Resiliensi dan Reintegrasi Keluarga Eks Napiter ke dalam Pangkuan Masyarakat

Mendengar kata “eks napi teroris (eks napiter)” mungkin langsung memunculkan bayangan tentang masa lalu yang kelam dan ancaman paham ekstrimisme bagi masyarakat. Namun, pernahkah kita merenung dan berpikir sejenak untuk bertanya: bagaimana nasib mereka setelah keluar dari penjara? Apakah mereka hanya dibiarkan menghadapi dunia yang penuh stigma, atau diberi peluang untuk benar-benar berubah?

Meskipun eks-napiter telah menyelesaikan masa hukuman, stigma yang melekat pada mereka sebagai ekstremis, sering kali menghambat upaya mereka untuk kembali ke kehidupan normal. Respon demikian adalah respon yang umum terjadi di masyarakat diakibatkan kekhawatiran dan stigma buruk soal ekstrimisme. Di mana muncul ketakutan berlebih bahwa eks napiter adalah momok menakutkan yang bisa saja melakukan kembali aksi-aksi ekstrim yang sebelumnya pernah mereka rencanakan. 

Resiliensi dan Reintegrasi Keluarga Eks Napiter ke dalam Pangkuan Masyarakat

Diskriminasi sosial akibat stigmatisasi yang berkonotasi negatif menimbulkan perasaan rendah diri pada eks napiter dan menyulitkan mereka menghadapi masyarakat.  Dalam banyak kejadian eks-napiter sering menghadapi stigmatisasi yang menghambat reintegrasi. Mereka dianggap sebagai ancaman nyata terhadap keamanan dan ketenteraman masyarakat, meski sebenarnya mereka telah menunjukkan komitmen untuk berubah. Meskipun sebenarnya pelabelan tersebut belum tentu benar, tetapi dampak dari pelabelan itu sangat berpengaruh pada psikis mereka. Dalam saat-saat demikian, maka diperlukan penguatan yang utuh untuk memangku  kembali eks napiter ke dalam pangkuan masyarakat. 

 

Peran Perempuan dalam Perdamaian: Inspirasi dari Novi Malinda Djamhuri

Novi Malinda Djamhuri, seorang fasilitator Sekolah Perempuan Perdamaian, adalah salah satu perempuan yang memilih menjadi penggerak perubahan di tengah isu ektrimisme.  Dengan keyakinan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua, ia mendampingi keluarga eks-napiter, terutama para istri, untuk bangkit dan membangun kehidupan baru.

Sebagai seorang single parent, Novi menghadapi tantangan hidup yang tidak mudah. Ia berhasil mengantarkan ketiga anaknya lulus perguruan tinggi sambil menyelesaikan pendidikan tinggi untuk dirinya sendiri. Pengalaman ini memberinya kekuatan untuk berbagi semangat dengan istri-istri mantan napiter, yang kerap merasa terpuruk akibat stigma masyarakat. Novi sering mengatakan, “Perempuan mampu bertahan menghadapi kehidupan tanpa suami,” sebagai pengingat bahwa mereka memiliki potensi untuk hidup mandiri.

Novi menggunakan pendekatan kemanusiaan, ia terus berusaha membuka pintu-pintu hati keluarga eks-napiter. Dengan penuh ketulusan dan keberanian, akhirnya dapat berinteraksi dengan para istri eks napiter, bahkan melibatkan anak-anak mereka dalam program literasi di tanah lapang.

Melalui program literasi untuk anak-anak eks-napiter, ia berusaha  melakukan reintegrasi keluarga eks napiter ke dalam pangkuan masyarakat. Ia melihat, banyak dari anak-anak eks napiter tumbuh dengan doktrin ekstrimisme yang kuat. Novi mendirikan Taman Bacaan untuk menanamkan nilai-nilai baru seperti cinta tanah air dan Pancasila. Ketika mendapati anak-anak laki-laki menggambar senjata dan anak-anak perempuan menggambar perempuan bercadar, Novi dengan sabar meluruskan pemahaman mereka. 

“Di negara kita, yang boleh memegang senjata hanya polisi dan tentara. Selain itu juga perempuan juga bisa menjadi apa pun yang mereka impikan, sama seperti laki-laki,” ujarnya.

