Menemani di Kesempatan Kedua: Cerita Pendampingan Anak Terlibat Terorisme (Bagian 3)

Perjalanan Panjang sebagai Pendamping

Sekitar kurang lebih sebulan menjadi keluarga YPP, saya terlibat salah satu   penelitiannya. Saat pembagian kerja, mas Taufik Andrie, Direktur Eksekutif YPP mendelegasikan saya meneliti lapas. “Kamu kan yang bolak balik ke lapas di pekerjaan sebelumnya, jadi kamu yang pas mengerjakan isu lapas di penelitian ini,” ujarnya. Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan. Apalagi kala itu, lapas yang dipilih hanya sekitar Jabodetabek. Tentu cukup mudah bagiku, terlebih jejaring dengan beberapa lapas itu masih terbangun.

Menemani di Kesempatan Kedua: Cerita Pendampingan Anak Terlibat Terorisme (Bagian 3)

Keesokan harinya, saya menuju lapas pertama di wilayah Jakarta, Lapas Salemba. Bersama seorang teman lain dari YPP saya melakukan kunjungan dan penggalian data di Lapas Klas II A di Jakarta itu. Pulangnya, saya menyampaikan hasil penggalian data, di antaranya ada tiga napi anak usia 17 tahun. Data tersebut menarik, karena menurut data YPP sejak UU Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) disahkan tahun 2012 baru pertama kali ada anak-anak yang ditangkap karena kasus terorisme.

Untuk meyakinkan kebenaran temuan itu, YPP memeriksa data tersebut, di antaranya ke Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) dan jejaring di Datasement Khusus 88 (Densus) Anti Teror. Data tersebut dibenarkan. Selesai riset pertama tersebut, YPP memutuskan melakukan riset khusus tentang anak yang terafiliasi kelompok teroris radikal. Saat itu riset didukung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

Melalui riset itu, kami mendalami kondisi anak-anak yang terafiliasi kelompok   terorisme radikal. Ada beberapa klaster atau kelompok, termasuk anak yang terlibat tindak pidana terorisme, yang kami dalami. Hemat kami di YPP, anak-anak yang terlibat tindak pidana terorisme bukan lagi butuh upaya pencegahan, tapi perlu ditolong agar tidak terjebak semakin dalam dan semakin lama dalam kelompok dan ideologi  terorisme radikal ini. Tentu ini sesuai ruh dan kerja-kerja YPP. Setelah riset berakhir, YPP memutuskan akan melakukan pendampingan anak-anak tersebut.

Tidak tahu mimpi apa malam sebelumnya, suatu hari saya diajak ngobrol mas Taufik. Tumben, pikir saya. “Nuna, YPP meminta kamu melakukan dengan serius pendampingan terhadap anak-anak yang saat ini ditempatkan di Lapas Salemba. Dengan pengalamanmu berinteraksi dengan banyak napiter, aku percaya kamu bisa melakukannya,” begitu kata mas Taufik mengakhiri obrolan panjang kami.

   Respon saya melongo, tentu ini job berat sebagai anggota baru tim YPP. Meskipun setidaknya tiga tahun saya berinteraksi dengan napiter di lapas, interaksi dengan napiter anak akan berbeda. Penekanan makna beragam kerja YPP yang dimulai mas Huda dan mas Taufik dalam “memberi kesempatan kedua” dan “menjembatani tanpa berprasangka” terus terngiang. Sepanjang perjalanan pulang kantor, pikiran saya terus berputar. Terutama terpikir, bisakah saya melakukan tanggungjawab besar itu?

Seminggu kemudian, babak baru dalam perjalanan panjang dimulai. Saya menyebut kerja pendampingan saya dan YPP untuk anak-anak yang terlibat tindak pidana terorisme sebagai perjalanan panjang spiritual. Dalam sebuah rapat YPP, mas Taufik mengatakan, kerja pendampingan ini tidak by project sehingga tidak bisa ditentukan kapan akan berakhir seperti kerja-kerja YPP lainnya. 

Saya mulai tugas pendampingan bulan November 2016. Di pertengahan November 2016, pertama kali saya menemui tiga anak di Lapas Kelas II A Salemba. Saya ditemani rekan yang sebelumnya riset bersama di Lapas Salemba. Di pertemuan pertama, saya mengunjungi mereka melalui “waktu kunjungan Lapas” dan mendaftar sebagai keluarga.

Setelah mendapat giliran masuk ruang kunjungan, ketiga anak tersebut dipanggil Sipir Lapas. Tak lama kami menunggu, hanya dua anak yang keluar. Masih teringat persis bayangan tentang mereka pertama kali jumpa kami. Mereka kompak berkemeja putih lengan panjang, celana panjang hitam dan berompi jingga atau oren, rompi khas warga binaan Lapas. Sampai di ruang kunjungan, mereka nampak bingung mencari siapa yang mengunjungi mereka. Melihat gelagat itu, saya berdiri dan memanggil salah satu nama mereka. Lantas mereka menengok dan berjalan mendekati kami.

Sesampai mereka di dekat kami, rekan saya berdiri dan mengacungkan tangan untuk salaman, sembari kami kompak mengucapkan salam. Namun kedua anak laki-laki tersebut tidak menanggapi uluran tangan maupun ucapan salam kami. Tentengan buah tangan yang kami bawa untuk mereka, saya serahkan. “Ini untuk cemilan nanti di blok,” ucapku. “Terima kasih,” jawab anak laki-laki yang duduk di sebelah kanan.

“Kakak-kakak dari mana? Kok tahu kami di sini?”, cecar anak laki-laki yang duduk sebelah kiri. Kami ini mahasiswa, sahutku. Kebetulan kala itu teman saya masih menyelesaikan studi pasca sarjananya dan saya pun baru lulus kuliah. “Kok tahu kami di sini, kenal kami dari mana, siapa yang menyuruh kakak-kakak ke sini? Kok boleh masuk sama petugas ketemu kami?”   Cecar kembali dua anak laki-laki itu bergantian. Sesekali pertanyaan diulang penuh curiga.

Kami ini mahasiswa yang peduli pada anak-anak yang terlibat tindak pidana, adek, termasuk pidana kasis terorisme. Kami sering ke sini [Lapas Salemba] sebenarnya. Kepedulian kami ini agar teman-teman yang di usia anak terkena tindak pidana  tetap mendapatkan hak-haknya, terhindar kekerasan dan bisa mencapai cita-citanya.” Begitu kira-kira bujukan saya ke dua anak itu. Saat menunggu mereka di ruang kunjungan, saya berbisik ke teman saya, “nanti gak usah sebut YPP dulu ya, bilang saja mahasiswa”, ujarku. Teman saya manggut-manggut. “Ini strategi persuasi,” imbuh saya. Lantas teman saya mengacungkan jempolnya, tanda setuju.

 

(bersambung)

***

Tulisan Khariroh Maknunah selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top