan waktu lebih banyak untuk berinteraksi dengan anak-anak. Tak jarang anak-anak dibisiki untuk menolak kunjungan saya. Kalau pun menerima kunjungan saya, anak-anak dibisiki hanya untuk mengambil buah tangan yang saya bawa.

Masa dilematis berikutnya, ketika salah satu dampingan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dan kembali melakukan aksi teror setelah satu tahun bebas. Mendapati informasi itu, lemas seluruh tubuhku. Teringat anak-anak lainnya, bagaimana juga mereka melakukan hal sama. Saya sampai tidak nyenyak tidur.  Memang sejak di Salemba, anak itu sudah terdeteksi belum terputus dari jaringan maupun ideologinya. Bahkan ideologinya semakin mengkristal paska ditangkap.  “Penjara ini sekolah bagi saya kak, saya bersyukur bertemu banyak ustadz di sini, saya juga punya banyak waktu mendalami [keyakinan]  saya,” ujarnya dalam suatu kunjungan. Saya sempat membuat laporan khusus tentang resiko anak ini. Saat di Salemba dulu, anak ini kedapatan menjalin komunikasi dengan kelompoknya di luar lapas. Ia bahkan merekrut anak lainnya dan memprovokasi mereka untuk menyusupi demonstrasi mahasiswa.

 Setelah kira-kira tiga bulan menjadi DPO, anak tersebut kembali melakukan aksi teror. Ia menyerang seorang anggota Brimob di depan Bank Mandiri Syariah Kota Poso. Ia bersama seorang temannya berhasil melukai anggota Brimob tersebut dengan tembakan. Kemudian ia dan temannya berusaha merebut senjata api milik korban, namun gagal. Mereka lantas berusaha melarikan diri dan terjadi baku tembak, ia dan temannya ditembak mati oleh tim kepolisian.  

Di tahun 2019, saya hamil anak pertama. Saat mengetahui saya hamil, saya berdiskusi dengan suami. Apakah saya tetap melanjutkan kerja-kerja pendampingan ini? YPP pun tidak memaksakan. “Nuna boleh break melakukan pendampingan dan digantikan yang lain, supaya tidak mengganggu kehamilan,” kata mas Taufik. Di awal kehamilan, saya tetap melakukan kunjungan rutin dan mengajak rekan lain dari YPP. Rupanya anak-anak memberikan respon berbeda. Ketika mereka melihat perut saya semakin membesar, beberapa anak mengungkapkan takut kehilangan waktu saya untuk mereka. “Kak tetap nengokin kami kan, tetap mau jadi teman curhatku kan kak? Kak jangan berubah ya kalau sudah berkeluarga dan punya anak,” kata anak-anak dalam beberapa kesempatan saya berkunjung.

Saya merasa anak-anak sudah memiliki kelekatan. Mereka sudah percaya. Di beberapa kesempatan saya juga dipercaya mereka menemani masa-masa titik balik mereka. Menjadi teman diskusi sekaligus diminta pertimbangan atas keputusan penting mereka.  Sayang rasanya jika harus terjeda sekian bulan. Toh saya masih merasa kuat. Alhamdulillah, kehamilan anak pertama tidak terlalu payah. Minim mual dan doyan makan saja. Ini menjadi kekuatan tersendiri, namun memasuki trimester ketiga, kaki saya membengkak. Berat badan naik hampir 16 kilo. Tubuh saya yang mulanya mungil, mulai kepayahan berjalan. Saya tetap melakukan kunjungan.

Saat sedang antri kunjungan perut saya terasa kram, juga semakin mules. Rupanya saya mengalami kontraksi. Meskipun ternyata kontraksi palsu, saya segera membatalkan kunjungan dan segera pulang. Khawatir mengalami situasi darurat saat masih di lapas atau di jalan. Jangan sampai melahirkan di lapas, kelakar saya dalam hati. Setelah cek ke dokter yang memastikan kandungan saya masih aman, saya tetap melakukan kunjungan hingga H-5 waktu melahirkan. Hingga menunggu operasi Caesar pun saya masih menanggapi komunikasi dengan anak-anak yang sudah bebas. “Mereka butuh pertimbanganku untuk sekolahnya,” ujarku kepada suamiku.

Kala Covid-19 muncul di Indonesia, awal 2020 saya masih cuti melahirkan. Sebelumnya saya sudah pamit ke anak-anak untuk absen kunjungan langsung kira-kira tiga bulan. Kepada anak-anak yang masih di lapas saya bilang, kalau butuh komunikasi dengan saya, bisa melalui sambungan telfon dari petugas. Rupanya awal 2020 saat saya mau mulai kunjungan kembali paska cuti, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai diberlakukan. Semua kegiatan tatap muka sementara ditiadakan; kunjungan diubah menjadi “kunjungan telfon” yang difasilitasi lapas. Meskipun akses lebih mudah dan energi yang keluar tidak begitu besar dibandingkan datang berkunjung langsung, kedekatan saya dan anak-anak terasa tidak maksimal. Interaksi terbatas dan lebih sulit membangun hubungan emosional. Masa ini berlangsung kira-kira dua tahun. Setelah PSBB dan peraturan sejenis terkait Covid disudahi, saya bisa kembali berinteraksi langsung dengan mereka.  

 

(bersambung)

***

Tulisan Khariroh Maknunah selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top