Model Daiyah: Membangun Persaudaraan Lewat Silaturahmi Literasi
Keterlibatan Teh Roro dalam pendampingan keluarga napiter/eks-napiter ini bermula dari ajakan Teh Desi (bukan nama sebenarnya), sahabat Fatayat yang semenjak 2009 telah bersama-sama dengannya mendampingi anak, perempuan, dan kelompok minoritas. Teh Desi, sebagai anggota Pengurus Wilayah Fatayat NU Jawa Barat, merekomendasikan Teh Roro untuk bersama-sama melakukan pendampingan keluarga napiter/eks-napiter yang sebelumnya ditawarkan oleh Pak Shofa dari komunitas RUDALKU kepada para daiyah Fatayat NU Jawa Barat.
Melalui komunitas RUDALKU inilah Teh Roro dan Teh Desi terhubung dengan keluarga napiter/eks-napiter. Dalam tataran pendampingannya, di setiap daerah yang ada keluarga napiter/eks-napiter, tim RUDALKU mengajak para daiyah untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Di kota C tim RUDALKU bekerja bersama Teh Desi, di kota A bersama Teh Roro. Ajakan kepada daiyah ini dikarenakan pendekatan pendampingannya melalui cara kekeluargaan. Tentu pendamping harus sebisa mungkin berperan layaknya keluarga bagi dampingannya, bisa mengobrol akrab menggunakan bahasa daerah, serta berinteraksi sesuai kebiasaan dan adat di mana mereka tinggal sehingga mempermudah pendampingan. Maka, pemilihan pendamping dirasa lebih tepat jika dipilih juga berdasar domisili sama dengan keluarga napiter/eks-napiter.
Sebagai seorang daiyah Forum Dakwah Fatayat (FORDAF), Teh Roro memegang prinsip dakwah Rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi seluruh alam dalam pendampingannya terhadap keluarga napiter/eks-napiter. Prinsip dakwah dijelaskannya pada saya dengan satu kalimat saja: “Dakwah itu merangkul, bukan memukul”. Kalimat tersebut mengingatkan saya pada banyak dakwah yang sebaliknya. Saya alami sendiri dengan kelompok fanatik di kota tempat saya tinggal. Suatu siang sepulang dari madrasah tsanawiyah (sekolah Islam setara SMP) saya dan teman-teman mendapati masjid penganut Ahmadiyah yang setiap hari kami lewati sudah pecah-pecah kacanya dan rusak di beberapa bagian lainnya. Tanda telah terjadi penyerangan. Beberapa aparat kepolisian masih terlihat berkumpul mengawasi sekitar luar masjid. Membayangkan kejadian penyerangan yang mungkin selang satu jam lalu terjadi sebelum bel pulang saya dari sekolah membuat saya bergidik. Menyaksikan kejadian setelah penyerangannya pun masih terasa mencekam, apalagi pas tok waktu kejadian. Saya yang masih berusia remaja waktu itu menjadi bertanya-tanya: Kenapa mereka harus diserang? Apa karena mereka mengajak kepada kekafiran seperti gosip-gosip yang saya dengar? Siapa yang menyerang mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini baru bisa terjawab setelah saya dewasa — apa yang saya alami saat remaja itu ternyata dampak intoleransi.
Saya menjadi penasaran bentuk pendampingan apa yang dilakukan Teh Roro dan kawan-kawan RUDALKU. Melalui program-program yang sudah dimiliki RUDALKU, Teh Roro mencoba menggabungkannya dengan konsep dakwah Rahmatan lil ‘alamin. Pendampingan Teh Roro dan tim RUDALKU menekankan jalan literasi. Mereka menyebutnya Silaturahmi Literasi. Cerdas sekali menurut saya, pendampingannya dilakukan melalui kunjungan dan membagikan buku-buku kepada para keluarga napiter/eks-napiter dan mengajak mereka belajar bersama. Setelah itu, Teh Roro dan tim mengajak keluarga napiter/eks-napiter membuat resensi buku dan menceritakan atau mempresentasikan apa yang mereka pelajari dari bacaannya dalam kegiatan yang dinamakan ALIM (Amaliyat Literasi Moderat). Menurut Teh Roro, kalau langsung diceramahi mereka lebih sulit terbuka terhadap pandangan di luar keyakinannya. Namun, lewat membaca mereka bisa membandingkan dan merefleksikan secara mandiri berbagai pandangan khususnya soal keagamaan yang sempat membuat mereka galau. Dia berharap Silaturahmi Literasi ini dapat membantu napiter/eks-napiter atau pun keluarga mereka untuk memperoleh pemahaman lebih baik mengenai perbuatan dan pola pikir mereka sebelumnya.
Teh Roro dan tim merasa pendampingan tidak cukup hanya difokuskan pada penguatan korban secara psikis, kognitif, dan sosial; juga lingkungan masyarakat sekitarnya perlu diajak menerima dan merangkul mereka. Perpustakaan mini, pendidikan di tempat penitipan anak dan kegiatan bercerita diadakan Teh Roro dan tim di rumah korban untuk menarik masyarakat supaya lebih bisa berbaur dengan korban. Melalui upaya tersebut, Teh Roro berharap korban mampu kembali menjadi warga produktif dan bermanfaat di tengah masyarakat.
Ternyata, pendekatan seperti Silaturahmi Literasi Teh Roro ini juga pernah dipakai dengan efektif oleh para pendamping di Lapas. Budi (bukan nama sebenarnya) merupakan seorang eks-napiter yang harus 2 kali ditahan akibat kasus yang sama, yang pertama divonis 6 tahun dan kedua divonis 9 tahun. Budi memiliki kapasitas dan fungsi vital dalam jaringannya. Namun, mengapa saat ini Budi bisa menjadi “pioneer“ Densus 88 untuk membantu Densus dalam menyadarkan teman-teman napiter yang masih di dalam Lapas maupun yang sudah keluar? Itu hasil pendekatan literasi teman-teman pendamping di Lapas kepada yang bersangkutan. Buku-buku atau kitab-kitab yang dibaca selama kegiatan deradikalisasi membuat Budi merenung dan menyimpulkan kekeliruan pemahamannya sendiri selama ini sebagai pemahaman keliru, yang kemudian menjadi titik balik Budi untuk bertransformasi menjadi seorang “pioneer”.
(bersambung)
***
Tulisan Tia Pramesti selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





