Membuat Perempuan Lain Berdaya, hingga Hadirnya Forum
Aku tidak mau sendiri dan ikut terseret dalam masalah yang dihadapi para istri, keluarga ataupun masalah-masalah sosial. Aku seorang diri dengan kelemahan dan kelebihan, tentu tidak bisa menjadi solusi berbagai masalah yang dihadapi para temanku. Dalam proses evaluasi dan juga pembelajaran yang aku renungkan bersama timku, tercetus dalam benakku, kenapa tidak kita membuat sebuah forum? Aku dengan pede-nya menuliskan itu sebagai salah satu rekomendasi dalam sebuah laporan kegiatan di tahun 2021.
Tak ada kabar. Ya, aku pikir itu hanya sebuah ide nyasar dan kemudian terbang entah ke mana dan akhirnya tersesat tak kembali. Namun, satu saat aku dapat kabar bahwa rekan kerja di lembagaku tempat bekerja, sebuah lembaga jaringan/kumpulan lembaga yang mendanai intervensi di tahun 2021, ingin mengaplikasikan rekomendasi yang aku dan timku tulis. Yups! Benar, forum ini akan dibentuk.
Aku ingin para istri maupun ibu maupun saudara perempuan yang sudah dewasa dalam keluarga bisa tetap terhubung dalam sebuah komunitas atau grup atau forum semacam itulah. Ini salah satu keinginanku untuk membuat kegiatan sosial dengan keluarga lebih kuat dan berdampak positif pada lingkungan serta anak-anak mereka sebagai generasi masa depan. Tidak hanya bermanfaat 1-2 bulan, tapi bisa berkelanjutan di masa depan dalam memperkuat dan membangun kemandirian perempuan.
Aku tak bermaksud mendiskriminasi kaum laki-laki, tapi permasalahan di dunia begitu banyak, aktor yang terlibat juga harusnya bervariasi. Aku ingin mulai dari perempuan dewasa dalam keluarga seperti istri maupun ibu atau anak perempuan, karena itulah yang tim mampu lakukan saat ini. Kami memiliki akses dengan perempuan-perempuan yang pernah kami bantu, dan kami tidak mau kegiatan itu berhenti di sana. Kami ingin ada kelanjutannya. Semoga forum dukungan perempuan ini bisa bermanfaat untuk keluarga mereka, bukan hanya kepada suami mereka tapi anak-anak dan anggota keluarga lainnya, bahkan tetangga dan masyarakat yang lebih luas.
Forum dukungan perempuan ini didirikan bersama atas keinginan para perempuan itu sendiri tanggal 26 Mei 2022. Tentu dibantu lembaga-lembaga yang bersedia meluangkan waktu dan materi. Para lembaga yang memiliki sumber untuk mengumpulkan mereka dan para ibu rumah tangga yang mau terlibat, mendiskusikan kebutuhan yang diperlukan untuk menguatkan perempuan sebagai individu dan menularkannya kepada keluarga serta orang-orang di sekitarnya.
Terbatasnya sumber dana memang menunda peresmian forum ini secara struktur organisasi maupun keanggotaan. Berkat dukungan beberapa lembaga tertentu serta undangan pada teman-teman perempuan aktivis dan pendamping/pekerja sosial dari lembaga lain, forum ini bersama lima tim perempuan perwakilan forum yang berjumlah 16 perempuan berkumpul dan menyatukan ide untuk bergerak bersama sebagai forum perempuan yang berdaya.
Setelah pertemuan dilakukan, aku langsung melihat adanya pergerakan dan ide-ide bermunculan dari para pengurus forum yang baru saja dilahirkan beberapa jam lalu. Acara diskusi dilakukan hingga sore hari, dan pada malam hari HP-ku berbunyi terus menerus menandakan adanya pesan Whatsapp masuk. Saat itu, aku berada di sebuah kafe dekat lokasi pertemuan dan belum pulang karena ada beberapa pekerjaan yang menanti disentuh. Sejenak aku berhenti dari fokus mataku ke laptop, aku melihat pesan-pesan itu dalam genggamanku. Mataku berbinar-binar, aku dimasukkan dalam grup baru, berisi pengelola forum. Aku pun terkesan dengan pesan grup besar di forum yang diberikan salah satu tim pengelola inti terkait hasil pertemuan hari ini. Para pengelola juga langsung membicarakan strategi dan juga jadwal pertemuan berikutnya.
Ok, aku menghela nafas dan memberikan pesan apresiasi, serta akan membantu memberikan hasil notulensi yang telah aku tulis terkait hasil rapat hari itu. Keesokan hari dan seterusnya para pengelola membahas jadwal pertemuan yang akan datang dan akan bahas apa. Muncul juga ide untuk langsung bergerak membantu anggota forum yang sedang mengalami musibah kebakaran. Grup pengelola pun ramai dan aku pun digerakkan dengan pesan langsung dari salah satu anggota untuk menggalang dana. Akhirnya galang dana pun dikoordinasi langsung oleh pengelola dan aku dengan bibir tersenyum lebar, berbicara dalam hati “this is what I want! (inilah yang aku mau)”. Intervensi sosial yang mampu merubah perilaku bukan saja adanya kenaikan tingkat pengetahuan. Memunculkan bakat-bakat/kemampuan-kemampuan manusia yang pada dasarnya adalah baik.
Dengan pengalaman panjang yang aku rasakan hingga aku bisa berdaya atau bisa dikatakan mandiri sebagai individu secara ekonomi dan emosi, di mana aku tidak menggantungkan kebahagiaan dan kesedihanku pada orang lain, aku juga ingin ini dialami oleh perempuan lain. Jika orang lain melakukan tindakan tidak menyenangkan padaku tanpa alasan, itu tidak mempengaruhiku untuk membalasnya dengan marah-marah. Bukan berarti tindakan orang itu lakukan benar, tapi aku hanya manusia, ada yang suka dan tidak suka. Aku tidak bisa membuat semua orang senang. Yang bisa aku lakukan adalah melakukan yang terbaik bagi hidupku tanpa menyakiti orang lain.
(bersambung)
***
Tulisan Erni Kurniati selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





