Sejak akhir 2013 hingga April 2016, lebih dari 20 lapas telah saya kunjungi, bertemu 40 hingga 50an narapidana teroris dari berbagai kasus dan jaringan. Beberapa kesan bertemu napiter dan menggali data masih melekat. Misalnya kesan bertemu Abrori, napiter terpidana seumur hidup karena kasus mendalangi pembuatan 27 paket bom di Pesantren Ibnu Mas’ud Bima.
Kesan lain yang tak kalah menarik, ketika bertemu dan menggali data dari para napiter yang satu kampus, yaitu komplotan para pelaku rencana pengeboman di Puspitek Serpong dan Ulil Abshar Abdalla, pentolan Jaringan Islam Liberal saat itu. Saya juga bertemu narapidana teroris perempuan bernama Nur Azmi Tibyani yang keterampilannya luas. Mulai dari merias, menari, memainkan bedug, bahkan dia menulis kesehariannya selama di lapas. Saat menjumpainya, saya beruntung mendapat salinan tulisannya.
Dari berbagai proses penggalian data itu, saya mulai mengenal kelompok dan jaringan terorisme di Indonesia. Sebelumnya saya mengira nama kelompoknya satu saja. Di kampus yang sering terdengar hanya Negara Islam Indonesia (NII). Rupanya ada banyak kelompok dan jaringan radikal terorisme dengan tokoh berbeda-beda. Masing-masing kelompok dan jaringan ternyata memiliki fatwa masing-masing yang sering juga berbeda pendapat bahkan saling mengkafirkan.
Perjalanan dari lapas ke lapas hampir di setiap minggu sejak 2013 hingga 2016 dengan berbagai cerita para napiter tersebut mengubah perspesi awal saya, meskipun rasa marah dan ngeri tetap mendominasi sikap saya. Cerita mereka bergabung dengan kelompok dan keterlibatan dengan aksi terorisme dengan berbagai jalan masuk atau pathway, membuat saya banyak merenung. Saya harus ajak teman-teman di kampus dan organisasi melakukan pencegahan ekstremisme dan terorisme di kampus, pikir saya. Namun, dengan padatnya kegiatan dari lapas ke lapas, niat baik itu tidak kunjung terlaksana.
Perjalanan panjang saya menjadi bagian tim identifikasi/profiling narapidana teroris di lapas harus terhenti di awal 2016. Saya memutuskan keluar tim karena kuliah saya sudah injury time, di batas waktu. Jangan terlena kerja, selesaikan skripsinya dulu, kalau sudah lulus nanti rezeki akan mengikuti, begitu pengingat ibu bapak saya. Selain itu, dosen pembimbing hingga ketua dan sekretaris jurusan juga terus mengingatkan saya untuk segera kembali menyelesaikan tugas akhir kampus. Memang iya, rupanya saya terlena pekerjaan yang isunya dulu saya hindari dan anggap rumit.
Saat menyelesaikan tugas akhir, saya membutuhkan pendapat ahli terorisme. Seorang dosen saya merekomendasikan seorang pengamat terorisme kenamaan Indonesia. Noor Huda Ismail, pendiri lembaga non pemerintah yang bekerja untuk isu terorisme radikal bernama Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP). Ternyata ia sedang tinggal di Melbourne, Australia untuk menyelesaikan studi doktor di Monash University.
Sepulang dari kampus, saya bergegas mengontaknya. Tentu saya belum punya nomer telfonnya. Berbekal kekuatan Facebook, raja media sosial saat itu, saya mencari akunnya dan mengontaknya melalui inbox. Selang beberapa menit teks inbox terkirim, balasan teks muncul. “Kebetulan saya baru landing dari Melbourne, kita bertemu besok di kantorku YPP, Tebet ya”, balasnya.
Girang hati membaca balasan teks itu. Saya menyiapkan berbagai pertanyaan wawancara. Saya juga browsing mencari alamat lengkap kantor dan apa kepanjangan YPP. Di hari yang disepakati, dengan penuh semangat saya menuju Tebet, dan sesampai di YPP saya langsung bertemu pengamat terorisme yang direkomendasikan dosen saya itu. Saya disambut ramah, disajikan berbagai makanan dan diajak ngobrol dengan asyik. Pertanyaan wawancara yang sudah saya susun semua dijawab dengan data-data mengejutkan. Melebihi ekspektasi saya.
Rupanya, pertemuan saya dengan Mas Huda, demikian saya memanggil pengamat terorisme itu, menandai bab baru dalam kehidupan saya. Setelah bertemu dan berdiskusi, Mas Huda menghubungi saya. Di whatsapp terbaca pesannya, “Nuna aku takjub pengalaman kamu bertemu dengan para narapidana terorisme selama ini. Aku mengajakmu bergabung dengan YPP dan memperkaya kerjaan YPP,” begitu pesannya. Siap mas, dengan senang hati, balasku. September 2016, tawaran mas Huda bergabung YPP terealisasi.





