Oleh: Muflihah
Ekstremisme merupakan ancaman serius bagi keberagaman dan persatuan suatu bangsa. Paham-paham radikal yang seringkali mendasari ekstremisme dapat memicu konflik, kekerasan, dan perpecahan.
Contohnya, masih ada beberapa kelompok yang memiliki pandangan bahwa berteman dengan orang yang berbeda agama dapat membawa pengaruh untuk berpindah keyakinan. Pemikiran seperti ini tertanam kuat di guru dan kepala sekolah, menciptakan prasangka-prasangka yang melabeli pihak lain, seperti tuduhan antek Yahudi, kristenisasi, atau memaksakan siswa memakai hijab. Hal ini tentu berpengaruh besar terhadap pola pikir anak didik di sekolah. Dalam konteks ini, pemuda, khususnya perempuan, memiliki peran yang sangat krusial dalam upaya pencegahan.
Lindawati Sumpena adalah seorang perempuan muda yang mendedikasikan hidupnya untuk bergerak bersama kaum muda, khususnya perempuan, melakukan transformasi diri agar menjadi tangguh terhadap ancaman berbagai pola rekrutmen, baik di media sosial maupun di lingkungan sekitar.
Saat ini, Lindawati bekerja di Peace Generation Indonesia. Perjalanannya dimulai saat ia masih menjadi mahasiswi teknik. Dari rasa bosannya ini, ia mulai mengikuti kuliah filsafat, yang akhirnya menumbuhkan ketertarikan pada bidang Sosial. Kebetulan, di waktu yang sama, industri migas sedang mengalami masa sulit, dan ia merasa peluang kerja di bidang tersebut akan semakin sempit. Akhirnya, ia memutuskan untuk magang di Peace Generation dengan misi agar masyarakat Indonesia menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan.
Linda berasal dari keluarga yang heterogen. Ia lahir dari seorang ayah berdarah Sunda dan seorang ibu yang merupakan keturunan Tionghoa. Namun, keberagaman ini justru menjadi tantangan bagi Linda. Ia mengungkapkan bahwa dua sisi keluarganya yang berbeda kerap memberinya stigma dari keluarga besar ayahnya, sementara di sisi lain, hubungan dengan keluarga ibunya juga tidak terlalu dekat.
Di masyarakat sunda, ia juga kerap menghadapi stigma bahwa keturunan Chinese atau Tionghoa dianggap sebagai “orang kaya culas.” Pernikahan kedua orang tuanya pun tidak berjalan lancar, sehingga Linda tumbuh besar di lingkungan yang lebih homogen Untungnya, ia memiliki seorang nenek yang sangat menyayanginya dan menjadi sumber kebahagiaan dalam hidupnya.
Namun, ketika sang nenek meninggal dunia, Linda mengalami peristiwa yang menyakitkan. Saat ia dan ayahnya berziarah ke makam neneknya, seorang ustadz memberikan ceramah yang menyatakan, “Untuk apa ziarah ke makam orang Kristen? Untuk apa mendoakannya?” Pernyataan itu membuat keluarganya tidak lagi berziarah ke makam sang nenek. Pengalaman tersebut menorehkan luka sekaligus membuka mata Linda bahwa perbedaan seharusnya tidak menjadi faktor untuk memecah belah masyarakat.
Kisah inilah yang menggerakkan hati Linda dan membuatnya berkomitmen untuk mencegah ekstremisme serta mempromosikan toleransi. Melalui Peace Generation Indonesia, ia bekerja untuk menciptakan masyarakat yang lebih terbuka terhadap perbedaan dan mampu menghargai keberagaman. Peace Generation Indonesia adalah organisasi yang berfokus pada mengembangkan media kreatif sebagai sarana pendidikan perdamaian. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para guru dan pendidik agar dapat mengajarkan nilai-nilai perdamaian serta menggerakkan anak muda menjadi agen perdamaian. Dengan pendekatan yang inovatif dan kreatif, Peace Generation berupaya menanamkan konsep hidup damai dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan anak-anak dan generasi muda. Sebagai perempuan muda yang mendampingi anak muda, khususnya perempuan, Linda menganggap perannya di Peace Generation sebagai perjalanan yang menarik sekaligus kesempatan untuk mendobrak stigma bahwa perempuan adalah pihak yang rentan dan selalu membutuhkan perlindungan. Linda menyadari bahwa banyak anak muda, terutama perempuan, menghadapi berbagai tantangan di masa kini, seperti diskriminasi, stigma sosial, dan kurangnya ruang untuk berekspresi. Hal ini mendorongnya untuk terus bergerak memberikan dampak positif dan memberdayakan perempuan muda agar menjadi tangguh dan berani mengambil peran dalam upaya perdamaian.