Selain itu, melalui  tradisi lokal Tapurung (makan bersama) Novi berusaha untuk menciptakan ruang interaksi baru. Dalam momen kebersamaan ini, Novi memperkenalkan ide penanaman jahe merah sebagai peluang ekonomi baru yang melibatkan seluruh warga. Interaksi ini membantu mengikis sekat-sekat sosial, mempererat hubungan antarwarga, dan membuka jalan bagi keluarga eks-napiter untuk diterima kembali di masyarakat.

 

Resiliensi Keluarga dari Stigma Masyarakat

Tanggung jawab untuk bangkit dan kembali ke dalam masyarakat, seyogyanya, tidak sepenuhnya dibebankan kepada individu eks-napiter. 

 Seyogianya, tanggung jawab untuk “bangkit” dan kembali ke dalam masyarakat tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada individu yang baru saja keluar dari lingkaran kekerasan ideologis. Diperlukan kesiapan masyarakat untuk menerima dengan hati terbuka kehadiran eks napiter. Sebab, kesiapan dan respon masyarakat yang masih tertutup dengan melekatkan stigma sosial terhadap mantan pelaku kejahatan terorisme sering kali lebih tajam daripada bentuk diskriminasi lainnya. 

Selain itu, peran keluarga, terutama perempuan, menjadi sangat penting untuk dilibatkan. Kisah Dewi Setiawati, seorang istri eks-napiter asal Klaten, adalah contoh nyata bagaimana perempuan mampu menjadi penggerak perubahan dalam keluarganya. Perempuan asal Klaten ini terus berjuang mencukupi dan mempertahankan keluarganya di tengah tekanan stigma masyarakat dikarenakan suaminya menjadi terpidana teroris.

Dewi, yang mejalanai hari-hari sebagai seorang guru di taman kanak-kanak (TK), berjuang menghadapi dan mengatasi stigma masyarakat. Ketika suami Dewi terlibat dalam kasus terorisme yang mengakibatkan hukuman penjara, Dewi harus menghadapi tekanan sosial yang begitu berat. 

“Ketika suami saya masih di penjara seperti terisolasi dengan tetangga. Setiap kali di luar rumah ada banyak yang bergunjing,” ujarnya.

Akibat hal tersebut, ia awalnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di TK karena khawatir dampak buruk citra suaminya akan mempengaruhi reputasi sekolah. Namun, dukungan kepala sekolah membantunya bertahan dan membuktikan bahwa ia mampu bertahan dan melawan stigma.  

Setelah suaminya bebas bersyarat, Dewi dan keluarganya menghadapi tantangan baru. Sebagai istri dan ibu dari lima anak dengan berbagai kebutuhan, Dewi harus membagi waktu antara tanggung jawab keluarga dan mencari nafkah. Ia memilih membuka usaha laundry untuk menopang kebutuhan keluarganya, sementara suaminya menjalankan usaha isi ulang air mineral. Sikap dan tanggung jawab yang Dewi lakukan mencerminkan kemampuan luar biasa perempuan dan keluarga eks napiter untuk mengatasi tekanan sosial dan ekonomi sekaligus mengambil peran penting dalam memulihkan martabat keluarganya.

Dari pengalaman Dewi, kita bisa melihat, resiliensi yang luar biasa dalam mempertahankan identitas dan martabat keluarganya.  Meski awalnya hampir menyerah, Dewi akhirnya bisa membuktikan bahwa ia mampu bertahan dan membangun kembali kepercayaan masyarakat. Selain itu, sikap tangguh Dewi menjadi bukti bahwa keluarga eks-napiter dapat bangkit dari keterpurukan.

Sikap yang ditunjukkan oleh Dewi dan Novi mengingatkan kita bahwa reintegrasi eks napiter ke dalam masyarakat bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil. Dukungan sosial, kesempatan ekonomi, dan penerimaan masyarakat adalah pilar penting. Di sisi lain, keyakinan dan keteguhan individu untuk melawan stigma dan membuktikan perubahan menjadi kunci utama keberhasilan membangun harmonisasi sosial dalam masyarakat. 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top