Merangkul Anak dan Perempuan dalam Deradikalisasi: Pembelajaran dari YPP

Dalam upaya melawan ekstremisme dan terorisme, pendekatan yang digunakan sering kali berfokus pada pelaku utama. Namun, Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) menunjukkan bahwa anak-anak dan perempuan, yang sering kali menjadi korban atau bagian dari lingkaran terorisme, juga memegang peran kunci dalam upaya deradikalisasi. Dengan pendekatan humanis yang telah teruji selama bertahun-tahun, YPP membuktikan bahwa pemulihan dan reintegrasi sosial adalah hal yang mungkin dilakukan.

Mengapa Anak dan Perempuan Penting dalam Deradikalisasi?

Ketika kita membahas dampak ekstremisme, anak-anak dan perempuan sering kali menjadi pihak yang terlupakan. Mereka tidak hanya terdampak secara emosional dan sosial, tetapi juga kerap menjadi alat propaganda atau bahkan pelaku. Dalam konteks ini, YPP mengambil langkah berani untuk menjadikan mereka subjek utama dalam program pendampingan.

Merangkul Anak dan Perempuan dalam Deradikalisasi: Pembelajaran dari YPP

Anak-anak yang terlibat tindak pidana terorisme sering kali berada pada usia rentan, antara 14 hingga 17 tahun. Khariroh Maknunah (Nuna), salah satu pendamping di YPP, –dalam wawancaranya dengan penulis pada 5 ‎Januari ‎2022, menjelaskan bahwa usia ini adalah masa tumbuh kembang yang krusial. Sebab itu, YPP hadir untuk mengisi sebagai pendamping menemani tumbuh kembangnya meski sebagai pelaku tindakan terorisme. “…figur orang dewasa selain menjadi role model juga menjadi pendamping dalam setiap fase yang ia lalui.  Baik sebagai teman bicara, maupun juga temen melewati fase-fase emosional, psikologis, kognitif, maupun juga motorik dalam perkembangan dia sebagai anak gitu ya.  Nah YPP mencoba hadir di konteks itu…”, ujarnya. Pendekatan yang dilakukan YPP tidak hanya berfokus pada perubahan perilaku, tetapi juga membantu anak-anak ini menemukan kembali identitas mereka yang lebih positif.

Pendekatan Humanis: Melampaui Narasi Keagamaan

Berbeda dengan pendekatan konfrontatif yang sering digunakan, YPP memilih jalur humanis. Nuna menekankan bahwa pendekatan berbasis keagamaan kerap berisiko memicu perdebatan yang kontraproduktif. Sebaliknya, pendekatan humanis lebih fokus pada kebutuhan emosional dan sosial anak-anak.

Pendampingan emosional menjadi inti dari program YPP. Dengan menjalin komunikasi jangka panjang, pendamping dapat memahami kebutuhan spesifik setiap anak. Sebab itu, YPP memulai program dengan trust building. Kemudian, YPP hadir sebagai individu yang peduli, bukan sebagai institusi. Kepercayaan inilah yang menjadi fondasi keberhasilan pendampingan yang dilakukan YPP.

Tantangan dalam Pendampingan

Pendampingan anak-anak yang terlibat dalam ekstremisme bukanlah tugas mudah. Nuna mengungkapkan berbagai tantangan, mulai dari resistensi anak-anak hingga keterbatasan sumber daya. Salah satu tantangan terbesar adalah membangun hubungan yang lebih kuat dibandingkan pengaruh kelompok ekstrem yang telah lama bersama mereka.

Selain itu, program ini juga menuntut kesabaran dan dedikasi tinggi. Pendamping harus siap mendampingi anak-anak ini dalam setiap fase kehidupan mereka, bahkan di tengah kondisi sulit. “Jadi saya hamil 9 bulan saya masih ke Lapas…”, kata Nuna, menggambarkan komitmennya yang luar biasa.

Menciptakan Perubahan: Dari Disengagement ke Deradikalisasi

YPP menggunakan konsep disengagement sebagai langkah awal. Fokusnya adalah mendorong perubahan perilaku, yang kemudian dapat berkembang menjadi perubahan ideologi. Namun, Nuna mengakui bahwa mengukur perubahan ideologi adalah tantangan tersendiri. “Di Indonesia saya pikir belum ada metode untuk mengukur perubahan ideologi yang memang akurat”, katanya. Oleh karena itu, YPP lebih menekankan pada perubahan perilaku sebagai indikator awal keberhasilan.

Program YPP tidak hanya membantu anak-anak meninggalkan perilaku ekstrem, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan hidup. Misalnya, anak-anak yang membutuhkan pendidikan akan diarahkan untuk mengikuti program kejar paket. Mereka yang membutuhkan pekerjaan atau dokumen administratif, seperti KTP, juga mendapatkan bantuan.

Perempuan sebagai Agen Perubahan

Selain anak-anak, YPP juga memberikan perhatian khusus kepada perempuan yang terlibat dalam jaringan ekstrem. Perempuan kerap berada di posisi unik, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku. Dengan memberdayakan mereka, YPP berharap dapat memutus mata rantai ekstremisme di tingkat keluarga. Pendekatan YPP terhadap perempuan serupa dengan pendekatannya terhadap anak-anak: personal dan berbasis kebutuhan. Pendampingan ini mencakup pelatihan keterampilan, dukungan emosional, dan bantuan reintegrasi sosial. 

Keberhasilan yang Tak Selalu Terlihat

Salah satu keberhasilan terbesar YPP adalah menciptakan perubahan kecil namun signifikan dalam kehidupan individu yang mereka dampingi. Namun, perubahan ini sering kali tidak langsung terlihat. Nuna menjelaskan bahwa pendampingan adalah proses jangka panjang yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Nuna tidak mengklaim bahwa perubahan ini sepenuhnya karena YPP. Namun, YPP berusaha mengarahkan perubahan itu ke arah yang positif.

Meski begitu, tidak semua kasus berhasil. Ada anak-anak yang kembali terlibat dalam aksi terorisme setelah bebas dari penjara. Namun, bagi YPP, kegagalan ini bukan alasan untuk berhenti. Sebaliknya, ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan ini membutuhkan pendekatan yang lebih holistik dan dukungan yang lebih luas.

Refleksi dan Harapan

Pengalaman YPP menunjukkan bahwa deradikalisasi bukanlah tugas yang sederhana. Namun, dengan pendekatan yang tepat, perubahan nyata dapat terjadi. Anak-anak dan perempuan yang didampingi YPP adalah bukti bahwa mereka bukan hanya korban, tetapi juga harapan untuk masa depan yang lebih damai.

Sebagai masyarakat, kita perlu mendukung upaya seperti yang dilakukan YPP. Dengan memberikan ruang bagi anak-anak dan perempuan untuk pulih dan berkembang, kita tidak hanya membantu mereka, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial kita. Karena pada akhirnya, melawan ekstremisme bukan hanya soal menghukum, tetapi juga soal merangkul.

 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top