Oleh: Siti Robiah
Perempuan Sebagai Juru Damai
Aulia Fauziyah adalah potret perempuan berdaya penggerak perdamaian yang menginspirasi. Berangkat dari pengalaman pribadi sebagai muslimah Ahmadiyah yang menjadi korban dari kerusuhan di Manislor Kuningan. Aulia berkomitmen agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Dia paham betul bagaimana kerusuhan itu telah memberikan dampak luar biasa baik secara fisik maupun mental. Terutama kepada perempuan sebagai korban pertama yang terkena dampaknya.
Ia masih ingat betul atas apa yang terjadi, kelompok Jemaat Ahmadiyah Manislor harus mengalami berbagai bentuk diskriminasi dari penyegelan, penyerangan bahkan pembakaran dan berakibat pula pada pelarangan kegiatan keagamaan. Sehingga Manislor menyimpan luka sebagai daerah konflik kasus kebebasan beragama dan pelanggaran HAM masa itu. Konflik itu terjadi antara rentang waktu 2007-2008 akibat keluarnya fatwa MUI Kuningan No.86/MUI-KFH/X/2004 tentang pelarangan Ahmadiyah Manislor.
Dampak Pada Korban Sebagai Perempuan dan Anak Saat Konflik
Aulia yang saat itu berstatus sebagai pelajar, harus ikut menanggung banyak dampak dari konflik yang terjadi. Dimulai intimidasi, diskriminasi juga stigma-stigma negatif yang ditunjukan pada dia sebagai seorang Ahmadiyah. Aulia bukan saja harus berjuang sebagai korban kelompok minoritas, tetapi juga identitas dia sebagai perempuan menjadi lika-liku tersendiri.
Kiranya pengalaman Aulia sebagai korban terdampak konflik menandakan bahwa sekali lagi konflik selalu meninggalkan luka. Entah kepada siapapun laki-laki atau perempuan, tua muda, miskin atau kaya.
Dampak dari konflik yang terjadi dengan Ahmadiyah tidaklah sederhana, tetapi menyangkut pada kesehatan fisik dan psikis, bahkan merambah kepada kehidupan pendidikan, bermasyarakat dan pelayanan administrasi di desa Manislor pada jemaat Ahmadiyah. Tentu saja kerusuhan yang terjadi saat itu telah membekasa dan meninggalkan trauma tidak hanya bagi Aulia saja tetapi bagi jemaat Ahmadiyah secara umum dan perempuan secara khususnya.
Dari Korban Menjadi Penggerak Perdamaian
Aulia dalam kiprahnya menciptakan perdamaian tentu diiringi tekad dan motivasinya yang besar. Ia sudah bertekad sejak awal untuk menarasikan Ahmadiyah bukan sebagai aliran sesat seperti anggapan orang kebanyakan.
Pengalaman pahit yang sempat ia terima, dijadikan motivasi dalam daya juang pergerakanya, ia paham betul tanpa adanya gerakan dan hanya berdiam diri maka cita-cita perdamaian tentu sukar terwujudkan. Baginya pengalaman sebagai seorang yang terdampak konflik telah menumbuhkan empati yang mendalam terhadap mereka yang bernasib sama dalam menghadapi diskriminasi dan ketidakadilan.
“ Perasaan ketidakadilan dan dorongan untuk memperjuangkan hak-hak dasar, seperti hak untuk belajar dan hidup damai, menjadi fondasi yang kuat bagi minat saya dalam bidang pendidikan dan isu keberagaman” tutur Aulia mengutip dari buku Perempuan Penggerak Perdamaian.
Aulia dalam mewujudkan cita-citanya memahami, bagaimana intoleransi menjadi akar dari banyaknya paham radikalis dan penuh diskriminasi. Dia juga yakin bahwa pendidikan punya peranan yang krusial untuk membuka pikiran dan hati untuk bisa menghargai perbedaan. Jika pendidikan sudah aman dan toleran maka ia percaya perdamaian dan geraknya akan semakin mudah terwujudkan. Inilah yang juga mengantarkan Aulia memutuskan untuk menjadi guru sampai sekarang.
Aulia memilih jalur pendidikan sebagai jembatan perdamaian bukan tanpa alasan. Ia bercita-cita memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk tumbuh dalam lingkungan yang mendukung keberagaman dan menghormati hak asasi manusia. Menurutnya menanamkan nilai toleransi dan perdamaian sangat diperlukan bagi generasi muda, agar mereka tidak mudah terpapar paham-paham intoleran atau ekstrimis kekerasan di hari kemudian.
Membangun jaringan dan komunitas
Selain itu, ia juga mendirikan komunitas mural sebagai upaya menyuarakan pesan perdamaian.
“Mural ini tidak hanya memperindah lingkungan tetapi juga menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan toleransi dengan cara yang dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat” Aulia menerangkan.
