Melalui Riset dan Pengajaran: Dakwah Inayah Cegah Paham  Ekstrimis dan Radikalis

Oleh: Siti Robiah

Ditangkapnya seorang mahasiswa di Universitas Brawijaya (UB) Malang karena terduga teroris cukup mengejutkan khalayak ramai. Tidak hanya itu bahkan dia juga terlibat dalam jaringan teroris Internasional Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sejak 2019. Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigadir Jenderal Ahmad Nurwahid mengatakan kasus mahasiswa masuk dalam jaringan terorisme bukan hal baru, mengingat kelompok teroris memang banyak menargetkan kalangan generasi muda.

Melalui Riset dan Pengajaran: Dakwah Inayah Cegah Paham  Ekstrimis dan Radikalis

Penyebaran paham radikal dan ekstrim di kalangan anak muda dan kampus menjadi tantangan tersendiri. Maka perlulah  adanya bekal tentang  narasi kontra ekstrimisme untuk pencegahan secara lebih luas. Prof. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum.,MA menjelaskan. ekstrimisme ini diakibatkan karena kaitan antara ideologi, agama, dan fanatisme. Hal ini karena nalar kritis beragama yang lemah sehingga mudah untuk dimasuki paham ekstremisme.

 

 Kelompok Radikalis dalam Riset Inayah Rohmaniyah

Nyai Inayah Rohmaniyah yang merupakan salah satu tokoh Ulama Perempuan ini  melakukan dakwah cegah ekstrimisme melalui riset dan pengajaran di kampus. Ia berbagi pengalaman mengesankan tentang penelitiannya terhadap kelompok radikal HTI atau Hizbut Tahrir Indonesia. Dalam penelitiannya yang sudah ia lakukan sejak 2005 menyebutkan bahwa pola penyebaran pemahaman mereka dilakukan secara secara halus dan terstruktur.

“Pinter mereka dakwahnya sederhana sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kalau anak muda ya bicara pacaran” Inayah menuturkan saat mengisi kegiatan WGWC talk ke 8. 

Menurutnya juga, mereka datang dengan interaksi yang hangat dan terbuka sehingga siapapun akan mudah dibuat nyaman. Mereka sangat pintar dalam berpolitik bahkan dalam pembahasanya pemerintah dianggap tidak becus dan selalu menggiring opini mendukung khilafah. Pemikiran mereka  sangat memicu terjadinya banyak konflik dan pertikaian. Mereka dengan jelas ingin mengubah kedaulatan negara dari asas pancasila menjadi negara Islam sesuai keinginan mereka. 

Inayah yang merupakan dosen di UIN Sunan Kalijaga menyampaikan jika penyebaran mereka sangat halus dengan karakteristik yang khusus. Kelompok mereka sering masuk ke lembaga pendidikan kampus untuk menarik anak muda dan juga datang ke lapangan menarik masyarakat sebagai sasaran. Karena menurut Inayah HTI ini memang bicara tentang otak, brainwash pemikiran orang. 

Mereka akan masuk dengan mempertanyakan bagaimana  ajaran  Islam mengatur hubungan dengan lawan jenis, apalagi saat bergabung dengan organisasi. Dalam ranah masyarakat mereka juga tidak segan ikut kegiatan tahlil,  namun setelah itu akan dicampuri pemikiran mereka. 

 

Upaya  Cegah Ekstremis Di Lingkungan Akademis 

Inayah menekankan, meski Hizbut Tahrir Indonesia sudah dibubarkan, tidak menjamin ideologi negara Islam lepas dari para anggotanya. Dengan metode dakwah nonkekerasan, bisa menjadi pilihan untuk  menarik simpati lebih luas. Inayah menyampaikan pencegahan ekstrimisme harus  dilakukan  dengan lembut dan ramah. Sebagai seorang dosen yang sudah meneliti panjang terhadap gerakan radikal, Inayah tentu sudah paham ciri dan kekhasan dari gerakan mereka. 

Inayah berdakwah dengan lembut dan asik, caranya sangat unik. Sebagai dosen ia banyak mengintruksikan  buku bacaan  dan terkadang melontarkan candaan dan menggoda teman-teman yang bercadar. Ia memahami bahwa jalan pemikiran kelompok ekstrimisme itu hitam putih, maka salah satunya adalah dengan memberikan cara pandang baru agar mereka berubah yaitu melalui bacaan.  Pemahaman dan penyadaran nalar kritis beragama menjadi poin penting dalam memfilter pemahaman dari mereka. 

 

 Bagaimana Dampak  Pemikiran Ekstrimis Bagi Perempuan

Inayah juga menyoroti keterlibatan dan peranan perempuan dalam konflik radikalisme. Ada beberapa temuan menarik dari riset yang ia lakukan. Mereka banyak melibatkan perempuan tidak hanya di ranah domestik tapi juga publik, perempuan banyak dimainkan untuk menyampaikan pemikiran mereka. 

Pemikiran kelompok mereka konservatif dan kebenaran mereka tunggal sehingga anti dengan realitas. Implikasinya berakibat pada perempuan dimana mereka dimatikan akalnya dan dikooptasi. 

Hal yang susah menarik dari akar, ini persoalannya indoktrinasi di mana ini kesadaran palsu, masalah perempuan dengan akalnya sudah dimatikan, hal ketiga perempuan sudah dikooptasi” Inayah menjelaskan. 

Perempuan memang rentan menjadi korban dari doktrin ekstrimis. Jika sudah terjebak  ruang geraknya akan dibatasi, pemikiranya dimatikan. Perempuan akan dimanipulasi bahkan bisa menjadi tersangka pelaku radikal juga. Apa yang Nyai Inayah lakukan sebagai pengajar dalam melawan kontra ekstrimis kembali membuktikan bahwa perempuan punya andil besar dalam cegah paham ekstrimis apapun posisi mereka. 

Pendekatan yang Inayah pilih adalah hasil dari riset panjang terhadap kelompok ekstrim tersebut. Solusi yang ia tawarkan dari memberikan bacaan atau dilakukan dengan candaan kepada mahasiswanya tak lain dan tak bukan adalah cara pendekatan yang ramah dan tenang. Ia menyuruh mahasiswanya untuk banyak membaca agar memahami kebenaran itu tidak tunggal serta membangkitkan nalar kritis beragama. Dengan sensitivitas gendernya dia menjadi lebih peka dalam mengidentifikasi mahasiswanya yang sudah atau belum terpapar pemikiran ekstrimis. 

Ia mencoba memberi wawasan baru dengan membuka wawasan yang lain. Karena melawan pemahaman radikal dan esktrim bukan dengan konsep radikal lagi tapi harus dengan cara yang lebih mudah diterima, dipahami dan mudah  dimengerti. 

 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top