Keterlibatan Perempuan dalam Pencegahan Tindakan Intoleransi Pada Anak Muda

Intoleransi adalah sikap tidak bisa menerima perbedaan, di mana seseorang yang bersikap intoleran akan kesulitan menghargai dan menghormati keyakinan atau pendapat yang berbeda darinya. 

Hal ini terjadi pada seorang siswi berinisial B di SDN Jomin Barat II, Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang menjadi korban perundungan (bullying) oleh murid, guru, dan kepala sekolah. Penyebab utamanya adalah karena siswi tersebut berasal dari keluarga Penghayat Kepercayaan. Pihak sekolah bahkan memaksa siswi B untuk mengenakan jilbab. Meskipun telah mengenakan jilbab secara terpaksa, siswi B tetap mengalami perundungan, termasuk tindakan kekerasan fisik hingga mengakibatkan hidungnya berdarah.

Keterlibatan Perempuan dalam Pencegahan Tindakan Intoleransi Pada Anak Muda

Orang tua siswi B telah melaporkan kejadian ke Dinas Pendidikan setempat dan kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Namun, perundungan terhadap B justru semakin parah. Situasi ini memaksa keluarga untuk menarik siswi B dari sekolah tersebut dan kembali kampung halaman. Keputusan ini juga membuat ayah B harus berhenti dari pekerjaannya di Cengkareng dan mencari pekerjaan baru di tempat asal.

Kasus ini hanyalah salah satu dari banyak kasus intoleransi yang terjadi di kalangan anak muda. Bahkan, survei yang dilakukan oleh Setara Institute for Democracy and Peace menunjukkan  bahwa jumlah pelajar intoleran aktif di sekolah tingkat menengah atas (SMA) dan sederajat di lima kota yang disurvei mengalami peningkatan.

Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan, mengungkapkan bahwa dibandingkan dengan survei pada tahun 2016, terjadi peningkatan jumlah pelajar yang intoleran aktif. Pada survei tujuh tahun lalu, terdapat 2,4 persen pelajar yang intoleran aktif, sedangkan yang terpapar intoleransi sebanyak 0,3 persen. Kini, angka tersebut meningkat secara signifikan.

 

Latar Belakang Keterlibatan Alif dalam Pencegahan Tindakan Toleransi

Melihat peningkatan jumlah pelajar yang menunjukkan sikap intoleran, Alifatul Arifiati terdorong untuk terlibat dalam upaya pencegahan dan penanaman sikap toleransi pada anak muda. Alifatul Arifiati sendiri merupakan seorang inisiator perdamaian yang aktif di kalangan anak muda di Wilayah III Cirebon. 

Selain angka intoleransi yang terus meningkat, motivasi Alif  untuk ia menjadi inisiator perdamaian juga dilatarbelakangi oleh kegelisahannya melihat kondisi sebagian masyarakat, terutama anak muda, yang masih merasa takut atau enggan untuk berkunjung ke gereja. Ketakutan tersebut sering kali didasari prasangka yang tidak beralasan, seperti kekhawatiran akan kristenisasi dan lain sebagianya. 

Padahal, realitasnya seringkali jauh berbeda. Alif sendiri pernah merasakan  pengalaman berharga yang membuka pandangannya, yaitu saat ia mengikuti kegiatan dialog lintas iman. Dalam kegiatan tersebut, Alif merasakan bagaimana toleransi dan kerukunan antarumat beragama dapat terwujud. Salah satu momen yang tak terlupakan adalah ketika ia dan beberapata teman muslimnya merasakan salat di gereja. 

Saat itu, mereka tiba lebih awal untuk menyiapkan tempat diskusi. Ketika waktu salat tiba, pihak gereja tidak hanya mengingatkan mereka untuk salat terlebih dahulu, tetapi juga dengan ramah menyiapkan tempat dan kebutuhan untuk mereka melaksanakan ibadah. Pengalaman tersebut menjadi titik balik bagi Alif untuk semakin aktif mempromosikan toleransi dan perdamaian di masyarakat.

