Teladan Orang Tua dan Pemahaman Agama yang Rahmah
Meskipun besar di tengah budaya patriarki, Mega mengambil nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan orang tuanya untuk peduli terhadap sesama. Berasal dari keluarga berkecukupan, orang tua Mega termasuk tokoh yang dituakan di kampungnya. Rumahnya tak pernah sepi dikunjungi warga. Ada yang meminta bantuan, memberikan makanan, atau sekedar menonton televisi. Saat itu hanya rumah Mega yang memiliki televisi. Ketika sekelompok warga datang menonton televisi, ibu Mega, dibantu asisten rumah tangga yang akrab disapa Mak Kus, menyiapkan makanan kecil dan minuman.
Begitupun ayah Mega mengajarkan anak-anak berbagi dengan tetangga. Setiap kali musim durian atau rambutan, ketika ayah Mega membelikan buah untuk keluarga di rumah, tak lupa sebagian diberikan ke tetangga. Tak hanya itu, ketika Mega minta dibelikan jajanan yang lewat di depan rumah seperti tahu gejrot, bakso, atau es puter, tetangga-tetangga di sekitar rumah boleh ikut menikmati.
Karakter ringan tangan dan kedermawanan Mega dapatkan dari apa yang telah dicontohkan orang tuanya. Dari sinilah karakter Mega terbentuk dan menjadi modal utama baginya sebagai pendamping. Di samping itu, Mega juga percaya bahwa nilai-nilai agama yang ia yakini mencerminkan kasih sayang terhadap sesama makhluk. Jika Tuhan Maha Penyayang (Rahman), Maha Pengasih (Rahim), dan Maha Pengampun (Rauf), maka tidak ada alasan bagi kita selaku makhluk-Nya untuk tidak menyayangi, mengasihi dan mengampuni sesama makhluk Tuhan yang lain. Dari nilai-nilai kemanusiaan dan pemahaman agama yang rahmah inilah Mega mampu memberikan kekuatan untuk siap mendampingi pihak yang membutuhkan dengan setulus hati.
Kepemimpinan Perempuan Merangkul Berbagai Kelompok
Bertahun-tahun terjun menjadi pekerja sosial, Mega menyadari bahwa agensi perempuan di ruang publik memberikan pengaruh luar biasa. “Program akan berjalan dengan baik jika ada peran aktif perempuan di dalamnya,” ujarnya. Sifat khas perempuan seperti merawat, telaten, sabar, teliti dan luwes sehingga dapat diterima berbagai kalangan, mendukung peran perempuan sebagai pemimpin di masyarakat. Kepemimpinan perempuan juga tidak fokus hanya pada dirinya saja, melainkan merangkul seluruh kelompok masyarakat. Pemahaman ini diperkuat ketika Mega terlibat dalam pendampingan mantan napiter atau pendukung ISIS dalam program reintegrasi sosial dengan pendekatan peacebuilding bersama Tim Tangguh di kelurahan Mekarjaya, kota Depok.
Selama mendampingi para istri mantan napiter, deportan dan returni, kepekaan sosial dan spiritualitas Mega terasah. Setiap kali mendengar curahan hati para istri mantan, rasa empati semakin subur. Meluluhkan prasangka dan menumbuhkan perasaan sama sebagai perempuan dengan segala beban dan tuntutan hidupnya. Lebih parah lagi, stigma pada diri para istri mantan membatasi ruang gerak mereka. Tak jarang Mega resah dan gelisah. Bagaimana menghapus stigma para istri mantan dan menumbuhkan empati di masyarakat sekitar? Sedangkan, belum ada ruang perjumpaan atau pihak yang mempertemukan keduanya?
Tanggal 13 Desember 2021, kali pertama terbentuk tim relawan sistem deteksi dan penanganan dini ekstremisme kekerasan atau biasa disebut dengan Tim Tangguh di kelurahan Mekarjaya. Mega termasuk pendorong dibentuknya Tim Tangguh. Ia juga memberikan masukan kepada Pak Zainal, lurah saat itu, untuk melibatkan para perempuan yang aktif dan dikenal masyarakat sekitar. Bukan tanpa alasan, perempuan memang memiliki lebih banyak ruang-ruang di masyarakat yang bisa dimanfaatkan untuk lebih mengenali kondisi masyarakat dan lingkungannya, misalnya arisan, senam, posyandu, PKK, Pos Gizi, Kampung KB (Keluarga Berencana), dan lainnya. Ketika perempuan aktif berkegiatan di ruang-ruang di masyarakat, maka banyak masyarakat yang mengenali mereka. Sehingga, para perempuan penggerak ini akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat sekitar.
Beruntungnya, mayoritas perempuan penduduk kelurahan Mekarjaya sangat aktif bersosialisasi di masyarakat. Bahkan, banyak perempuan yang menduduki posisi strategis, seperti Ibu Gina sebagai Ketua RW dan Ibu Devi sebagai Sekretaris PKK Kelurahan. Keaktifan perempuan di Mekarjaya ini berhasil meraih berbagai prestasi untuk kelurahan tersebut, sehingga membuahkan kepercayaan masyarakat bahkan aparat kelurahan. Lebih dari 50% anggota Tim Tangguh terdiri dari perempuan. Meski isu radikalisme dan ekstremisme ini dianggap isu berat dan seringkali ditangani laki-laki, tetapi Ibu Devi dan Ibu Gina mampu membuktikan perempuan juga bisa ikut membangun ketahanan di masyarakat dalam reintegrasi sosial. Tidak sekedar mendampingi atau menemani, tetapi juga mempertemukan mantan napiter dan pendukung ISIS dengan masyarakat untuk mewujudkan penerimaan terhadap “orang baru”.
(bersambung)
***
Tulisan Yuyun Khairun Nisa dan Mega Priyanti selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





