Lahirnya harapan
Perjalanan mengawal lokalisasi Perpres No 7 /2021 tentang pencegahan dan penanggulangan ekstremisme bagi kami adalah tantangan; bulan April 2020, pandemi baru mulai dan lembaga kami, Percik, baru saja berganti kepemimpinan. Kami terima tawaran sebagai koordinator kelompok kerja perempuan tentang ektremisme kekerasan, atau Working Group on Women Group on Preventing/Countering Violent Extremism (WGWC) di Jawa Tengah, dengan banyak pertimbangan. Sebagai ibu, aktifis dan peneliti kami menyadari tanggungjawab sebagai koordinator WGWC di propinsi ini juga bermanfaat memperluas jaringan dan memperkuat sinergi tidak hanya secara kelembagaan, tetapi juga dapat menemukan orang-orang sejalan untuk menjaga anak-anak kami.
Percik, singkatan Persemaian Cinta Kemanusiaan, lahir 1996 di kota Salatiga sebagai tanggapan atas keprihatinan yang meluas di masyarakat terhadap sistem politik yang semakin terpusat, didominasi penguasa, menindas dan tidak toleran. Karenanya, Percik merupakan lembaga independen dengan fokus penelitian sosial, demokrasi dan keadilan sosial. Bertahun-tahun sejak 2000 kami bekerja dengan isu pencegahan konflik bersama gerakan Sobat lintas iman. Kami menyadari bagaimana perempuan memiliki dua peran penting sebagai agen perubahan di dalam dan di luar rumah. Dalam beberapa kali diskusi bersama para tokoh agama, kami merefleksikan peristiwa-peristiwa persaingan keagamaan dan tantangan radikalisme dan ekstremisme dalam masing-masing agama dan bagaimana kontestasi itu mulai mempengaruhi unit terkecil keluarga. Kami sadar, Perpres No 7/ 2021, akan menjadi kekuatan politik legal untuk menjaga anak-anak kami dan generasi muda. Terlebih dalam tawaran WGWC tersebut, pengarusutamaan gender menjadi hal utama sehingga gerbong besar WGWC bisa lebih efektif menyuarakan kepentingan perempuan, yakni menjaga keamanan anak-anak kami.
Sebagai ibu, kami risau melihat perkembangan dunia yang semakin sulit diikuti. Demikian juga kekhawatiran kami menemani anak-anak tumbuh dalam era digital dan persoalan moralitas. Akhirnya kami memilih sekolah yang berafiliasi keagamaan yang sehari penuh dengan asumsi anak lebih terjaga di sekolah. Akan tetapi, pilihan ini tidak selamanya tepat. Lebih dari dua dekade kami menghadapi tantangan baru dengan maraknya kekerasan di sekolah dan terpaparnya guru-guru terhadap ekstremisme. Ini yang mendorong kami lebih memperhatikan proses pendidikan anak-anak di sekolah. Modul, bahan ajar dan kurikulum Dinas Pendidikan menjadi hal baru yang harus kami pelajari, hanya untuk memastikan bagaimana anak-anak kami dapat dididik sebagai sosok moderat dan toleran.
Diskusi dengan sesama aktifis dan peneliti lain membuktikan rentannya anak-anak sebagai target radikalisasi dan ekstremisme. Anak-anak menjadi sasaran doktrin atas nama kebenaran agama, dan bahkan sebagian menjadi pelaku pengeboman. Berbagai analisis ini mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa upaya sistemik telah dan sedang dilakukan kelompok ekstremisme untuk mempengaruhi anak-anak kami. Merebut mereka dari pelukan kami. Terbayang kejadian kekerasan Poso, Sulawesi Tengah, beberapa puluh tahun lalu yang mengantarkan salah satu kakak kami berniat berangkat ke Poso untuk jihad. Pada akhirnya tangisan ibu kami menahan kepergiannya. Pengalaman spiritual dalam keluarga kami menjadikan kami teguh berjuang dan menerima peran sebagai koordinator WGWC, tidak hanya sekedar melaksanakan kegiatan, tetapi juga perjuangan para ibu, aktifis dan peneliti. Menyatukan perjuangan bersama pemerintah dalam lokalisasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) di Jawa Tengah — rumah keluarga kami, di mana anak-anak kami akan terus tumbuh dalam pelukan kami. Akhir 2022, propinsi Jawa Tengah dan kota Solo mendapat penghargaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dalam kerja kolaboratif; ini adalah bonus kerjasama antara beberapa pihak.
(bersambung)
***
Tulisan Haryani Saptaningtyas dan C. Dwi Wuryaningsih selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





