Cerita Pendampingan Khariroh Maknunah Dalam Podcast WGWC Grup

Tidak ada yang bisa melupakan ledakan bom terlaknat di Surabaya Pada Mei 2018 lalu, dimana serangan tertuju pada tempat ibadah diantaranya Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS). Dua tempat lainnya adalah Komplek Rumah Susun Wonocolo dan Markas Polrestabes Surabaya. Yang paling mengejutkan anak-anak ikut terlibat dan dikerahkan untuk menyerang Gereja tersebut. 

Dalam kasus ini banyak pertanyaan yang mendalam, bagaimana kelompok teroris mampu mengeksploitasi anak-anak dalam aksi kekerasan ekstrim. Pada pengantar Podcast WGWC yang disampaikan oleh Ruby Kholifah selaku Direktur AMAN Indonesia, beliau menyampaikan bahwa di Indonesia, seringkali anak-anak menjadi korban eksploitasi ideologi dibawah dalih agama atau loyalitas kepada keluarga. Anak-anak seharusnya menikmati masa kecil dengan bermain, belajar dan tumbuh di lingkungan yang damai, bukan justru dihadapkan pada doktrin-doktrin yang mebuat mereka memandang dunia sebagai medan pertempuran. Mereka diajarkan untuk membedakan kawan dengan lawan berdasarkan pemahaman sempit tentang agama atau ideologi tertentu, yang seringkali tidak mereka pahami sepenuhnya.

Cerita Pendampingan Khariroh Maknunah Dalam Podcast WGWC Grup

Beberapa kasus mengungkapkan bahwa anak-anak tidak hanya dibentuk secara psikologis melalui narasi permusuhan, tetapi juga dilibatkan dalam pelatihan fisik yang mempersiapkan mereka untuk terlibat dalam aksi kekerasan. Misalnya, dalam kasus yang terungkap dari mantan simpatisan ISIS, anak-anak dilatih menggunakan senjata dan diproyeksikan untuk menjadi bagian dari perjuangan jihad. Situasi ini jelas menunjukan bagaimana mereka dijauhkan dari hak-hak dasar sebagai anak, yaitu mendapatkan perlindungan, pendidikan dan cinta kasih.

 

Kerja-Kerja Yang Dilakuakan Khariroh Maknunah

Khariroh Maknunah, yang akrab disapa Nunah, adalah salah satu pegiat dari Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) yang telah bekerja pada isu radikalisme dan kekerasan ekstremisme sejak akhir tahun 2013. Aawal keterlibatannya belum secara langsung menangani isu anak. Nunah sendiri mulai bergabung dengan YPP pada november 2016, YPP punya spesifikasi pada isu rehabilitasi dan reintegrasi.

Sebuah momen penting ketika tim YPP melakukan kunjungan ke sebuah lapas. Tanpa diduga, mereka bertemu dengan anak-anak berusia 17-18 tahun yang ditahan akibat keterlibatan dalam aksi terorisme. Meskipun ini bukan kasus pertama, pertemuan ini mengejutkan karena adanya keterlibatan dalam tindakan kekerasan ekstrimisme.  Pengalaman ini juga menjadi momen yang memeperkuat komitmen YPP untuk mengembangkan sistem rehabilitasi dan reintegrasi yang khusus ditunjukan bagi anak-anak yang terlibat dalam kasus serupa.

Bagi nunah, keterlibatan dalam isu ini memiliki makna. Ia memandang anak-anak yang terlibat aksi kekerasan eksremisme yang berusia di bawah 18 tahun, sebagai korban. Mereka sering kali menjadi sasaran manipulasi, indoktrinasi dan eksploitasi oleh kelompok-kelompok tertentu. Menurutnya, ini adalah pekerjaan yang baik, mulia yang harus dikerjakan bersama. Nunah juga merasa beruntung memiliki dukungan yang kuat dari keluarga, suami dan lingkungan sekitarnya, yang sama-sama menyadari bahwa ini upaya penting untuk dilakukan. 

