Dialog Lingkaran Kecil dan RSD
Lurah Zainal sehati dengan pendekatan dialog yang bisa mengurangi kekhawatiran dan kecemasan baik pada warga dan warga binaannya. Untuk membangun komunikasi dengan masyarakat menurutnya tidak bisa tiba-tiba diadakan sebuah forum bersama. Masyarakat akan kaget. Begitu juga keluarga mantan pendukung ISIS. Menjalin hubungan personal dengan warga dan mantan adalah kunci mengupayakan iklim yang lebih kondusif untuk dialog reflektif.
“Masa sih sudah di-back-up kelurahan dialognya tidak aman buat kami?” tutur Mega, menirukan Abu Khair ketika menanggapi undangan dialog Tim Tangguh.
Tim Tangguh dan WGWC mengadakan dialog kelompok kecil untuk mendengarkan masalah dan kekhawatiran semua calon peserta lebih dalam terkait reintegrasi. Bagaimanapun, reaksi Abu Khair menandakan keberhasilan Tim Tangguh mengundang minat mantan kombatan mengikuti dialog.
Dialog kecil terbagi dalam empat kelompok yaitu mantan kombatan dan keluarganya; aparat pemerintah dan penegak hukum; warga yang mendukung reintegrasi dan warga yang masih resah dan curiga terhadap kembalinya mantan di wilayahnya. Tiap dialog kecil difasilitasi dua orang terlatih dari WGWC. Dialog ini bertujuan menciptakan ruang komunikasi terbuka, di mana para pihak dalam satu kelompok yang sama dapat berbicara, mendengar, dan saling memahami perspektif mereka soal reintegrasi. Dialog lingkaran kecil juga dimaksudkan membangun kepercayaan dan hubungan positif tanpa curiga. Di sisi lain, dialog dibangun untuk memupuk kepercayaan sebagai landasan menanggapi perbedaan pandangan.
Januari 2022. Tiba waktu dialog di 4 lingkaran, yang dijalankan di waktu dan tempat berbeda. Dua fasilitator di tiap kelompok mulai membentuk lingkaran. Bersama 2 wakil Tim Tangguh, fasilitator datang lebih awal, menata ruang dan tempat duduk melingkar. Tiap kursi sudah diberi tanda nama peserta. Fasilitator membuka dan menyampaikan tujuan dan tema dialog, dan kesepakatan komunikasi. Lalu dialog berjalan, memberi waktu bicara secara bergiliran Proses ini memungkinkan semua peserta berbicara tenang untuk didengar. Ada batasan waktu bicara, sehingga semua mendapatkan porsi bicara yang sama. Fasilitator mengenalkan metode “think, write, speak”. Meminta peserta memikirkan jawaban, lalu ditulis, barulah disampaikan. Ini memudahkan peserta mengungkapkan pandangan dalam waktu singkat, tidak bertele-tele, karena tiap pertanyaan hanya diberi waktu jawab maksimal 2 menit oleh fasilitator.
Di kelompok aparat penegak hukum, dialog menggali kerugian yang ditimbulkan aksi terorisme, dan mendengar hal-hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Merespon kembalinya mantan di lingkungan mereka, para aparat kelurahan dan kemanan memasang CCTV untuk mengawasi pergerakan mantan dan keluarganya. Ternyata tidak hanya keluarga Abu Khair dan Thariq, warga juga merasa tak nyaman dengan keberadaan CCTV ini. Dalam dialog ini fasilitator memberi waktu bergilir untuk peserta menjawab pertanyaan, “Bagaimana perasaan Bapak/Ibu ketika ada warga yang merasa tidak nyaman karena diberi label teroris dan gerak-gerik kehidupan pribadinya diawasi melalui CCTV? Bagaimana perasaan Bapak/Ibu jika berada dalam posisi mereka?”
Di dialog lingkaran kecil yang dinamakan “Masyarakat Peduli Reintegrasi” fasilitator meminta peserta menyampaikan dengan jujur perasaan dan pandangan mereka ketika ada warga dikucilkan karena perbuatannya. Juga secara bergiliran 5 orang perempuan peserta ini merespon pertanyaan, “Bagaimana perasaan Bapak/Ibu ketika ada warga menghakimi orang lain karena perbuatannya, misalnya, karena warga tersebut pernah bergabung dengan kelompok ISIS?”
Sementara dalam dialog lingkaran ”Masyarakat yang Merasa Terdampak”, secara bergiliran peserta mengutarakan perasaan dan pandangan mereka tentang gunjingan di antara warga terkait keluarga mantan pendukung ISIS, dan dampak buruk gunjungan tersebut bagi keluarga mantan tersebut. Mereka juga diminta merefleksikan bagaimana perasaan orang yang digunjingkan, dan bagaimana memperbaiki keadaan tersebut.
Di tempat terpisah, dialog dengan kelompok “Mantan Kombatan” menghadirkan 6 orang keluarga mantan, yaitu Thariq beserta istri dan anaknya, dan Abu Khair bersama istri dan anaknya. Mega bersama Direktur Empatiku, Mira, memfasilitasi dialog selama dua jam di ruang tamu rumah kontrakan Thariq. Secara bergantian, mereka menceritakan pengalaman dan perasaannya selama tinggal di Sekarharum dan berusaha menjawab pertanyaan berikut:
“Bagaimana pengalaman positif Anda dalam relasi dengan warga Sekarharum?
“Apakah Anda juga mengalami kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan?
“ Menurut pandangan Anda, mengapa warga melakukannya? Kira-kira apa yang warga sedang rasakan?
Apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaiki keadaan ini?”
Proses dialog ternyata dapat terus berjalan walau Lurah Zainal Arifin sudah menyelesaikan masa tugas di Mekarjaya; penggantinya adalah Ibu Nelda Purnadia Wardhani yang terbukti semangat meneruskan dukungan Zainal pada proses reintegrasi.
Selepas dialog lingkaran kecil, Lurah Nelda mengunjungi keluarga Abu Khair. Kehadiran Ibu Lurah ini sangat berarti. Seperti memberi pesan bahwa pemerintah dan warganya menerima mereka kembali di masyarakat. Belakangan, Abu Khair juga merasa didukung untuk mengembangkan usaha. Istrinya memberi kesan, “Penerimaan beliau (Lurah Nelda) kepada keluarga kami dan dukungan beliau kepada usaha rumahan kami ditunjukkan dengan antusias menggali potensi usaha kami. Itu yang membuat kami merasa diterima dan diperhatikan di lingkungan kami. Terus terang kami terharu.”
Dialog lingkaran kecil kembali dilakukan di empat kelompok yang sama, untuk memperdalam pandangan, memberi ruang lebih untuk saling bicara dan mendengar guna meningkatkan pemahaman, sebagai upaya pemulihan hubungan. Kali ini, lingkaran kecil ditambah untuk anak muda; pandangan mereka juga perlu didengar. Sebagaimana proses penyiapan dialog sebelumnya, Tim Tangguh melalui Devi dan Gina mengidentifikasi dan mendekati sejumlah anak muda terutama dari Forum Anak Mekarjaya, untuk bersedia ikut dialog, yang dijadwalkan akhir Maret 2022.
(bersambung)
***
Tulisan Ghufron selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





