Perjalanan menuju perubahan besar, selalu dimulai dengan langkah kecil. Bagi Kartini, langkah kecil itu adalah membangun mushola di tanah belakang yang disediakan oleh abang ipar suaminya. Keputusan ini menjadi titik awal dalam perjalanan transformasinya.
“Jadi ingat saya waktu itu punya uang sedikit, kemudian tanah belakang ini tanah abang ipar suami saya. Begitu suami saya keluar (dari hukumannya), abang suami saya ini tadi takut suami saya ikut lagi dalam kelompok ekstremisme, jadi disuruh udah bertani aja dulu. Mula-mula ini hutan karena di sini enggak punya mushola, nggak ada tempat ibadah. Jadi uang yang saya punya ala kadarnya saya bikinkan dulu lah mushola. Paling tidak nanti kalau tempat salat sudah berdiri pasti ada anak yang ngaji, dan saya percaya kalau namanya niat baik, pasti Allah bantu.” demikian Kartini, mengenang awal perjalanannya, sebagaimana diceritakan melalui film dokumenter di kanal Youtube Srikandi Lintas Iman Yogyakarta.
Perjalanan Awal Menjadi Aktivis Teroris
Kartini mengenal Negara Islam Indonesia (NII) sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Awalnya, ia bergabung melalui forum-forum kajian yang digelarkan dari rumah ke rumah. Saat SMA, ia dikenal sebagai siswa yang tidak mau hormat bendera merah putih.
“Sudah ditanamkan bahwasanya menghormat bendera itu haram dan bisa merusak akidah. Saya sampai dimarahi guru sosiologikarena tidak mau hormat bendera. Waktu itu,saya tidak merasa salah,” ungkap Kartini. Ia percaya bahwa ekstremisme tidak mengenal latar belakang pendidikan atau profesi. “Kalau paham itu sudah kita jiwai, siapapun bisa jadi teroris.”
Bersama suaminya, Khairul Ghazali, yang dikenal sebagai ideolog, Kartini turut menjalani kehidupan yang penuh kontroversi. Suaminya terlibat dalam kasus perampokan Bank CIMB Niaga Medan dan penyerangan Polsek Hamparan Perak. Mereka sempat merantau ke Malaysia selama 10 tahun. Di Tanjungbalai, pasangan ini membuka tempat mengaji untuk anak-anak, sementara Khairul Ghazali juga dipercayakan menjadi imam masjid. Selama masa itu, mereka manfaatkan kesempatan untuk mendoktrin ideologi ekstremisme kekerasan kepada orang-orang di sana.
Titik Balik Kehidupan
Kehidupan Kartini berubah drastis ketika suaminya ditangkap di Tanjungbalai bersama lima kawannya, dua di antaranya meninggal. Suaminya dibawa ke Jakarta, sementara Kartini ditahan di Polres Tanjungbalai selama satu minggu. Setelah bebas, ia kemudian menyusul suaminya ke Jakarta.
Kartini merasakan kepedihan yang amat mendalam karena suaminya ditahan. Ia berpikir dan menyadari bahwa paham yang dianutnya sangatlah tidak baik, karena dampaknya luar biasa terhadap anak-anak dan keluarga.
“Akhirnya saya menyadari buah dari pemahaman yang saya anut sangat memperburuk kehidupan. Saya tidak hidup sendiri, jadi saya ngalah untuk keluar dari lingkup pemikiran radikal dan memilih fokus mengurus anak-anak,” ujar Kartini.
Setelah memilih jalan damai, Kartini dan suaminya memutuskan untuk berkarya dan mengabdi di bidang pendidikan. Ia melihat banyak teman di lingkungannya yang anak-anaknya tidak bersekolah. Dengan tekad yang kuat dan ekonomi seadanya, Kartini mendirikan sebuah sekolah. Namun sebelum itu, ia memilih membangun mushola terlebih dahulu dengan bantuan kakak iparnya.
“Setelah suami saya keluar dari tahanannya, kakak ipar saya takut kalau bakalan ikutan lagi paham-paham radikal, jadi dia menyuruh untuk bertani saja,” kenangnya.
Membuka Jalan Baru di Pesantren Al Hidayah
Dengan memanfaatkan hasil pertaniannya, Kartini mulai membangun pesantren dan mendapatkan dukungan dari pemerintah, kepolisian, serta BNPT. Pesantren Al Hidayah akhirnya diresmikan pada tahun 2016. Awalnya, pesantren ini hanya menyediakan asrama dan pendidikan gratis untuk anak-anak napiter dan mantan napiter. Namun, lambat laun, masyarakat juga mempercayakan pendidikan anak-anaknya di Pesantren Al Hidayah karena kualitas pendidikannya.
Kartini membantu anak-anak yang tidak memiliki ijazah dengan menyekolahkan mereka melalui jalur paket. Ia juga memikirkan bagaimana jika anak-anak tidak memiliki keilmuan, bagaimana dengan masa depan mereka. Di situlah Kartini menciptakan strategi pendidikan yang dapat menumbuhkan kesadaran kepada anak didiknya bahwa pemikiran dan paham radikal sangatlah tidak baik bagi kehidupan.
“Saya tidak takut sekolah di sini. Pengajarannya baik dan bagus. Meski banyak stigma yang diterima guru kami, tapi guru kami sudah taubat. Guru-guru di sini juga mengajarkan toleransi dan mengajari kami untuk melawan terorisme. Buya dan Umi dengan sangat baik merawat kami seperti anaknya sendiri.” Ungkap Andini Riska, seorang siswi SMP Al Hidayah.
Menguatkan Peran Perempuan dalam Perdamaian
Kartini adalah contoh nyata bagaimana perempuan dapat menjadi agen perubahan yang luar biasa. Dengan memanfaatkan pengalaman pahit masa lalunya, ia kini menyebarkan pesan damai melalui pendidikan. Kartini percaya bahwa perempuan harus menggali nilai-nilai perdamaian dalam Islam dan mengajarkannya kepada keluarga dan masyarakat.
Kisah Kartini menginspirasi kita untuk mendukung lebih banyak perempuan menjadi agen perdamaian di lingkungannya. Peran perempuan sangatlah penting, tidak hanya dalam keluarga tetapi juga dalam komunitas yang lebih luas. Keberanian untuk berubah dan semangat berbagi ilmu, seperti yang ditunjukkan Kartini, membuktikan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk menciptakan dampak positif yang signifikan di masyarakat.
Mari bersama-sama mendukung Kartini dan perempuan lain yang menjadi agen perdamaian. Kita butuh lebih banyak sosok seperti Kartini di berbagai tempat, untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi di tengah keberagaman.






