Kelurahan Tangguh dan Cita-Cita Reintegrasi Mantan Simpatisan ISIS (Bagian 2)

Mengetuk Pintu Kelurahan, Membentuk Tim Tangguh

Mengucilkan para mantan kombatan atau simpatisan ISIS dan keluarganya bukanlah jalan keluar. Banyak pakar terorisme menyebut hal itu justru bisa menjadi bumerang. Ketika mereka ditolak, mereka bisa berpikir untuk kembali atau dirangkul kelompok pendukung ekstremisme kekerasan. Pemerintah pusat dan sebagian lembaga masyarakat sipil tengah memiliki berbagai program seperti kewirausahaan, pendampingan psiko-sosial dan program lainnya agar mantan kombatan mampu bekerja produktif dan beradaptasi dengan masyarakat. Namun jika tingkat penerimaan masyarakat masih rendah, niatan reintegrasi sosial bisa pupus atau mandek di tengah jalan. Inilah yang juga menjadi perhatian WGWC, yang melihat reintegrasi seperti dua sisi mata uang. Pendekatan ke mantan kombatan dan warga sama-sama diperlukan.

Kelurahan Tangguh dan Cita-Cita Reintegrasi  Mantan Simpatisan ISIS (Bagian 2)

Mega, pekerja sosial Empatiku, meyakini betul pentingnya merangkul dua pihak dalam pendampingan. Juga bagaimana mengemas isu reintegrasi sosial agar diterima di kalangan pemerintah dan warganya. Bersama Empatiku yang didukung WGWC, ia  menyusun berbagai siasat untuk meyakinkan kelurahan mendorong resiliensi atau daya tangguh warga terutama terkait reintegrasi. Mengingat pengalaman ditolak beberapa kelurahan,  terlebih dahulu ia berdiskusi dengan anggota Babinsa (Bintara Pembina Desa). Penjelasan Mega membuat Babinsa bersedia mengantarnya dan tim Empatiku bertemu lurah Mekarjaya, Zainal Arifin. Mega tak ingin ditolak lagi di kelurahan saat menyampaikan program pendampingan mantan kombatan dan keluarganya. Memang, isu terorisme masih asing bagi awam.

Bersama Babinsa, Mega dan timnya bertemu Lurah Zainal Arifin. Di ruangan penuh tumpukan kertas dokumen, pak Zainal mengulurkan senyum hangatnya. Mega langsung mengawali percakapan dengan memberinya apresiasi atas prestasi-prestasi kelurahan Mekarjaya.

Mega lalu menyampaikan maksud kedatangannya untuk membangun kerjasama meningkatkan prestasi kelurahan dalam hal reintegrasi sosial.

Awalnya, lurah merasa reintegrasi bukan seharusnya melibatkan warga. Cukup pengawasan dari aparat keamanan seperti Babinsa dan Babinkamtibnas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat).  Di sinilah pintu masuk Mega menjelaskan kecemasan warga yang bersamaan dengan kecemasan mantan kombatan. Definisi “keamanan” dalam benak Lurah dan Mega saat itu bertolak belakang. Namun, keterbukaan dan kemauan sang lurah untuk lebih memahami reintegrasi sosial yang Mega tawarkan dari lokakarya bersama WGWC, akhirnya berbuah. Zainal memberi sinyal positif.

Lurah Zainal tak menunggu lama. Ia mengundang para perangkat kelurahan, tokoh agama, tokoh masyarakat dan kelompok perempuan untuk mendengarkan program Kelurahan Tangguh yang ditawarkan WGWC melalui Empatiku, sebuah yayasan tempat Mega menghabiskan 5 tahun terakhir. Di hadapan sekitar 30 peserta, Mega menguraikan  pentingnya merangkul mantan kombatan, dan membangun kepedulian warga. Salah satu  poin yang ia tegaskan, agar mantan tidak kembali ke kelompoknya, dan tidak menyebarkan paham yang bertentangan dengan NKRI. Karena hidup di tengah warga, tetangga dan warga lainnya penting direkonsiliasi.

Merasa dapat pemahaman cukup jelas, Lurah Zainal langsung tancap gas membentuk Tim Tangguh Kelurahan. Tim akan bekerja di bawah koordinasinya dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam mencegah, mendeteksi dan merespon ekstremisme kekerasan, termasuk antisipasi penyebaran ekstremisme kekerasan yang lebih luas.

Ia berdiskusi dengan sejumlah orang dekatnya untuk menentukan kriteria dan nama-nama calon anggota Tim Tangguh. Mega memastikan ke lurah agar perempuan disertakan. Ia berdalih, jika perempuan aktif, pendampingan akan berjalan efektif. Lurah Zainal menyadari, tak mudah memilih orang-orang yang bisa diandalkan dalam Tim Tangguh. Mekarjaya  memiliki 31 RW dan 251 RT dengan banyak kader yang bisa diramu. Mega setidaknya memberi pertimbangan, kader yang direkrut minimal memiliki pengalaman lebih 6 tahun dalam organisasi sosial kemasyarakatan.

Lurah Zainal mengeluarkan Surat Keputusan yang mendasari pembentukan Tim Tangguh tanggal 13 Desember 2021. Seperti saran Mega, Lurah menaruh perempuan dalam posisi strategis Tim Tangguh. Tercatat dalam SK, 8 dari 11 anggota Tim Tangguh adalah perempuan  kader PKK dan tokoh perempuan setempat yang menempati 5 divisi di antaranya Pendidikan Masyarakat, Pendataan dan Penanganan Kasus, Penanganan Kasus Remedial dan Penanganan Kasus Rujukan.

Setelah beberapa  pertemuan kecil dengan Empatiku dan WGWC, Tim Tangguh menyusun rencana aksi bersama, terutama untuk reintegrasi sosial. Rencana ini mencakup langkah-langkah nyata yang harus diambil  semua pihak untuk tujuan reintegrasi yang telah disepakati.

Untuk menjalankan rencana aksi, WGWC dan Empatiku memfasilitasi Pelatihan Tim Tangguh. Seperti dituturkan Mega, Tim Tangguh memiliki semangat tinggi, namun masih butuh pengetahuan tentang tanda-tanda ekstremisme, cara mendeteksi potensi radikalisasi, dan bagaimana mendukung mantan pendukung ISIS yang sedang mengalami proses reintegrasi. Lurah Zainal pun tak ketinggalan mengikuti 2 hari pelatihan bersama Tim Tangguh. Pelatihan yang difasilitasi tim Empatiku ini memberi pembekalan pengetahuan dan ketrampilan terkait prosedur tetap deteksi dan penanganan dini, cara sosialisasi dan pendidikan masyarakat tentang bahaya radikalisme, cara pengelolaan kasus, cara membangun jejaring dan kerjasama dengan layanan rujukan. Di pelatihan ini pula, konsep dialog RSD dikenalkan, sebagai  salah satu metode membangun ruang aman dan nyaman mempertemukan warga dan mantan .

 

(bersambung)

***

Tulisan Ghufron selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top