 

Keresahan Alif

Namun pengalaman berharga yang dialami Alif ternyata belum banyak  dirasakan oleh orang lain, terutama di kalangan anak muda. Menurut Alif, masih banyak orang-orang di sekitarnya yang merasa takut untuk bertemu dengan individu yang berbeda keyakinan, apalagi sampai datang dan masuk ke rumah ibadah mereka.

Hal ini disebabkan oleh berbagai stigma yang masih melekat terhadap orang-orang dengan keyakinan berbeda. Misalnya, ada ketakutan akan unsur kristenisasi  atau asumsi negatif lainnya.  

Berangkat dari keresahan ini, Alif merasa bahwa ruang-ruang perjumpaan dengan orang yang berbeda keyakinan sangatlah penting. Ruang tersebut dapat menghilangkan kecurigaan dan prasangka buruk, sehingga tercipta kehidupan yang rukun di mana setiap orang dapat saling memahami dan menghormati keyakinan masing-masing.

Oleh karena itu, sejak tahun 2013, Alif bersama teman-temannya di Fahmina Institute memulai sebuah program bernama Sekolah Cinta Perdamaian (SETAMAN). Program ini bertujuan untuk mempertemukan anak-anak muda dari berbagai agama, sehingga mereka dapat belajar bersama tentang pentingnya menjaga perdamaian.

Selain itu, Alif juga membuka ruang-ruang perjumpaan lainnya untuk menguatkan isu-isu kemanusiaan dan keadilan di kalangan anak muda, perempuan, dan tokoh agama. Melalui program-program ini, ia terus memperjuangkan nilai-nilai toleransi dengan harapan terciptanya masyarakat yang lebih damai dan inklusif.

 

Tumbuh Berbagai Tunas Komunitas Anak Muda

Dari semua yang pernah Alif tanamkan kepada anak-anak muda untuk terus mengkampanyekan perdamaian, kini ia mulai menuai hasilnya. Berbagai inisiatif yang ia dorong bersama para pemuda telah membuahkan hasil nyata di masyarakat.

Pertama, di Cirebon Timur, telah terbentuk Forum Komunikasi Lintas Iman (Forkolim) Remaja. Komunitas ini terdiri dari para remaja lintas iman yang bergerak aktif dan berkelanjutan mengkampanyekan perdamaian serta melakukan sosialisasi pencegahan ekstremisme. Forkolim menjadi wadah bagi para remaja untuk berdialog, berbagai pengalaman, dan menciptakan kerja sama yang harmonis di tengah keberagaman.

Kedua, di Majalengka, berdiri Komunitas Pemuda Pelopor Toleransi (Kumpparan). Komunitas ini juga beranggotakan pemuda lintas iman yang secara aktif melakukan dialog antar agama dan membuka ruang-ruang perjumpaan untuk mempererat hubungan antar komunitas. Melalui kegiatan yang inklusif, Kumpparan berhasil mendorong oemuda untuk saling memahami dan menghormati perbedaan..

Ketiga, di Kuningan, lahir komunitas Jaga Pelita, sebuah komunitas i perempuan  lintas iman yang fokus menyuarakan isu perdamaian kepada anak muda. Jaga Pelita menjadi bukti nyata bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menyuarakan perdamaian dan mencipatakan ruang dialog yang inklusif. 

Melalui berbagai inisiatif ini, terlihat bahwa keterlibatan perempuan dalam mengupayakan perdamaian sangatlah penting. Keterlibatan tersebut dapat diwujudkan  dengan cara membuka ruang-ruang perjumpaan untuk menguatkan isu kemanusiaan dan keadilan bagi anak-anak muda, perempuan, dan tokoh agama. Dengan langkah ini,isu toleransi dapat terus digaungkan dan diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat.

 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top