Hasthalaku sebagai Jawaban Realitas Anak Muda
Dalam riset Wahid Foundation tahun 2015, remaja tingkat SMA di Jawa Tengah rentan terpapar paham ekstremisme dan radikalisme. Ini yang menjadi salah satu alasan remaja menjadi target kelompok Solo Bersimfoni dalam penyebaran “hasthalaku” atau “delapan perilaku” di Jawa Tengah.
Riset tahun 2023 oleh Setara Institute dan INFID tentang remaja dan intoleransi menemukan bahwa meski toleransi naik, pertanyaan pribadi responden mengungkap sebesar 50% remaja merasa nyaman jika semua menggunakan jilbab.
Hasthalaku terdiri dari dua kata bahasa Jawa yaitu hastha atau delapan dan laku atau perilaku. Jadi “hasthalaku” adalah delapan perilaku berdasarkan nilai budaya Jawa yaitu gotong royong (bekerja sama), guyub rukun (kerukunan), grapyak semanak (ramah tamah), lembah manah (rendah hati), ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (pengertian), andhap asor (berbudi luhur) dan tepa selira (saling menghargai). Nilai – nilai ini sudah ada sejak lama; Solo Bersimfoni hanya mengingatkan kembali nilai-nilai ini kepada anak muda, untuk dijadikan nilai baik dalam menyebarkan toleransi dan perdamaian. Salah satu alasan menggunakan pendekatan budaya, menurut Ketua Solo Bersimfoni, “Budaya itu tidak mudah didebat, budaya ada sudah sejak lama dan tidak bisa disangkal. Akan berbeda jika menggunakan pendekatan agama, bisa didebat jika berseberangan.”
Dalam proses pembentukan konsep Hasthalaku, pada tahun 2017 Solo Bersimfoni melibatkan berbagai pihak seperti akademisi, budayawan dan tokoh masyarakat. Awalnya dinamakan hastalaku -tanpa “h” –, namun ahli bahasa Jawa Universitas Sebelas Maret, Prof Sahid Teguh Widodo, S.S. M.Hum.Ph.D, mengatakan angka delapan dalam bahasa Jawa menggunakan “h” sehingga menjadi hasthalaku. Kemudian disusun Modul Hasthalaku sebagai materi kampanye kebaikan. Penyusunannya tak hanya melibatkan praktisi namun juga anak muda Solo.
Hasthalaku kemudian dikenalkan kepada anak muda melalui Training of Trainers (ToT) Solo Bersimfoni. Pada awalnya, ToT dilakukan sebanyak tiga angkatan. ToT pertama dilakukan bulan Juli 2018, ToT kedua Agustus 2018 dan ToT ketiga September 2018. Masing-masing ToT diikuti kurang lebih 30 peserta yang terdiri dari anggota organisasi kepemudaan, remaja setingkat sekolah menengah pertama dan atas, mahasiswa, sampai guru Bahasa Jawa di Soloraya. Guru bahasa Jawa terlibat sebagai pengkaji atau reviewer nilai Hasthalaku berdasarkan budaya Jawa. Ketiga kegiatan ini semua dilakukan di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Selama tiga hari dua malam, peserta mengikuti berbagai kegiatan yang menjadikan mereka Sahabat Simfoni. Sahabat Simfoni adalah relawan dan kepanjangan tangan Solo Bersimfoni.
Sebagai lanjutan ToT, Sahabat Simfoni mengkampanyekan Hasthalaku kepada remaja khususnya setingkat SMA/K di Soloraya. Kegiatan ini dinamakan Simfoni Goes to School. Solo Bersimfoni memilih jenjang SMA/K karena berdasarkan konsultasi dengan berbagai pihak (lembaga pendidikan, organisasi masyarakat dan pemerintah) bibit-bibit intoleransi berbasis kekerasan mulai muncul di jenjang tersebut. Beberapa kegiatan ekstra kurikuler juga diperkirakan mudah disusupi paham kekerasan. Ketua Solo Bersimfoni M. Farid Sunarto mengatakan, “Beberapa kelompok terpapar relatif berusia muda. Mereka memperoleh informasi dari dunia maya yang bisa diakses dengan mudah dari telpon genggam (HP) dan juga dari kegiatan kerohanian sekolah”. Kajian kerohanian yang dilakukan setelah jam belajar usai menyebabkan minimnya kontrol dari sekolah.
Hal ini juga pernah dirasakan seorang guru SMA di Solo yang lama prihatin melihat kondisi anak didiknya. Mereka seakan lupa sopan santun. Saat berpapasan dengan guru yang tidak mengajar mereka, tak ada senyum, apalagi sapa. Keprihatinannya semakin menjadi, ketika salah satu murid perempuan berencana tidak lagi lanjut ke jenjang kuliah. “Saya kan perempuan, perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi,” begitu ia mengenang jawaban sang murid saat ia menanyakan alasannya.
Saat itu, ia mencoba menggali lebih dalam mengapa muridnya bisa berpikiran demikian. Apalagi, murid ini tergolong pintar. Usut punya usut, ternyata pemicunya adalah ajaran ekstra kurikuler kerohanian di sekolah. Ia semakin terkejut ketika menyadari para pengajar rohani ini amat jarang dikontrol sekolah. Siapa saja bisa datang mengajar dan menginterpretasikan agama dengan bebas di sekolah. Dia bersyukur saat bertemu Solo Bersimfoni yang menjelaskan konsep kearifan lokal bernama Hasthalaku, dan sempat ikut salah satu kegiatan ToT .“Ketakutan saya hilang sejak bertemu dengan Solo Bersimfoni,” katanya.





