Dialog Partisipatif Kunci Reintegrasi: Belajar dari Pengalaman Mega Priyanti

Pendampingan terhadap mantan ekstremis, khususnya perempuan, adalah kerja yang tidak mudah dilakukan karena sarat tantangan emosional dan sosial. Para  mantan simpatisan ekstimism, khususnya perempuan,  biasanya menghadapi kesulitan berupa stigma dari masyarakat dan ketidakpercayaan pada diri mereka sendiri. Hal itulah yang kemudian dilihat oleh Mega, seorang perempuan yang melakukan kerja-kerja pendampingan di lapangan terhadap perempuan mantan ektrimis dan mantan napi teroris. 

Mega, seorang pendamping yang memiliki ikatan kuat dengan kemanusiaan, telah menemukan panggilan hidupnya dalam membantu mereka yang membutuhkan. Mega meyakini bahwa reintegrasi sosial tidak hanya tentang memulihkan individu tetapi juga membangun masyarakat yang lebih inklusif. Ia menekankan pentingnya mendekati setiap kasus dengan rasa empati dan penghargaan terhadap kemanusiaan mereka. Selain itu, menurutnya, setiap individu berhak atas kesempatan kedua, termasuk mereka yang pernah bergabung dengan kelompok ekstremis. 

Dialog Partisipatif Kunci Reintegrasi: Belajar dari Pengalaman Mega Priyanti

“Setiap orang pernah salah, tetapi semua berhak untuk memperbaiki diri,” kata Mega seperti diungkapkanya dalam Podcast WGWC. 

Di beberapa kejadian, Mega mendapati bahwa banyak perempuan yang terlibat dalam ekstremisme bukan karena mereka mendukung ideologi tersebut, tetapi karena tekanan keadaan dan propaganda yang menyasar kerentanan mereka. Contohnya adalah kasus seorang ibu yang membawa anaknya ke Suriah demi pengobatan anaknya yang menderita autisme. Karena termakan janji dan iming-iming palsu tentang perawatan medis terbaik di sana, mereka akhirnya berangkat dan tiba di sana.  

 

Membuka Dialog Prtisipatif

Upaya pendampingan Mega tidak lepas dari metode dialog partisipatif yang ia gunakan. Ia tidak hanya menjadi pendamping, tetapi juga seorang teman yang mampu memberikan rasa nyaman kepada mantan ekstimis. Langkah ini ia tujukan untuk membangun kepercayaan, sekaligus menjadi kunci yang dapat membuka pintu bagi untuk berbagi cerita yang belum pernah diungkapkan kepada siapa pun sebelumnya.

Selama proses dialog, mega mengakui belajar banyak hal dari mereka, dan mereka pun banyak belajar darinya.  Secara tidak langsung, ia menciptakan ruang belajar bersama, di mana kedua belah pihak—pendamping dan yang didampingi—saling belajar. Ia juga mendorong keberanian individu untuk membuka diri, baik kepada individu dalam masyarakat maupun kepada individu eks simpatisan.

Sebagai perempuan, Mega memahami betul pentingnya solidaritas di antara sesama perempuan. Ia melihat pengalaman unik perempuan dan penderitaan yang dialami cenderung memiliki kesamaan dengan perempuan lain pada umumnya, sehingga hal tersebut menjadi ruang pembuka dialog. Mega memahami bahwa pengalaman emosional, sosial, dan kultural yang dialami perempuan sering kali memiliki pola yang serupa, terlepas dari latar belakang mereka. Kesamaan ini menjadi modal besar untuk membangun koneksi dan empati.

Kunci lain keberhasilan melakukan reintegrasi dan rehabilitasi masyarakat dan eks ekstrimis  yang Mega lakukan adalah dengan melakukan pemetaan aktor-aktor perempuan yang berperan penting di lingkungan tersebut. Ia mengidentifikasi tokoh-tokoh perempuan di sana, lalu melibatkan mereka dalam upaya mendukung reintegrasi. Tokoh perempuan ia libatkan untuk menyuarakan pentingnya rekonsiliasi dan penerimaan, baik di tingkat keluarga maupun komunitas. Hal ini terbukti efektif dalam mengurangi resistensi dan menciptakan suasana kondusif bagi proses rehabilitasi.

Dengan pendekatan berbasis gender yang mengutamakan peran perempuan, Mega berhasil membangun kepercayaan di dalam masyarakat dan menciptakan mekanisme dukungan yang lebih inklusif. Ia melihat, reintegrasi bukan sekadar proses sosial, tetapi juga transformasi budaya yang mengedepankan keadilan dan kesetaraan.

Selain itu, Mega percaya bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan program formal atau pendanaan besar. Pendekatan spontan dan organik di akar rumput, seperti dialog santai dari rumah ke rumah atau kunjungan tanpa jadwal resmi, sering kali lebih efektif. Dialog santai yang dilakukan Mega juga memungkinkan adanya ruang untuk mendengarkan cerita dan pengalaman masyarakat secara lebih autentik. Dalam suasana informal, mereka merasa lebih bebas untuk mengungkapkan perasaan, kebutuhan, dan kekhawatiran mereka. Informasi yang didapat dari interaksi ini sering kali menjadi dasar penting dalam merancang langkah-langkah reintegrasi dan rehabilitasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. 

 

Inspirasi dan Kerja Nyata Perempuan

Mega adalah contoh nyata bagaimana perempuan dapat berperan strategis dalam perdamaian dan keamanan. Ia menunjukkan bahwa prinsip kemanusiaan, dialog yang mendalam, dan kekuatan nilai-nilai perempuan dapat menjadi landasan yang kokoh untuk mendukung reintegrasi sosial. Kisahnya mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari hati ke hati, dari nilai-nilai kemanusiaan yang tulus.

Mega, seorang fasilitator dan penggerak perdamaian telah mengabdikan dirinya selama lebih dari dua dekade untuk memberdayakan masyarakat lokal di berbagai wilayah Indonesia. Ia memiliki hasrat untuk memberdayakan masyarakat, memanfaatkan pendekatan organik dan berbasis empati untuk menciptakan perubahan berkelanjutan.

Sejak 2017, Mega bekerja dengan EMPATIKU untuk mendukung reintegrasi sosial bagi pengungsi yang kembali, dideportasi, dan mantan narapidana teroris yang berafiliasi dengan ISIS. Selain itu, pengalaman sebelumnya bersama AMAN Indonesia, di mana ia terlibat dalam kegiatan perdamaian di daerah pasca-konflik seperti Poso, Madura, dan Sampit,  semakin memperkuat keterampilan dan visinya dalam menciptakan perdamaian.

Dengan pendekatan berbasis empati, gender, dan kemanusiaan, Mega terus berkontribusi dalam menciptakan transformasi sosial. Ia meyakini bahwa kekuatan perempuan, kolaborasi, dan narasi inklusif adalah kunci utama untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di Indonesia.

 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top