Pada tahun 2007, Peace Generation Indonesia melahirkan sebuah buku berjudul “12 Nilai Dasar Perdamaian”. Buku ini dirancang sebagai upaya pendekatan sederhana untuk mengajarkan konsep perdamaian kepada anak-anak dan pemuda. Di dalamnya, terdapat berbagai permainan dan aktivitas yang bertujuan menjadikan nilai-nilai perdamaian sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Pendekatan yang menyenangkan dan edukatif ini diharapkan dapat menanamkan prinsip-prinsip perdamaian sejak usia dini, sekaligus mempersiapkan generasi muda untuk menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing. Pada tahun 2022, sebuah lembaga survei di Indonesia menemukan fakta menarik: “Indonesia sangat beragam, namun hanya 15% masyarakatnya yang memiliki interaksi bermakna dengan kelompok agama yang berbeda. Kondisi ini sangat rentan terhadap polarisasi, sehingga orang mudah dihasut dan terkena propaganda untuk melakukan kekerasan”
Berdasarkan temuan tersebut, Linda dan tim memutuskan untuk memperbanyak ruang-ruang perjumpaan yang menyenangkan bagi kaum muda guna menumbuhkan toleransi. Peace Generation memilih sekolah sebagai target perubahan karena dianggap memiliki keberlanjutan yang menjanjikan. Sekolah adalah tempat di mana siswa berinteraksi dengan teman sebaya, guru, dan orang dari berbagai latar belakang. Lingkungan sekolah yang inklusif dan toleran dapat menjadi benteng terhadap penyebaran paham-paham radikal.
Dalam pendekatan terhadap anak muda perempuan, Linda menggunakan board game sebagai salah satu metode utama. Media ini dianggap efektif untuk i mengubah mindset dan perilaku anak muda yang terlibat dalam program, sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang interaktif dan menyenangkan.
Melalui board game, dialog yang setara dapat difasilitasi di antara para pemain. Salah satu kekuatan utama board game adalah kemampuannya menciptakan konflik yang harus dihadapi oleh pemain. Saat konflik muncul, pemain akan mencari cara mereka sendiri untuk menyelesaikannya. Setelah permainan selesai, barulah sesi refleksi dilakukan bersama untuk membahas dan mengevaluasi nilai-nilai apa yang telah mereka pelajari selama permainan. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan metode penjelasan panjang lebar. Dengan menggunakan board game, Peace Generation mampu menyebarkan pesan perdamaian kepada target kampanye secara lebih mudah. Kampanye yang dikemas dalam bentuk permainan menarik ini sangat melibatkan anak muda, bahkan anak-anak di bawah umur, sehingga pesan perdamaian dapat disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Metode ini membantu Peace Generation mencapai tujuan utamanya, yaitu menyebarkan perdamaian secara efektif dan berkesan.
Peace Generation menggunakan dua pendekatan utama dalam upaya mereka: nalar kritis dan empati. Dengan mendorong anak muda bernalar kritis, mereka dapat memahami dan memutuskan untuk tidak terlibat dalam kelompok radikal. Sebab, sebagian besar anak muda yang bergabung dengan kelompok ekstrem sebenarnya mencari perubahan, tetapi sayangnya mereka kurang memiliki kemampuan berpikir kritis dan kurangnya empati terhadap orang lain.
Peace generation percaya bahwa nalar kritis dan empati harus berjalan beriringan. Jika keduanya tidak disatukan, anak muda rentan membuat keputusan yang keliru dan berpotensi bergabung dengan kelompok radikal. Oleh karena itu, mereka terus berupaya menanamkan kedua nilai ini melalui pendekatan kreatif dan inklusif.
Pencegahan ekstremisme melalui sekolah menjadi investasi jangka panjang yang sangat penting. Dengan pendekatan yang komprehensif serta melibatkan semua pihak—siswa, guru, dan masyarakat— diharapkan dapat menciptakan generasi muda yang toleran, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Linda juga membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan dan potensi yang setara dengan laki-laki. Perjuangannya bersama Peace Generation telah membawa perubahan positif yang signifikan. Namun, perjuangan ini belum berakhir. Setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan dunia yang lebih adil, setara, dan saling menghargai perbedaan.





