Editor: Yuyun Khairun Nisa
Pertanyaan sederhana ini sering muncul di benak saya:
Kenapa anak tidak diajarkan untuk bertanya?
Kenapa anak tidak diajarkan untuk berdiskusi?
Kenapa anak tidak diajarkan untuk mengkritisi dengan cara yang baik?
Dalam banyak keluarga, terutama di Indonesia, anak-anak tumbuh dalam pola asuh yang serba otoritatif. Pertanyaan sering dianggap pembangkangan, kritik dianggap durhaka, dan diskusi dianggap melawan. Padahal, ketika daya kritis anak dibungkam sejak dini, kita sedang menyiapkan generasi yang rentan: mudah menerima informasi tanpa disaring, mudah diprovokasi, dan rapuh menghadapi narasi radikal misalnya.
Otoritas yang Membungkam Kritis
Pola asuh seperti itu mengingatkan pada pengalaman personal penulis. Saya tumbuh dengan sempat mengalami fase menjadi orang yang intoleran di sekolah. Saya mengikuti apa yang diajarkan oleh guru agama di madrasah tanpa menyaring. Tidak ada koreksi di rumah. Saya menelan mentah-mentah informasi. Memberikan label dosa dan cap ahli neraka pada tindakan teman yang saya anggap melanggar.
Saya masih ingat bagaimana dulu setiap kali bertanya, wajah orang tua saya tidak menunjukkan rasa senang. Saya dianggap rewel dan banyak bertanya. Pertanyaan dianggap tidak sopan. Anak harus patuh, karena orang tua mengaku tahu yang terbaik. Bahkan kalimat klasik, “Tidak ada orang tua yang akan menyesatkan anaknya”, seringkali dijadikan tameng.
Masalahnya, keyakinan bahwa orang tua selalu benar menciptakan suasana anti-kritik. Anak tidak diajarkan berpikir kritis sejak dini, padahal kemampuan itu sangat penting untuk menyaring informasi, terutama di era banjir konten media sosial.
Akibatnya, ketika beranjak dewasa, banyak anak muda tidak terbiasa bertanya: apakah ini benar atau salah? Apakah ini sesuai nilai kemanusiaan, atau justru manipulasi ideologi? Bukankah, dalam kondisi ini, orang tua secara tidak sadar ikut berkontribusi terhadap suburnya intoleransi dan radikalisme?
Dari Rumah ke Arena Radikalisasi
Tidak sedikit anak muda yang akhirnya merasa lebih diterima ketika bergabung dengan kelompok ekstrem. Mengapa? Karena di rumah, suara mereka dibungkam. Diskusi dianggap durhaka, pandangan kritis dianggap melawan tradisi. Maka ketika ada kelompok yang “memberi panggung” untuk melawan, meski dengan cara destruktif, banyak yang terjerat.
Di sinilah saya melihat hubungan erat antara pola asuh keluarga dengan kerentanan anak terhadap radikalisasi. Keluarga yang tidak mendidik anak berpikir kritis, secara tidak langsung menyerahkan mereka pada narasi radikal.
Maka, intervensi PCVE (Preventing and Countering Violent Extremism/Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Kekerasan) tidak bisa hanya menyasar individu atau komunitas luas. Ia harus masuk ke inti terdalam: keluarga.
Belajar dari Program PCVE
Keterlibatan saya bersama DASPR melalui In Prison Re-Education Program, memperlihatkan bahwa perubahan tidak hanya terjadi di balik tembok penjara. Saya menyaksikan bahwa pendekatan yang mengedepankan dialog dan kepercayaan mampu membuka ruang yang selama ini tertutup oleh perdebatan ideologis. Namun, pelajaran yang tak kalah penting justru datang dari rumah-rumah para mantan narapidana.
Ketika para istri memperoleh dukungan untuk memperkuat kapasitas diri, kesehatan mental, keterampilan ekonomi, dan pola pengasuhan, mereka tumbuh menjadi sosok yang mampu menjaga keluarga tetap utuh sekaligus mengarahkan anggotanya menjauh dari pengaruh ekstremisme. Saya semakin yakin, keluarga adalah benteng pertama sekaligus medan tempur utama melawan radikalisasi.
Mengapa Saya Terlibat Langsung
Refleksi personal tentang bagaimana keluarga saya dulu membatasi ruang bertanya membuat saya memahami luka yang lebih luas di masyarakat. Saya melihat sendiri, banyak anak muda yang harus memilih: menjadi manusia merdeka dengan pemikiran progresif, atau tetap diterima keluarga tapi harus membungkam suara hati. Saya tahu rasanya. Dan saya tidak ingin generasi berikutnya mengalaminya.
Inilah alasan mengapa saya terjun langsung ke dalam lekukan intervensi PCVE di lingkar keluarga. Bagi saya, melawan ekstremisme bukan hanya soal menyelamatkan negara dari ancaman teror, tapi juga menyelamatkan anak-anak kita dari trauma dibungkam sejak kecil.
Menguatkan Daya Kritis sebagai Vaksin Radikalisme
Anak-anak yang terbiasa bertanya akan tumbuh dengan kepercayaan diri. Mereka belajar bahwa berbeda pendapat itu wajar, kritik bisa membangun, dan diskusi adalah ruang belajar. Anak-anak yang kritis akan lebih resilien menghadapi provokasi. Mereka tidak akan mudah percaya pada narasi hitam-putih yang sering dipakai kelompok radikal.
Di sinilah keluarga punya peran vital. Mengajarkan daya kritis sejak dini bukan berarti membangkang, tetapi melatih anak untuk memfilter informasi, memahami konteks, dan mengambil keputusan dengan bijak. Jika keluarga gagal, maka pekerjaan itu akan jatuh ke tangan sekolah, komunitas, bahkan kelompok radikal yang dengan senang hati “mengadopsi” anak-anak yang mencari ruang aktualisasi.
Ekstremisme kekerasan seringkali kita bayangkan lahir di ruang-ruang pengajian tertutup, atau di kamp pelatihan militer. Padahal, benihnya bisa tumbuh di ruang makan keluarga, ketika anak-anak tidak diberi ruang bertanya.
Maka, mencegah ekstremisme tidak cukup dengan pendekatan keamanan. Ia harus dimulai dari rumah: dengan membangun budaya diskusi, membuka ruang kritik, dan menumbuhkan daya kritis anak sejak dini.
Itulah sebabnya saya memilih bekerja di ranah ini. Karena saya percaya, membangun keluarga kritis adalah cara terbaik membangun bangsa yang tangguh menghadapi radikalisme.