Dia memanfaatkan budaya lokal dan tradisi tertentu dalam memfasilitasi rekonsiliasi dan memperkuat pesan perdamaian. Aulia memahami bahwa upaya dia dalam meluruskan kesalahpahaman pasca konflik memang tidak akan mudah, namun pendekatan yang sudah ia lakukan membuktikan bahwa dia tidak sedang main-main dan sangat jelas berkontribusi dalam setiap upaya membangun perdamaian tersebut.
Kolaborasi dan kerjasama dengan pemerintah, lembaga lokal serta NGO dalam mendukung kerja-kerja perdamaian juga turut dilakukan. Misalnya kerjasama dengan Fahmina institut dan Setara institut sebagai lembaga non pemerintah yang memiliki arah gerak yang sama.
Program Live In dan Pelatihan Resolusi Konflik
Program Live in Manislor juga turut memberikan sumbangsih besar dalam upaya Aulia meluruskan kesalahpahaman terhadap Ahmadiyah. Live in adalah wadah dan ruang pertemuan bagi mereka yang ingin mengenal atau meneliti kehidupan warga Ahmadiyah. Program ini telah banyak berkontribusi, dibuktikan dengan banyaknya testimoni positif dari mereka yang telah mencoba mengikuti program live in,
Banyak dari mereka yang awalnya skeptis menjadi lebih terbuka terhadap kelompok Ahmadiyah. Ini adalah perubahan besar sekaligus inspirasi bahwasanya perempuan punya peran yang amat penting sebagai juru damai.
Melibatkan Perempuan dalam Ciptakan Perdamaian adalah Keharussan
Dari kisah Aulia dan daya juang yang telah ia lakukan semakin membuktikan bahwa pengalaman dia sebagai korban dan perempuan telah memberi warna baru dalam mengkampanyekan perdamaian.
Empati yang Aulia rasakan menghantarkan dia untuk mencegah konflik yang dialami terjadi lagi. Ia juga menggunakan sensitivitas gender yang kuat dalam program muralnya untuk menyampaikan pesan perdamaian agara bisa lebih mudah diterima. Ketika seni yang berbicara maka tidak ada pembeda siapa yang harus menikmatinya.
Pengalaman dan keunikan yang perempuan miliki telah menjadikan kehadiran mereka bukan sebagai korban pertama yang terdampak saja. Lebih dari itu perempuan memiliki kontribusi besar sebagai pemimpin, pelopor dan penggerak dalam menciptakan perdamaian di masa sekarang ataupun dimasa yang akan datang. Aulia telah menerapkan sisi empati dan kepekaan terhadap konflik untuk melihat dan mencarikan solusi dalam upaya pencegahan kekerasan.
Resolusi Konflik Wujud Nyata Cegah Kekerasan
Perjuangan tanpa modal pertahanan tentu akan lebih mudah dihancurkan. Oleh karenanya Aulia tidak pernah kehilangan ide untuk menarasikan pesan perdamaian dan toleran. Salah satunya dengan program pelatihan resolusi konflik.
Resolusi konflik menjadi penting sebagai mitigasi awal agar tidak terjadi kekerasan yang berkelanjutan. Dalam prakteknya resolusi konflik yang Aulia lakukan berfokus pada teknik komunikasi, negosiasi dan mediasi yang efektif. Program ini diinisiasi langsung oleh Tim Hukum Jemaat Ahmadiyah dimana mereka dilatih untuk bisa mengidentifikasi dan menangani konflik secara konstruktif.
Gerak juang Aulia dan Ahmadiyah dalam memberi pesan perdamaian memang sudah banyak menunjukan hasil perubahan positif. Akan tetapi ternyata perjuangan masih belum berakhir, kejadian terbaru yang diskriminatif kembali terjadi di Desa Manislor Kuningan dimana masyarakat Ahmadiyah dilarang untuk melaksanakan kegiatan rutin tahunan Jalsah Salanah Ahmadiyah pada 4 Desember 2024.
Alasan pelarangan tersebut adalah untuk menjaga keamanan dan kondusivitas wilayah Kabupaten Kuningan. Padahal kegiatan ini adalah ruang temu kelompok Ahmadiyah dari seluruh Indonesia. Mereka yang sudah tiba dipaksa pulang, dilaporkan ada sekitar 6000 orang yang sebagian adalah perempuan dan anak-anak.
Kejadian ini kembali mengingatkan pesan perdamaian tak boleh sekalipun padam. Semua orang bertanggung jawab untuk menyuarakan hal ini. Melibatkan perempuan adalah kunci utama agar perdamaian bisa terwujudkan. Perempuan adalah juru damainya, dengan segala keunikan pengalaman dan sensitivitas gender yang dimiliki perempuan adalah aktor penting dalam mencegah kekerasan dan perdamaian itu sendiri.
Selaras dengan Rencana Aksi Nasional untuk Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial atau RAN P3AKS II tahun 2020 – 2025 bahwa perempuan memegang kunci untuk proses penyelesaian konflik yang menjadikan perempuan sebagai agen perubahan dan agen penjaga perdamaian. Para perempuan berperan sebagai peacebuilders dalam membangun kohesi sosial yang tidak hanya fokus pada dampak sebagai korban tapi sebagai juru perdamaian.





