Saya percaya berbuat baik itu harus, tak bisa ditawar. Ini nilai yang saya pahami dan ajarkan kepada kedua anak saya. Saya tak habis pikir dengan orang-orang yang suka menyulitkan urusan orang lain, padahal tidak menguntungkan buat dia. Jika ternyata apa yang kita lakukan dianggap tak baik oleh orang lain, itu sudah bukan kuasa kita lagi. Kita berbuat baik semata-mata menjadi manusia, bukan untuk divalidasi atau dibenarkan orang lain. Jika memang apa yang kita lakukan dibalas perbuatan tidak baik, ya sudah. Itu bukan urusan kita, itu urusan dia.
Tahun 2014 adalah titik balik kehidupan saya, menjadi janda dengan anak dan didiagnosis mengidap gangguan mania dan depresi berdasarkan hasil tes yang disebut MMPI dan konsultasi ke psikiater berkali-kali. Hal ini membuat terang puzzle atau teka-teki dalam hidup yang sebelumnya saya pertanyakan, “Saya ini kenapa?” Langkah demi langkah dijalani untuk memastikan hidup saja. Semangat saya hanya untuk menemani dan mendampingi dua anak saya agar mereka tak merasa sendirian meski hanya ditemani satu orang tua.
Saat kecil, saya anak perempuan yang sangat ceria, cerewet, banyak teman dan sangat menyenangkan. Kenangan masa kecil yang menyenangkan adalah saat tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur. Saat itu saya merasa disayangi banyak orang, bahkan teman-teman orang tua saya pun senang saya temani saat mereka berkunjung ke rumah.
Sayangnya saat pindah ke Solo, saya tidak merasakan kehangatan seperti di Samarinda. Mungkin karena saya sudah beranjak remaja, tidak semua teman menyukai saya karena keceriaan saya ini dianggap negatif. Saat itu saya bertanya-tanya, mengapa menjadi diri sendiri dan tidak merugikan orang lain belum tentu diterima dengan baik oleh orang lain. Disinilah saya mulai membenci diri saya sebagai seorang perempuan ceria. Sampai suatu ketika ada seseorang yang berkata, “menjadi perempuan itu menyenangkan”. Dan saya mempercayai kalimat itu.
Meskipun demikian, masa remaja saya cukup menyenangkan. Saya sering menghabiskan waktu bermain di luar karena rumah terasa sepi akibat kedua orang tua sibuk bekerja. Sebagai anak tunggal, hidup terasa sendiri tanpa ditemani siapa pun. Kesendirian memang menjadikan diri saya terbiasa kemana-mana sendiri sampai sekarang. Menikmati jalan-jalan sendiri seperti yang saya lakukan sebelum Lokakarya Penulisan Praktik Baik kemarin di Bandung. Kesendirian bukan berarti kesepian.
Saat bertemu dengan Solo Bersimfoni yang mengharuskan saya mendampingi remaja, teringat kesepian saya saat remaja. Saya ingin mereka tidak merasakan hal yang sama. Saya ingin mereka tahu, mereka tidak sendiri. Ada orang yang menemani dan mendampingi tanpa menghakimi. Mendampingi anak-anak remaja itu penuh cerita seru. Namanya anak muda, masa-masa sedang bergejolak dan mencari jati diri. Selama ini yang saya lakukan adalah mendengarkan dan menemani mereka melakukan kegiatan. Saya yang kebetulan juga punya anak seumuran remaja, memakai pendekatan serupa saya memperlakukan anak sendiri. Saya membayangkan pada saat saya muda, apa yang saya inginkan saat seumur mereka. Apa yang dilakukan orang yang lebih dewasa yang saya tidak suka. Hal-hal ini menjadi pengingat saya, bagaimanapun mereka adalah remaja. Terkadang pemahamannya tidak serumit orang dewasa. Mereka hanya butuh diberi ruang dan waktu untuk berekspresi.
Sebelum mengenal Solo Besimfoni, saya pahami aktivitas sosial itu harus sempurna dan butuh sumber luar biasa. Ternyata, menjadi pendamping remaja juga bisa dikatakan sebagai aktivitas sosial. Seperti mengulang masa remaja, namun saya yang mendampingi dan menemani mereka. Selama melakukan pendampingan remaja, saya tidak punya ilmu khusus pendampingan. Namun saya mengingat pengalaman saya saat remaja.
Dalam pendampingan, hal paling menyenangkan adalah saat produksi film. Ada dua jenis film yang dihasilkan program Sekolah Adipangastuti. Pertama, yang sepenuhnya diproduksi sekolah, siswa dan guru. Kedua, film yang diproduksi bersama antara sekolah dengan Solo Bersimfoni termasuk “Legowo”. Film ini kolaborasi antara Teater Brastomolo SMAN 1 Gemolong dengan Solo Bersimfoni. Produksi film selama dua hari mendekatkan kami, tim Solo Bersimfoni dan Brastomolo. Terlebih lagi, mereka seumuran anak saya. Produksi film selama dua hari dari jam 07.00 pagi sampai 12.00 malam benar-benar penuh suka duka. Mengapa harus diselesaikan dalam dua hari saja, karena salah satu cameraman dari Solo Bersimfoni akan melangsungkan lamaran esok harinya di luar kota, sehingga apapun yang terjadi, produksi film harus diselesaikan. Karena lamaran sebisa mungkin tak diwakilkan, bukan?
Masih terbayang, saat itu sedang musim penghujan. Karenanya proses produksi harus segera selesai saat terang. Benar juga, belum sampai hari gelap sudah turun hujan lama sekali bahkan sampai lewat azan isya. Saat berpikir bagaimana menggunakan perlengkapan filem atau prop yang ada untuk menyelesaikan produksi, tiba-tiba seorang siswa yang menjadi kru mengatakan bahwa ruang guru yang akan digunakan sebagai salah satu lokasi syuting akan segera dikunci satpam. Sungguh perubahan rencana mendadak yang mengejutkan namun menjadi kenangan seru. Karena hujan, lokasi yang seharusnya di luar sekolah mau tak mau dilakukan dalam lingkungan sekolah. Senangnya semua terselesaikan meski harus sampai tengah malam.
Sejak itu Teater Brastomolo dan Solo Bersimfoni menjadi dekat, terutama tim produksi film. Saking dekatnya, beberapa siswa memanggil saya “ibu”, rasanya jadi nambah anak. Apalagi setelahnya kami beberapa kali bertemu sekadar nongkrong dan makan. Namanya remaja, pasti tak habis curhat tentang percintaan, sekolah atau pertemanan. Bahkan sampai sekarang, dua tahun setelah produksi film bareng, kami masih dekat.
Saat mendampingi sekolah, yang saya ingat adalah bagaimana mereka menerima kehadiran saya dengan baik dan menyenangkan. Beberapa sekolah sangat maksimal dalam implementasi Model Sekolah Adipangastuti, bahkan ada yang menggunakan dana sekolah. Setiap kali melakukan kunjungan ke sekolah, sambutan senyum dan keramahan sungguh menghangatkan hati. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya jika sekolah sangat senang sudah dilibatkan dalam program Sekolah Adipangastuti.
(bersambung)
***
Tulisan Tia Brizantiana selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





