Membuka Jendela Hati Warga
Di ruang aula RW 03, telah berkumpul Tim Tangguh, bersama tim WGWC dari Empatiku, AMAN Indonesia, DASPR, C-SAVE, dan YPP. Mereka duduk membentuk huruf U. Sebentar kemudian, disusul Lurah Zainal yang berbaju dinas. Lurah Zainal memimpin rapat dengan dua agenda. Pertama, penyampaian hasil profiling atau identifikasi dan analisa karakter dan persepsi calon peserta dialog tentang reintegrasi. Tujuan kedua menyiapkan kebutuhan teknis penyelenggaraan dialog.
Dua perempuan, yang akrab disapa bu Gina dan bu Devi, mewakili Tim Tangguh dan Mega mewakili Empatiku/WGWC memaparkan hasil kajian mereka tentang profil warga dan mantan kombatan dan keluarganya yang akan didorong untuk berdialog. Dari tuturan Mega, kriteria yang hadir adalah yang memahami perasaan dan kondisi kecemasan masing-masing orang. Juga, yang dapat menilai adanya keinginan warga untuk mendengar cerita atau pengalaman langsung dari mantan dan keluarganya. Sebaliknya, Abu Khair dan keluarganya, juga keluarga Thariq, membuka diri jika diundang dalam dialog.
Profil para calon peserta dialog adalah hasil kerja tersembunyi Tim Tangguh, terutama Gina dan Devi dari Divisi Pendataan dan Penanganan Kasus Tim Tangguh yang ditemani Mega. Ketiganya memetakan siapa saja aktor pemerintah yang penting didudukkan dan perlu digali persepsinya tentang reintegrasi. Lalu, mereka berkeliling menemui warga baik perempuan dan laki-laki yang diasumsikan memiliki ragam persepsi soal reintegrasi. Di antaranya, mereka yang masih khawatir menyampaikan ketakutan atau ketidakpastian apa yang mungkin terjadi selama atau setelah proses reintegrasi, dan juga mereka yang memiliki harapan dan memberikan kesempatan kedua bagi mantan kombatan. Terakhir, Tim Tangguh mendekati keluarga Abu Khair dan Thariq. Dari pandangan Mega, mereka yang menjalani reintegrasi masih khawatir menghadapi label negatif atau diskriminasi dari masyarakat karena masa lalu mereka. Ini bisa memengaruhi peluang membangun dialog, hubungan sosial, dan keterlibatan mereka dalam berbagai aktivitas yang tengah dirancang Tim Tangguh.
Selepas profiling, Gina dan Devi bersama Mega melakukan sejumlah kunjungan ke mantan kombatan dan keluarganya, warga dan aparat penegak hukum untuk memastikan kesediaan mereka berdialog. Dalam kunjungan, mereka bertiga menggali kekhawatiran apa saja yang dipikirkan nara sumber untuk mengikuti dialog. Di sinilah kesempatan Mega, Gina dan Devi menyampaikan tawaran kesepakatan komunikasi dalam dialog yaitu memberi ruang dialog setara, waktu bicara yang sama, dan terjamin kerahasiaannya. Calon peserta dialog juga ditanyai kebutuhannya saat dialog, misalnya apakah berencana membawa anak atau tidak. Jika dibutuhkan, Tim Tangguh menyediakan ruang bermain anak, agar anak-anak tidak berada dalam lingkaran dialog.
Proses ini membutuhkan kesabaran dan kelapangan hati menghadapi orang yang berbeda-berbeda persepsinya, ungkap Mega. Mereka menggunakan pendekatan reflektif, dengan pertanyaan “bagaimana perasaan dan pengalaman Bapak/Ibu terkait reintegrasi sosial”. Mega memandang, pendekatan ini membuka percakapan intim, jujur dan terbuka. Persepsi, emosi, dan harapan tiap calon peserta yang didekati, menjadi dasar Tim Tangguh dan WGWC meramu skenario dialog, baik yang untuk fase pertama yaitu dialog dalam lingkaran kecil, dan fase kedua yakni dialog lingkaran besar.
Di awal, mereka berusaha agar warga tinggal sedekat mungkin dengan para mantan. Salah satunya, seperti yang dituturkan Mega, adalah istri ketua RT yang tinggal berseberangan dengan rumah kontrakan Abu Khair. Saat mengetahui status tetangganya sebagai mantan, yang ia dengar dari suaminya, Ibu RT langsung menolak kehadiran keluarga tersebut. Seperti warga umumnya, ia masih awam memahami status mantan, terutama mantan pendukung ISIS yang dipulangkan. Ia hanya mendengar kalau di kampungnya terdapat mantan teroris yang diawasi aparat penegak hukum. Ini yang membuatnya khawatir.
Setelah ditemui Mega, Devi dan Gina, ibu RT sedikit mendapat informasi mengapa penting menerima keberadaan mantan melalui program reintegrasi. Meski masih khawatir, Ibu RT memilih merahasiakan status keluarga Abu Khair. Dan ini tantangan sebenarnya reintegrasi.
Pendekatan tidak hanya berhenti kepada tetangga mantan. Mega menuturkan, salah satu wali murid di sekolah anak Abu Khair mengetahui status mantan kombatan tersebut. Ini juga masalah yang kemudian diselesaikan Tim Tangguh dan Empatiku dengan mengajak pihak sekolah membangun pemahaman pentingnya memberi kesempatan anak mantan mendapat pendidikan.
Devi masih mengingat bagaimana rasa “deg-deg”an menyergapnya ketika menyiapkan kesediaan calon peserta untuk berdialog. “Ada yang tidak bersedia, tidak berkenan menghadiri dialog. Ada yang bersedia tetapi pada saat hari H tidak datang. Jadi kita lumayan keras berpikir mencari penggantinya,” kisahnya. “Pokoknya kalau lagi menyiapkan circle [lingkarang dialog], saya jantungan.”
Cerita lain, saat Devi dan Gina menghubungi bapak Ketua RT 7 untuk menghadiri dialog. Ketua RT menolak hadir. Alasannya, tidak mau terlibat urusan radikalisme termasuk pencegahan. Devi dan Gina tidak berkecil hati. Mereka terus berusaha menjalankan misi Tim Tangguh untuk mendekati orang-orang yang penting agar menghadiri dialog. Cerita lain, peserta konfirmasi hadir, namun saat dialog tidak datang dan tidak memberi kabar.
Selain pendekatan personal, pendekatan ke lembaga dan masyarakat umum juga ditempuh untuk mempengaruhi banyak orang dalam upaya membentuk budaya terbuka dan toleran. Zainal menggerakkan sosialisasi Tim Tangguh ke warga dan bahkan ke sekolah. Menurutnya, ini dalam rangka memupuk kepercayaan masyarakat terutama yang belum menerima kehadiran mantan. Lurah Zainal mengajak Tim Tangguh terlibat program Sapa Sekolah. Program ini sudah berlangsung lama, yang dimaksudkan mengajak sekolah membangun dan memelihara kerukunan dan saling menghargai sesama warga. Sapa Sekolah dimanfaatkan Tim Tangguh untuk sosialisasi bahaya radikalisme, dan pentingnya merangkul para mantan kembali berperan positif di masyarakat, terutama di dua SMP di kelurahan tersebut.
(bersambung)
***
Tulisan Ghufron selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





