‘Hasthalaku’, Tawaran Nilai Baru Pemberdayaan Anak Muda (Bagian 2)

Strategi Hasthalaku di Sekolah

Sebagai kelanjutan Hasthalaku, Solo Bersimfoni menginisiasi sebuah model sekolah toleran berbasis budaya yang disebut Sekolah Adipangastuti. Adipangastuti berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa  – adi artinya besar dan pangastuti adalah puji/baik, jadi artinya pujian yang besar. Harapannya Sekolah Adipangastuti dapat menjadi besar serta memberikan kebaikan dan banyak pujian bagi sekolah yang menerapkannya. Sampai saat ini, Sekolah Adipangastuti sudah diimplementasikan oleh tujuh SMAN di Soloraya selama tiga tahap, dan tahun 2023 direncanakan meningkat menjadi 14 SMAN di Jawa Tengah.

‘Hasthalaku’, Tawaran Nilai Baru Pemberdayaan Anak Muda (Bagian 2)

Tahun 2018, penyusunan Modul Sekolah Adipangastuti melibatkan akademisi, Dinas Pendidikan dan juga praktisi pendidikan. Model Sekolah Adipangastuti bertujuan menerapkan perilaku dan sikap berbudaya sesuai nilai-nilai Hasthalaku antara warga sekolah, khususnya siswa-siswi selaku remaja Generasi Z. Panduan model sekolah ini diharapkan bisa lebih terukur dan sistematis, modul panduan tersebut sekaligus diperlukan sebagai panduan pemantauan atau monitoring dan evaluasi.

Kemudian tahun 2019 dilakukan piloting project Model Sekolah Adipangastuti di SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Dua sekolah ini direkomendasi oleh Walikota Surakarta pada saat itu yaitu Bapak FX Hadi Rudyatmo sewaktu pertemuan di Balaikota Surakarta pada 23 Juli 2019. Beliau sangat mendukung model Sekolah Adipangastuti ini. Harapannya agar masyarakat Solo khususnya remaja lebih mengenal gotong royong dan persatuan sebagai bangsa Indonesia yang tidak pernah membedakan suku, ras dan agama melalui model sekolah ini. Setelah mendapatkan rekomendasi, Solo Bersimfoni kemudian bertemu Kepala Cabang VII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah terkait teknis kegiatan. Pak Suyanta selaku Kepala Cabdin VII menyambut baik pelaksanaan Sekolah Adipangastuti di kedua sekolah tersebut.

Pelaksanaan piloting project Model Sekolah Adipangastuti berlangsung kurang lebih empat bulan dari September sampai dengan Desember 2019. Dua sekolah terpilih menyusun programnya masing-masing didampingi Sahabat Pendamping, yaitu pendamping Sekolah Adipangastuti yang dipilih dari Sahabat Simfoni. Pada tahap ini ada tiga orang pendamping untuk dua sekolah. Awalnya memang terasa cukup sulit menjabarkan apa saja program dalam Sekolah Adipangastuti. Namun seiring berlalunya waktu, bonding antara Sahabat Pendamping dan Sekolah Adipangastuti tak dapat dielakkan. Dengan banyaknya pertemuan dan diskusi, bahkan berdebat, hubungan mereka terjalin baik sampai sekarang.

Pada awal 2020, terdapat kasus pemaksaan penggunaan jilbab kepada salah satu remaja putri di SMAN 1 Gemolong, Sragen. Di sekolah, dia menjadi satu-satunya murid perempuan beragama Islam yang tidak berhijab. Pemaksaan ini dilakukan pihak ekskul yaitu Rohani Agama Islam atau Rohis di sekolah. Sekolah ini kemudian menjadi salah satu Sekolah Adipangastuti pada September 2020. Pada tahap kedua ini, Sekolah Adipangastuti diterapkan di lima sekolah di Soloraya yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 1 Gemolong dan SMAN 3 Sragen. Pelaksanaannya kurang lebih empat bulan dari September sampai dengan Desember 2020. Tahap kedua ini juga bertepatan dengan pandemi, sehingga pelaksanaannya secara online semua.

Kemudian pada tahap ketiga tahun 2021, Model Sekolah Adipangastuti diterapkan di SMAN 2 Boyolali dan SMAN 1 Karanganyar. Pelaksanaan kali ini lebih lama dibandingkan dua tahap sebelumnya, yaitu mulai Agustus sampai dengan Desember 2021. Hal menyenangkan yang saya ingat adalah kunjungan pertama kali ke SMAN 2 Boyolali, yang dekat Wisata Tlatar. Ketika itu salah satu guru berkata, “Sering-sering main ke sekolah supaya bisa keceh (bermain air) di Tlatar.” Tentu saja setelah berkunjung ke sekolah, tim Solo Bersimfoni mampir ke salah satu restoran di Wisata Tlatar. Sayangnya ada satu kejadian yang membuat tidak nyaman, ada satu pasang lelaki dan perempuan yang melakukan perbuatan tidak senonoh di salah satu pojok restoran. Hal ini mengingatkan saya akan masa remaja saat ke Tlatar dan menemukan hal serupa. Untungnya saat itu tidak terpikirkan untuk merekam atau memviralkan perbuatan mereka. Karena begitu saja sudah cukup mempermalukan diri mereka sendiri, bukan?

 

(bersambung)

***

Tulisan Tia Brizantiana selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top