Menemani di Kesempatan Kedua: Cerita Pendampingan Anak Terlibat Terorisme (Bagian 1)

Menjadi bagian kerja-kerja pendampingan bagi kelompok teroris bukan termasuk mimpi-mimpi saya. Sejak kecil, mimpi saya sederhana, menjadi guru. Dibesarkan orang tua berlatarbelakang guru madrasah dan pegawai negeri sipil membuat saya juga ingin jadi pahlawan tanpa tanda jasa seperti mereka. Mimpi itu berganti setelah saya diterima di jurusan Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 2011. Sejak itu, tentu mimpi saya menjadi jurnalis handal. Jurnalis perempuan seperti Najwa Sihab dan Rosiana Silalahi yang seliweran di stasiun televisi ternama menjadi sosok idola di dunia jurnalistik.

Sebagai mahasiswa jurnalistik, saya merasa perlu memperkaya diri. Saya beraktualisasi melalui komunitas pers mahasiswa yang dikelola salah satu organisasi ekstra di kampusku. Saya bahkan pernah didapuk menjadi ketua komunitas pers mahasiswa tersebut. Di masa itu, rasa-rasanya mimpi menjadi jurnalis di perusahaan pers ternama semakin dekat. Terlebih di sekeliling komunitas pers mahasiswa yang saya ikuti, jejaring jurnalis senior cukup kuat. Ada yang menjadi wartawan, redaktur, editor hingga pimpinan redaksi di koran nasional ternama.

Menemani di Kesempatan Kedua: Cerita Pendampingan Anak Terlibat Terorisme (Bagian 1)

Saat asyik magang di salah satu media massa nasional dan menyelesaikan studi akhir, saya mendapat tawaran lain. Seorang guru besar di kampus yang menjadi mentor di organisasi, menawari saya membantu penelitian salah seorang professor di kampus lain. “Isunya soal radikalisme dan terorisme,” tutur mentor saya itu. Meskipun isunya terkesan rumit, saya tertarik. Pikir saya, “lumayan buat nambah biaya menyelesaikan tugas akhir”.

Beberapa hari kemudian, saya mendapat undangan dari sang profesor yang mengajak penelitian. Dengan penuh semangat, saya menuju kampusnya kurang lebih satu jam setengah dari tempat kos. Dua kali naik angkot dan menyambung dengan ojek pangkalan. Kala itu, ojek online belum marak seperti sekarang. Sesampai di kampus tersebut, saya diarahkan satpam menuju sebuah ruangan. “Naik tangga satu kali, lanjut belok kiri ya mbak,” kata satpam.

Setiba di ruangan saya kaget, karena ada mahasiswa lain dari kampus saya, beberapa teman dan senior yang saya kenal. Sesaat kemudian, seorang laki-laki berkacamata dengan tubuh tinggi datang. “Selamat datang Prof”, sambut seorang lainnya. Oh ini toh profesor yang akan punya projek penelitian, gumamku.

Seorang laki-laki yang sebelumnya menyambut sang profesor kemudian menjelaskan rangkaian kegiatan. “Teman-teman akan menjadi tim pak Prof (sapaan sang profesor) untuk melakukan profiling dan identifikasi kepada para narapidana teroris di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) seluruh Indonesia, nanti dibagi dalam beberapa tim agar lebih optimal,”  tuturnya.  

Rupanya kegiatan profiling dan identifikasi ini bagian program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk para narapidana teroris (napiter) di Lapas. Kami (para peneliti-tim identifikasi) ditugaskan menggali data napiter. Kami dibekali dua instrumen menggali data. Yang kualitatif untuk memandu wawancara mendalam dan yang kuantitatif untuk melihat aspek statistik seputar napiter.

Sepulang forum itu, saya mengontak mentor saya melalui teks Whatsapp. Dengan nada sedikit protes, saya sampaikan, “Bang, bukan penelitian ternyata, tapi projek profiling napiter di lapas-lapas”. Tak lama kemudian muncul balasan. “Terima saja, lumayan buat pengalaman. Justru itu penelitian mendalam, ilmu jurnalismu juga kepakai”. Saya membaca balasan tersebut, sambil terpikir seramnya suasana lapas, ditambah bertemu napiter yang telah melakukan teror sekelas bom.

Sebelum menghadiri pertemuan di kampus sang profesor tersebut, isu radikalisme dan terorisme tidak menjadi perhatianku. Topik ini saya sering hindari di kampus, komunitas maupun organisasi ekstra kampus. Menurut saya, radikal terorisme isu rumit. Kajiannya banyak mendebatkan ideologi dan agama. Saya lebih tertarik kajian keperempuanan, gender, isu anak dan tentu kajian media massa.

Sebagai orang awam, saya terbawa framing media massa tentang isu radikalisme dan terorisme. Persepsi awal saya, ini isu mengerikan. Pelaku teror yang menjadi napiter adalah pembunuh massal  keji. Mereka tidak bisa dimaafkan. Sepintas teringat, dulu saya pernah memimpin aksi mahasiwa untuk mengecam aksi terorisme di Indonesia. Sebagai aktivis mahasiswa idealis dengan gelora semangat “agen perubahan”, saya marah pada pelaku teror.

Tapi, minggu depannya, saya akan bertemu para pelaku teror itu. Jadwal identifikasi/profiling narapidana teroris sudah dibagikan melalui grup Whatsapp tim peneliti. Saya terjadwal berkunjung ke Lapas Tangerang dan minggu berikutnya ke Lapas Nusakambangan. Semakin dekat jadwal, pergulatan batin semakin kuat. Terbayang garang dan galaknya para napiter. Apalagi akan berhadapan tatap muka saat penggalian data. Timbul juga ketakutan jika didoktrin dan terjadi saling debat, termasuk soal ideologi. Sempat terpikir apakah lebih baik mundur saja dari tim. Apalagi magang di media masih berlangsung.

Hingga berganti hari, perasaan semakin “galau”. Harus segera mencari pencerahan, gumamku. Bergegas saya mengambil telfon genggam dan mencari kontak ayah yang kini almarhum. Tak selang lama, telfon terhubung ke bapak. Langsung saya bercerita tanpa jeda. Meluapkan seluruh perasaan dan berbagai pikiran yang kecamuk. Bapak mendengarkan dari balik telfon tanpa menyela. Setelah saya mengatakan, “ngoten lho pak” sebagai tanda akhir cerita, barulah bapak saya mulai bersuara. Dengan suara khasnya, beliau berkomentar, “Kalau niatnya baik, bismillah saja”. Kalimat singkat itu menjadi penguat tersendiri bagi saya. Meskipun setelahnya kami berbincang banyak hal dan geguyoan ala anak perempuan dan bapaknya yang kemanthil (dekat).

Setelah kegiatan tugas pertama di Lapas Tangerang dan Nusakambangan, jadwal selanjutnya terus bermunculan, hampir setiap minggu. Rasa-rasanya bergantian keluar masuk  pakaian saja dari koper. Rupanya tanpa sadar saya menikmati kegiatan itu. Saya jadi kewalahan mengatur jadwal profiling dengan magang. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, termasuk pendapatan yang cukup lumayan bagi mahasiswi semester akhir, saya menyudahi magang itu. Meskipun begitu, keinginan menjadi wartawan saat itu belum beralih. 

 

(bersambung)

***

Tulisan Khariroh Maknunah selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top