 

Melihat Anak Sebagai Korban

Memahami prilaku anak yang terlibat dalam kekerasan ekstremisme, kita perlu menempatkan mereka dalam kerangka yang berbeda dari cara kita menilai orang dewasa. pemikiran, piliahan dan tindakan mereka seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola asuh, pendidikan dan lingkungan sosial yang mereka alami sejak kecil. Pendekatan yang menyamaratakan mereka sebagai pelaku utama tanpa memahami konteks yang melatar belakangi justru mengaburkan solusi yang lebih manusiawi.

Data Yayasan Prasati Perdamaiai (YPP) menunjukan bahwa 64% dari 20 anak yang terlibat kasus kekerasan ekstrimisme telah terpapar ideologi ekstrem sejak usia dini. Anak-anak ini tumbuh dalam pola pengasuhan yang membenarkan nilai-nilai ekstremisme, dimana ideologi tersebut difasilitasi dan diarahakan oleh orang tua mereka yang juga bagian dari kelompok yang meyakini pandangan serupa. Namun, tidak semua anak yang terlibat kekerasan ekstrimisme berasal dari keluarga dengan latar belakang ideologi ekstrem.

Kasus lain menunjukan bahwa anak-anak dengan orang tua yang moderat pun bisa terjerat dalam lingkaran kekerasan ini. Dari 20 anak yang didampingi YPP, ada kasus yang keterlibatannya disebabkan karena faktor lingkungan, kekecewaan dan pencarian identitas. Dalam situasi tertentu, kelompok ekstrimis memberikan ruang nyaman, pergaulan yang tidak mereka temukan dalam keluarga. Dalam posisi ini anak-anak rentan menjadi korban sistem sosial yang tidak mampu melindungi mereka dengan baik.

 

Tantangan Dan Mitigasi

Pendampingan terhadap anak-anak yang terpapar ekstremisme sering kali memunculkan dilema batin, apakah perubahan yang terlihat pada mereka sungguh nyata atau hanya sekedar manipulasi. Ketika anak-anak tersebut kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat, tugas pendamping menjadi semakin kompleks. Selain melakukan rehabilitasi, reintegrasi dan membangun reseliensi, pendamping juga harus mengantisipasi agar mereka tidak kembali terpapar narasi ekstrimisme yang baru.

Tantangan lainnya adalah mengindari ketika anak-anak tidak ekstrime dalam terorisme tapi juga terjerumus kepada kenakalan remaja. Ada kekhawatiran ketika anak sudah mulai bergabung dengan kelompok-kelompok tertentu yang awalnya sebagai ekspresi penasaran. Ada kasus seorang anak yang menyatakan tidak lagi beragama sebagai penerjemahan toleransi, yang justru berpotensi membawa mereka ke arah ekstrimisme baru atau menjadi individu yang sekedar berkamuflase.

Ada upaya mitigasi, Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstrimesme (RAN-PE), advokasi untuk isu anak yang harus diperkuat. Upaya ini tidak hanya mencakup pencegahan secara umum, tetapi juga menciptakan program-program yang dapat memfasilitasi proses penerimaan antara anak-anak yang telah melalui proses rehabilitasi dengan keluarga dan masyarakat. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah membangun komunitas yang siap mendukung anak-anak setelah mereka keluar dari lapas.

Ada kasus seorang anak di Bekasi yang berasal dari Samarinda yang sebelumnya terlibat dalam kekerasan ekstrem bersama kakak dan ayahnya, setelah menjalani reseliensi, ia mulai terbuka dan toleran terhadap perbedaan. Dua tahun pasca keluar dari lapas, anak ini mengajukan pembinaan lanjutan melalui pendampingan bersama YPP bekerja sama dengan pemerintah. Program pendampingan selama enam bulan ini adalah pelatihan bahasa inggris dan menjadi sarana pembelajaran untuk mereka. Meskipun singkat, program ini memberikan dampak yang baik dan terinternalisasi untuk pekerjaannya.

 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top