Peran Perempuan dan Teknologi dalam Mewujudkan Kampanye Damai di Era Digital

Oleh: Achmad Nanang Firdaus

Era digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi, menjadikan media sosial sebagai ruang interaksi yang mudah diakses oleh banyak orang. Platform ini biasa digunakan untuk berkomunikasi, berbagi informasi dalam jangkauan luas, membentuk opini, sekaligus  menciptakan ruang untuk diskusi yang konstruktif. Namun, dibalik kemudahan ini, terdapat tantangan serius yaitu berupa penyebaran narasi-narasi ekstrem yang dapat menyebar dalam kejapan mata, mengancam stabilitas dan keamanan pengguna, khususnya perempuan. Oleh karena itu, langkah pencegahan melalui media sosial dan teknologi AI perlu direalisasikan untuk menanggulangi narasi-narasi ekstrem yang selalu menghadirkan ketegangan dan ancaman bagi pengguna media sosial. 

Peran Perempuan dan Teknologi dalam Mewujudkan Kampanye Damai di Era Digital

 

Perempuan dan Gen-Z Sasaran Empuk Konten-konten Ekstrem

Kepala BNPT RI Komisaris Jenderal Polisi Mohammed Rycko Amelza Dahniel mengungkapkan bahwa pada tahun 2023, terdapat 2.670 konten digital bermuatan IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme). Menurutnya, perempuan dan generasi muda merupakan kelompok yang rentan terdampak konten-konten tersebut. 

Namun, bukan hanya sebagai kelompok rentan dan korban dari konten bermuatan IRET tersebut, perempuan turut terlibat aktif dalam aksi ekstremesme, radikalisme dan terorisme. 

Faktor utama keterlibatan perempuan dalam aksi ini dipicu oleh konten-konten media sosial yang bermuatan IRET. Sehingga mereka terdoktrin dan mengalami brainwashed/cuci otak yang mengubah ideologinya menjadi ekstrem. 

Hadirnya perempuan dalam lingkaran ekstremesme ini bukanlah pertanda dari keeksistensian perempuan, melainkan adanya eksploitasi, strategi serangan, dan sebagai alat propaganda, dengan anggapan bahwa perempuan memiliki citra yang lembut dan penyayang yang dapat menarik simpati dan menumbuhkan kepercayaan kepada banyak orang, sehingga ini akan mempermudah kelompok ekstremesme dalam mencapai tujuannya. 

Melihat kondisi ini, perlunya merealisasikan ‘Kampanye Damai’ yang bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk membangun kohesi sosial, menekankan bahwa kebersamaan seyogianya tidak hanya berarti tentang hidup berdampingan, tetapi juga saling mendukung untuk menciptakan ruang aman bagi semua, khususnya bagi kaum perempuan. Kampanye Damai ini diharapkan dapat menjangkau berbagai kalangan dan menciptakan gerakan kolektif yang memperkuat resiliensi masyarakat terhadap pengaruh negatif dari media sosial yang dapat mengancam dan memecah belah persatuan. 

 

Kampanye Damai melalui Literasi Media dan Teknologi AI peka gender

Dalam menjalankan Kampanye Damai, tantangan untuk memerangi pengaruh narasi ekstrem yang beredar di media sosial mesti dihadapi. Kunci atas masalah ini terletak pada Literasi Media, Teknologi AI dan peran perempuan dalam mengampanyekan pesan damai. 

Literasi Media adalah skill atau kemampuan individu dalam mengakses, menganalisis, dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media massa atau bisa dikatakan Literasi Media adalah semacam perspektif yang dimiliki seseorang secara aktif dalam mengakses media dan menginterpretasikan pesan yang ia terima dalam media tersebut.

Seseorang yang memiliki literasi media yang baik cenderung lebih bijaksana dan cakap dalam bermedia, mengklarifikasi setiap berita yang diterima, menjadi informan yang positif, dan menciptakan counter-narrative yang mencerahkan dan mendukung perdamaian. Di sisi lain, Kampanye Damai juga dapat memanfaatkan Teknologi AI yang dapat mendeteksi, menganalisis dan menyaring segala berita dan informasi yang bermuatan IRET  (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme) dalam media sosial. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, AI mampu memahami narasi-narasi ekstrem yang muncul dan menghadapinya dengan narasi yang penuh toleransi, kedamaian dan peka gender. Sehingga, AI sebagai teknologi yang dapat menyuarakan ‘Kampanye Damai’ dengan narasi-narasi penuh perdamaian dan berbasis gender. 

