“Peristiwa yang saya alami sangat 180 derajat merubah semua kehidupan saya sebagai perempuan maupun sebagai manusia yang mempunya cita-cita dan harapan di masa depan,” tutur Vivi mengawali cerita perjalanannya mengarungi kehidupan paska teror. Ia menghela nafas, mengaturnya kembali. Lalu air mata mengalir.
Pertemuan saya dengan Vivi bukan kali pertama. Sebelumnya, kami dipertemukan di beberapa agenda jaringan masyarakat sipil yang bekerja di isu perempuan dan ekstremisme kekerasan maupun acara yang diselenggarakan lembaga tempat saya bekerja. Awal proyek penulisan buku ini saya diberi kesempatan memilih narasumber yang akan dituliskan kisahnya. Pilihan saya kemudian jatuh pada kisah korban terorisme. Bukan tanpa alasan. Saya ingat dalam sebuah forum di awal tahun lalu, hati saya sesak mendengarkan testimoni korban terorisme. Aksi teror yang menimpa korban itu telah meninggalkan perubahan permanen pada bentuk anggota tubuhnya, merenggut beberapa fungsi tubuhnya sehingga membuatnya kehilangan kepercayaan diri termasuk kehilangan sumber penghidupan. Bahkan hingga ia menceritakan kisahnya, ia mengaku masih berjuang pulih dari trauma. Cerita itu masih terngiang-ngiang di benak saya hingga seminggu berselang. Maka, melalui kesempatan itu saya ingin mendengar lebih dalam pengalaman korban teror yang berusaha melanjutkan kehidupannya.
Ingatan saya jauh menelisik tatkala saya masih menempuh pendidikan tinggi di Malang. Kala itu pertama kali saya berada dalam satu ruangan dengan mantan narapidana teroris bom Bali 1 (12 Oktober 2002) dan istri salah satu korban yang tewas saat itu, dalam sebuah seminar pencegahan radikalisme di perguruan tinggi. Berbeda dengan testimoni sebelumnya, seminar itu memberikan pengetahuan kepada saya tentang perjalanan rekonsiliasi korban dan pelaku. Hanya terbersit dalam pikiran, “bagaimana ya Ibu itu bisa membesarkan hati bertemu dengan orang yang setega itu melukai manusia-manusia dan meluluhlantakkan bangunan di sekitarnya, tak pandang bulu”. Belakangan saya mempertanyakan pada diri saya mengapa pencegahan radikalisme justru menghadirkan lebih banyak testimoni pelaku.
Berubah 180 Derajat: Kehidupan Kedua
Vivi Normasari merupakan korban ledakan di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta Selatan pada 5 Agustus 2003 silam. Pada saat kejadian ia tengah mengadakan sebuah pertemuan di sana.
Hampir 20 tahun berlalu, luka akibat teror masih nyata nampak. Vivi menceritakan dampak yang ia rasakan saat kejadian, paska kejadian bahkan sampai detik ini. Baginya, dampak paling signifikan adalah perubahan mimpi dan keinginan, termasuk perubahan sikapnya sebagai perempuan secara spesifik. Sebelum kejadian bom yang menimpanya, Vivi merupakan pribadi yang sangat merawat diri, memperhatikan penampilan dengan hobi manicure dan pedicure. Bahkan semenjak remaja, ia merupakan sosok yang menyukai dunia kecantikan dan perawatan diri.
“Setelah kejadian ini, semua yang saya suka dengan keindahan tangan saya dan kaki saya, seketika hilang. Saya sudah tidak bisa melihat keindahan tangan dan kuku saya,” ujar Vivi. Ia menghela nafas, tangannya menyeka air mata di ujung pelupuknya. Mendengar pengakuan itu saya menelan ludah, merinding, perih mendengarnya, membayangkan kehilangan sesuatu yang tak akan kembali. Ternyata dampak kejadian teror memang tidak sesederhana itu. Tidak hanya sebatas yang kasat mata, rasa bahagia karena melakukan kegemaran juga terenggut seketika. Bagi saya yang melihat peristiwa itu melalui layar kaca, mungkin sehari dua hari sudah lupa kejadiannya.
Sebagai orang awam, saya juga hanya bisa melihat perubahan fisik. Sebelum bertemu Vivi, tidak pernah terlintas dalam pikiran bagaimana perjalanan penerimaan diri seorang korban akibat peristiwa teror. Luka tersembunyi, seperti menurunnya kepercayaan dan penerimaan diri akibat luka fisik, bahkan trauma dan gangguan kesehatan jiwa ketika terjadi teror serupa setelahnya, nyatanya juga menjadi pergulatan di kehidupan sehari-hari korban paska teror.
(bersambung)
***
Tulisan Fina Nihayatul Mazziyyah selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





