Satu kasur beda mimpi. Tidak semua istri teroris memiliki cita-cita Negara Khilafah. Tahun 2016, saya diminta Pusat Riset Ilmu Kepolisian dan Kajian Terorisme Universitas Indonesia (PRIK UI) memfasilitasi sesi berjudul self-empowerment yang isinya membangun kepercayaan diri para istri mantan narapidana terorisme. Dengan teknik Sungai Kehidupan Perempuan, saya minta peserta menceritakan kehidupannya dalam gambar aliran sungai. Seperti aliran sungai yang tidak lurus, maka kelokan, kontur sungai secara detil dijadikan ilustrasi gelombang kehidupan mereka. Setiap fase kehidupan bahagia diberi gambar bunga. Fase kehidupan yang sulit, sedih dan tak berdaya diwakili batu. Setelah semua gambar dipasang di tembok kelas, saya menyaksikan setiap gambar penuh taburan batu. Gambar bunga hanya tersemat pada fase menikah, melahirkan anak, dan pembebasan suami dari lembaga pemasyarakatan (Lapas). Kemudian, saya meminta mereka menggambar cita-cita mereka. Serempak semua ummi, peserta training yaitu istri narapidana terorisme, seperti dikomando menggambar rumah dan anggota keluarga mereka. Tidak ada narasi negara Islam dan jihad. Saat itu, saya hanya mendengarkan para ummi ini bertutur tentang rumah dan kebahagiaan jika bisa berkumpul dengan suami dan anak-anaknya.
Pada tahun berikutnya saya bertemu Nih Luh dari Bali di sebuah launching buku di Jakarta. Suami Ni Luh meninggal saat peristiwa Bom Bali 1 tanggal 12 Oktober 2002. Dalam tradisi Bali, perempuan yang suaminya meninggal diminta menyerahkan anak-anaknya pada keluarga suami, dan si istri kembali ke keluarganya untuk mempersiapkan pernikahan selanjutnya. Saat itu, Nih Luh memilih jalan berbeda. Dia tetap bersikeras mengasuh anaknya dan memutuskan tidak menikah. Meskipun mengalami berbagai pertentangan keluarga, akhirnya dia bisa mempertahankan hak asuh anak-anaknya.
Tampaknya penelurusan saya tentang perempuan dan ekstremisme kekerasan semakin meluas. Tanggal 28-29 April 2016, saya diminta presentasi di forum berjudul “The Role of Women in Preventing Violent Extremism and Link to 1325” (Peran Perempuan dalam Pencegahan Extremisme Kekerasan dan Hubungannya dengan Resolusi 1325). Kegiatan di New York ini diselenggarakan Permanent Mission of Australia and Lithuania, berkolaborasi dengan Inclusive Security dan The Global Center. Saat itu, proyek Sekolah Perempuan Perdamaian AMAN Indonesia telah berusia delapan tahun dan benih-benih transformasi sudah mulai terlihat. Saya menggunakan kerangka perempuan, perdamaian dan keamanan untuk mengeksplorasi kepemimpinan perempuan untuk membangun ketangguhan masyarakat.
Saya juga menyimak cerita-cerita pilu kekerasan seksual dan berbasis gender dalam konteks ekstremisme kekerasan seperti penculikan para gadis yang dijadikan budak seks oleh Buko Haram di Nigeria. Stigma dan penolakan masyarakat terhadap sejumlah gadis yang kembali dari kamp penyekapan teroris di Kenya. Para ahli yang hadir menghubungkan extremisme kekerasan dengan konsep perempuan, perdamaian dan keamanan. Pikiran saya baru terbuka bahwa kerja-kerja peacebuilding sangat beririsan dengan fenomena terorisme. Ide-ide berlompatan dalam kepala saya.
Sekembalinya dari New York, berbekal perjumpaan dengan beberapa perempuan istri mantan napiter dan korban terorisme, saya memikirkan mendesaknya perspektif gender dalam semua kebijakan dan intervensi program. Saya melakukan sejumlah pertemuan informal dengan banyak aktor perempuan diantaranya Mira Kusumarini, saat itu masih direktur Civil Society Against Violent Extremism (C-SAVE). Kami membicarakan pembagian fokus kerja jaringan C-SAVE dengan jaringan baru yang fokusnya mengawal pengarusutaman gender. Saya menemui Dete Aliah, salah satu orang kunci isu terorisme. Saat itu beliau menjabat salah satu direktur di Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP). Dari kedua aktifis perempuan ini, saya mengoleksi berbagai informasi tentang pintu-pintu radikalisasi perempuan, narasi radikalisme serta cerita keberhasilan perempuan melakukan pelepasan (disengagement) suaminya dari kelompok dan idiologi ekstremis. Saya merasa kacamata yang dipakai kedua orang kunci tersebut masih counter terrorism, di mana situasi dan kondisi yang berpotensi melahirkan radikalisme (condition to condusive) belum banyak dijajaki. Relasi kuasa gender juga belum menjadi sentral analisa saat itu.
Saya juga berjumpa komisioner Komnas Perempuan waktu itu, Riri Khariroh, yang banyak menjajaki hak-hak perempuan sebagai standar penanganan terorisme. Karena saya pernah terlibat PRIK UI, saya sertakan Any Rufaedah, seorang peneliti, dalam penggalian awal tentang pentingnya menggunakan cerita pengalaman perempuan untuk melawan dominasi wacana maskulin dalam pencegahan terorisme.
Tahun 2017, saya dapat kesempatan kunjungan belajar ke Australia bersama perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Hukum dan HAM. Inilah momentum emas saya untuk membangun kepercayaan dengan pemerintah, memperkenalkan kerja-kerja masyarakat sipil, khususnya AMAN Indonesia, dan membagi praktik-praktik baik jaringan masyarakat sipil.
Dengan tabungan informasi dan koneksi dari berbagai sumber, restu sejumlah aktor kunci dari non pemerintah dan kementerian/lembaga terkait, saya memberanikan diri mengambil langkah strategis mengumpulkan semua aktor yang bekerja di isu pencegahan dan penanganan terorisme yang berkantor di Jakarta, dan sejumlah perwakilan daerah. Tampaknya alam ikut mengamini rencana ini, Afnia Sari, program officer Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ) menyambut gembira rencana ini, dan langsung menyampaikannya kepada team leader. Dalam sekejap, workshop tiga hari membahas rencana strategis CSO secara bersama dilakukan, dan saya memfasilitasi prosesnya. Tanggal 25 April 2017, jaringan baru bernama Working Group on Women and Preventing/Countering Violent Extremism (WGWC) lahir dari kesamaan rasa pentingnya kekuatan kolektif mendorong kesetaraan gender dalam konteks terorisme.
(bersambung)
***
Tulisan Dwi Rubiyanti Kholifah selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