 

Peran Perempuan dalam Kampanye Damai di Media Sosial

 Peran perempuan dalam mengampanyekan pesan damai di media sosial sangat penting. Sebagai garda terdepan, perempuan berperan dalam membangun narasi positif yang dapat menangkal dan menetralisir berbagai narasi ekstrem. Perempuan juga menjadi pemimpin dalam campaign media sosial yang mempromosikan dan menyuarakan “Kampanye Damai.” Selain itu, mereka turut serta dalam tim pengembangan teknologi AI yang mendesain algoritma media sosial agar responsif terhadap kebutuhan perempuan, serta berperan aktif dalam pengambilan kebijakan yang dapat menentukan arah regulasi media digital. Adapun salah satu aktivis perempuan yang berpartisipasi aktif dalam mengampanyekan perdamaian melalui media sosial adalah Mbak Ruby Kholifah sebagai Direktur The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia. Beliau banyak melahirkan kerja-kerja perdamaian dengan memperkuat kapasitas perempuan dan menggerakkan perempuan dalam melawan intoleransi, radikalisme, dan ekstremesme di media sosial, mempromosikan isu kesetaraan gender dalam konteks pencegahan ekstremesme kekerasan. Beliau memiliki karya yang utama antara lain buku “The Hidden Pearls – Heroic Stories of Women Peace Builders” (2016), kemudian buku “The Future of Asian Feminisms: Confronting Fundamentalism, conflict and Neoliberalism” (2012). Semua karyanya memberikan bukti nyata terhadap komitmennya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan perdamaian dalam skala nasional maupun internasional. 

 

Perlindungan perempuan dalam kampanye damai melalui media sosial dan teknologi AI

Perlindungan perempuan merupakan bagian integral dalam proses kampanye damai. Selain perempuan terlibat menjadi pelaku aktif ekstremesme, mereka juga merupakan kelompok yang rentan terhadap aktivitas IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme) yang menyebar di media sosial, eksploitasi, Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), dan ujaran kebencian berbasis gender. Sehingga, perlindungan terhadap perempuan dalam kampanye damai harus menyertakan kebijakan yang lebih spesifik dan sensitif terhadap gender. 

Teknologi AI berperan dalam menganalisis berbagai konten-konten dalam media sosial yang bernuansa negatif dan mengarah pada diskriminasi gender, sehingga dapat menyediakan algoritma media sosial yang memuat narasi yang lebih positif, mendamaikan, dan sensitif gender. Bahkan, AI dapat dirancang untuk memantau dan melaporkan konten-konten yang memuat IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme) yang mengancam pengguna media sosial, khususnya perempuan. 

Adapun dalam pelayanan perlindungan perempuan dapat dilakukan dengan penyediaan saluran pelaporan yang dapat diakses oleh perempuan yang mengalami segala pengaruh negatif berbasis gender dalam media sosial. Misalnya, penyediaan layanan Call Center atau platform daring yang melayani pelaporan korban. Kemudian penyediaan aplikasi atau platform yang dapat mencegah dan melindungi pengguna media sosial, khususnya perempuan dari bahaya konten ekstrem dan bernuansa kekerasan seksual, seperti aplikasi ‘Stop Ekstremism’ dan Platform ‘SafeNet’. Pelayanan perlindungan perempuan dalam media sosial ini sangat penting dilakukan untuk memastikan bahwa perempuan merasa aman dan dilindungi dalam menghadapi tantangan yang mereka jumpai di media sosial. 

Selain itu, penting bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam pengembangan kebijakan media sosial dan teknologi AI. Perempuan harus diberikan ruang untuk berperan aktif dalam pengawasan konten digital dan pembuatan kebijakan yang menyangkut regulasi media sosial, sehingga kebijakan yang dihasilkan dapat lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan perempuan. Sehingga, dalam hal ini perempuan tidak hanya sebagai subjek yang dilindungi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang aktif dalam mempengaruhi arah kebijakan dan regulasi yang berkaitan dengan media sosial.

 

Media Sosial: Wadah Interaksi Kolaborasi dan Persatuan dalam Kampanye Damai yang Ramah Perempuan

Penggunaan media sosial secara bijak dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat. Media sosial dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk menyuarakan pesan-pesan kedamaian, mempromosikan literasi media yang bijaksana, dan memberdayakan perempuan sebagai agen perubahan. 

Keterlibatan perempuan dalam kampanye damai melalui media sosial dan teknologi AI akan menciptakan kolaborasi yang lebih inklusif dan lebih sensitif terhadap kebutuhan perempuan. Dalam hal ini perempuan bukan hanya sebagai penikmat media sosial saja, tetapi juga sebagai pengembang kebijakan media sosial yang lebih responsif terhadap isu-isu gender. 

Dengan kolaborasi yang berlandaskan pada pemahaman dan pengalaman perempuan, media sosial dapat menjadi platform yang memfasilitasi persatuan, merayakan keberagaman, dan mendorong perdamaian. Kemampuan Teknologi AI yang dapat mengatasi narasi ekstrem di media sosial, menjadikannya alat yang sangat berharga dalam membangun dunia digital yang lebih damai dan inklusif bagi semua.

Mari bersama-sama ciptakan media sosial dan Teknologi AI yang peka gender untuk melawan intoleransi, radikalisme dan ekstremesme. Dukung perempuan untuk menjadi garda terdepan dalam menciptakan kebijakan dan narasi positif yang penuh kedamaian. Ayo, sebarkan pesan damai dan ciptakan ruang aman bagi semua! 

 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top