Roswin Wuri: Menggagas Perdamaian Melalui Kebun Organik

Pada pembukaan Talk Show bersama Roswin Wuri, Ruby Kholifah selaku Direktur AMAN Indonesia menyampaikan bahwa saat itu deklarasi Malino 19-20 Desember menandai berakhirnya konflik Poso. Namun aksi-aksi kekerasan di Poso masih terus terjadi. Pemerintah Indonesia melalui kementrian sosial telah mengeluarkan dana dalam kemasan SERASI. Tujuan utamanya adalah untuk memulihkan kepercayaan masyarakat POSO. 

Salah satu tokoh yang berperan penting dalam melanjutkan agenda rekonsiliasi adalah Roswin Wuri, seorang pendeta, pengajar dan ketua presedium persatuan sekolah perempuan perdamaian. Wuri merasa terpanggil untuk hadir ditengah masyarakat Poso yang masih menyisakan luka akibat konflik perbedaan agama. Ia memilih pendekatan yang sangat keren yaitu memanfaatkan pertanian organic sebagai medium rekonsiliasi. Menurutnya, interaksi intens anran individu bisa membuka ruang anatar mereka yang berbeda. Tanah yang banyak terbengkalai dan kurang produktif di wilayah tersebut cukup memberi peluang untuk menghubungkan sosial antarwarga, khususnya antara muslim dan kristen. 

Roswin Wuri: Menggagas Perdamaian Melalui Kebun Organik

 

Menanam Benih Memupuk Harapan

Di tengah realitas masyarakat yang masih tersegregasi berdasarkan agama, Wuri seorang pendeta di Poso melihat pentingnya menjaga perdamaian. Berawal dari keikutsertaan dalam Sekolah Perdamaian Aman Indonesia di Poso pada tahun 2010, Wuri menjadi fasilitator Sekolah Perempuan Perdamaian tinggal di wilayah pegunungan yang luas dan indah namun penuh tantangan.  Para ibu sering kehabisan stock sayur mengharapkan sayur keliling percuma, karena ketika sampai diatas sayur sudah layu dan tinggal sisa-sisanya saja. 

Aktif diisu perdamain membuat Wuri tidak lupa akan kecintaannya terhadap tanaman, kebutuhan akan sayur dan tanah-tanah warga ditinggal saat konflik mendorongnya berfikir kreatif, perempuan harus menjadi sahabat alam ungkapnya. Kebun ini tidak hanya menyediakan kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi mereka. Dalam pengelolaan tanaman, mereka tidak menggunakan bahan kimia berbahaya yang bisa melukai tanah.

Sebagai upaya untuk menciptakan perdamaian, wuri melibatkan perempuan muslim dan kristen bersama-sama mengelola kebun ini. Kebun organik tersebut membuka jalan untuk hubungan yang lebih intens. Salah satu cerita datang dari Omad, seorang penjual ikann muslim dari Malei Lage yang sering menawarkan barter sayur dengan ikan. Interaksi tersebut menjadi silaturahmi yang erat, hingga mempertemukan para ibu dari kebun dengan keluarga dan tetangganya.

Menanam sayur bukan hanya soal ketahanan pangan, tetapi juga sebuah kecintaan kita terhadap alam, menanam benih-benih perdamaian dengan perjumpaan masyarakat. Kebun yang menjadi simbol dimana perempuan dari latar belakang yang berbeda, bekerja sama, berbagi pengalaman dan saling mengormati.

 

Falsafah Tanah Dan Nilai Pedamaian

Kebun sayur organik di Sawidago meberi dampak yang baik bagi masyarakat. Kebun ini tidak hanya menjadi sumber produk organik, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan pertemuan lintas agama. Keluarga muslim yang tinggal di sekitar Sawidago sering naik ke kebun untuk belajar teknik bertani organik atau membeli hasil panennya. Selain itu kelompok perempuan dari Desa Uelincu pun antusias. Mereka secara berkelompok datang ke Sawadigo untuk belajar langsung dari Wuri dan timnya tentang praktik berkebun organik. Dalam Kelas tersebut, peserta mendapatkan pemahan, tidak hanya soal teknik bertani, tetapi juga filosofi tanah dan nila-nilai perdamaian yang menjadi fondasi dari pertanian organik. Nilai-nilai yang diajarkan adalah untuk mempererat kembali hubungan yang terputus akibat konflik perbedaan. 

Pada tanuh 2018, Wuri bersama komunitasnya menginisiasi pasar organik mingguan di Kota Tentena. Pasar ini bertujuan untuk memperkenalkan produk organik kepada masyarakat. Respon masyarkat sendiri sangat positif karena mendapatkan produk sehat dengan hrga yang terjangkau. Lebih dari sekedar transaksi, pasar organik ini juga menjadi tempat pertemuan antar individu dari berbagai latar belakang agama, suku dan sosial. Pemepuan dan laki-laki yang berbelanja saling nenyapa, bertukar kabar, bahkan menanyakan kondisi kampung masing-masing.

Kebun sayur yang diinisiasi oleh Wuri dan para perempuan dari Sekolahnya tidak hanya mampu menjadi penggerak tetapi juga mampu menggagas perdamaian. Pertanian organik memulihkan kembali masyarakan yang terpecah oleh konflik dari kondisi pasca konflik sebelumnya di wilayah tersebut. Wuri merasa terpanggil untuk menciptakan ruang pertemuan, tempat masyarakat kembali menjalin hubungan dan mengikir rasa curiga. Baginya perempuan memiliki peran istimewa sebagai penjaga kehidupan, penjaga kedamaian dan penjaga alam. Ketika kehidupan tercabik oleh kekerasan dan konflik nalurinya untuk menyembukan menjadi dorongan yang alamiah.

Wuri sangat memahami, bahwa perdamaian tidak hanya berarti hubungan baik dengan sesama manusia. Perdamaian juga mencakup kedamaian dengan diri sendiri, dengan lingkungan dan alam. Ketika manusia hidup damai dengan alam, maka alam pun akan merespon dengan kedamaian yang sama. Falsafah ini menjadi dasar gerakan kebun organik di Sawidago, sekalogus menjadi alat untuk menyatukan kembali kelompok yang tercerai berai.

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top