Saat ini, Indonesia sedang menunggu mungkin lebih dari 600 orang yang sedang berada di perbatasan Suriah dan Irak. Mereka masih berada di kamp-kamp pengungsian dan mereka adalah warga Indonesia yang ingin pulang ke tanah air.
“Ada banyak kendala bukan hanya karena keputusan pemerintah yang hanya membatasi anak usia di bawah 10 tahun, seperti yang pernah diumumkan oleh Kemenko Polhukam, tetapi ada sisi lain yang juga menjadi penghalang mereka untuk pulang, yaitu persoalan kesadaran diri,” buka Roby Kholifah dalam Podcast She Build Peace.
Ruby mengatakan bahwa butuh waktu yang cukup panjang untuk bisa mengarahkan mereka pulang. Selain itu, Indonesia juga perlu berbenah di dalam membuat regulasi yang lebih ramah dan penting juga memikirkan keterlibatan masyarakat di dalam proses reintegrasi.
Dalam Podcast She Build Peace, Ruby menghadirkan, Devi Brilianti dan Walginah, dua sosok perempuan inspiratif yang dengan sabar dan telaten melakukan dialog dan reintegrasi bagi para returni (keluarga atau individu yang dipulangkan dari Irak dan Suriah) dengan masyarakat. Dua Srikandi Mekarjaya ini aktif melakukan kerja-kerja perdamaian dari akar rumput.
Seperti kita ketahui bersama, reintegrasi berperan penting dalam memulihkan kepercayaan diri individu para mantan simpatisan ekstrimisme. Mereka mungkin selama ini merasa bahwa kehadirannya dalam masyarakat dianggap tidak berguna dan posisinya teralienasi dari masyarakat. Oleh sebab itu, reintegrasi berguna untuk membantu mereka kembali beradaptasi, bersosialisasi, dan merasa diterima di lingkungan sekitar. Hal demikian yang kemudian dilihat oleh Devi dan Gina, mereka merasa bahwa reintegrasi adalah yang sangat berarti untuk merajut kembali hubungan para returni dengan masyarakat.
Dialog yang Mengubah Perspektif
Awalnya, tangan Devi dan Gina terasa kaku dan grogi ketika mereka pertama kali berhadapan dengan keluarga returni yang diduga masih terpapar ekstremisme. Saat itu merupakan pengalaman pertama mereka terjun dan berinteraksi langsung dengan keluarga returni, setelah sebelumnya hanya mendengar dan mengetahui lewat materi presentasi saat mengikuti pelatihan dan penguatan kapasitas. Namun, setelah berlangsungnya dialog terus menerus, mereka berhasil membuka dan mengetuk pintu hati keluarga tersebut. Dengan kesabaran dan empati, Devi dan Gina mampu menjalin komunikasi yang mendalam, menunjukkan pemahaman terhadap situasi yang dihadapi keluarga returni, dan membangun kepercayaan. Mereka akhirnya meruntuhkan dinding ketegangan dan membuka jalan untuk dialog yang lebih terbuka, dan menciptakan kesempatan bagi keluarga returni untuk berbicara tentang pengalaman mereka dengan lebih jujur dan terbuka.
Devi dan Gina tergabung dalam Tim Tangguh, tim yang secara khusus dibentuk oleh Kelurahan Mekarjaya untuk mengupayakan reintegrasi sosial para mantan simpatisan ekstrimisme dan pendukung ISIS pada khususnya. Tujuan dari dibentuknya Tim Tangguh ini adalah untuk memperkuat kohesi sosial, mendukung reintegrasi sosial, serta mempertahankan ketahanan masyarakat terhadap ekstrimisme kekerasan. Devi dan Gina secara aktif melakukan pendekatan terhadap keluarga returni. Dengan melakukan dialog secara intim dan reflektif, mereka menyediakan ruang aman bagi para “mantan” untuk berbagi perasaan dan pikiran mereka tanpa perlu takut dihakimi. Langkah-langkah yang dua Srikandi ini lakukan terbukti efektif dalam meruntuhkan prasangka yang ada, baik prasangka masyarakat terhadap mereka maupun sebaliknya. Gina dan Devi dengan diplomasinya berhasil mengembalikan jati diri dan kepercayaan diri keluarga returni untuk kembali ke dalam pangkuan masyarakat.
Peran Tangan Dingin dan Kepemimpinan Perempuan
Kepemimpinan perempuan dalam proses reintegrasi sosial terbukti efektif dalam merangkul kembali eks simpatisan ekstrimisme. Peran Gina, Ketua RW dan Penggerak Tim Tangguh Kelurahan Mekarjaya, serta Devi, Penggerak PKK dan Penggerak Tim Tangguh Kelurahan Mekarjaya, merupakan contoh nyata dari bagaimana perempuan memainkan peran kunci dalam mengatasi radikalisme dan memfasilitasi proses reintegrasi sosial. Mereka tidak hanya menunjukkan empati, tetapi juga menempatkan hati dalam setiap langkah perubahan di masyarakat. Pendekatan dialog dari hati ke hati ala perempuan, yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan tradisional yang cenderung kaku, menjadi ciri khas kepemimpinan mereka.
Peran perempuan dalam melakukan reintegrasi sosial terhadap keluarga returni memiliki kekhasan yang mencolok, terutama dalam hal keluwesan mereka beradaptasi dengan berbagai kalangan di masyarakat. Tidak seperti pendekatan yang lebih formal dan top-down, kehadiran perempuan sebagai perwakilan masyarakat cenderung lebih mudah diterima. Respons warga biasanya lebih hangat dan lebih terbuka ketika yang datang adalah perempuan. Perempuan memiliki cara berkomunikasi yang lebih fleksibel dan empatik, memungkinkan percakapan menjadi lebih terbuka dan santai. Hal ini membuat para mantan simpatisan ekstrimisme merasa lebih didengar dan dihargai, sehingga menciptakan ruang yang lebih inklusif untuk berbagi pengalaman dan merajut kembali hubungan dengan masyarakat.
Kepemimpinan perempuan, seperti yang ditunjukkan oleh Gina dan Devi, berperan penting dalam proses reintegrasi ini. Mereka mampu menghadirkan empati dan menciptakan ruang dialog yang lebih efektif. Kepemimpinan berbasis empati ini tidak hanya memfasilitasi keterlibatan keluarga mantan pendukung ekstrimisme. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran perempuan dalam membawa perubahan yang bermakna, dengan memperlihatkan bahwa pendekatan yang berbasis pada kepedulian dan pemahaman lebih mampu meresapi hati masyarakat dan menciptakan dampak positif yang lebih luas.






