Transformasi Diri: Dari Anak Muda untuk Anak Muda (Bagian 3)

Berdialog dengan Dunia

Selepas kuliah, aku berkesempatan magang di sebuah organisasi bernama PeaceGeneration Indonesia. Nama yang sangat asing, namun menarik. Di tengah kebosanan menunggu lamaran kerja di masa harga minyak sedang buruk-buruknya, aku mencoba mendaftarkan diri untuk eksplorasi diri. Ketika sesi wawancara bersama Kang Irfan Amali, aku merasakan kedekatan visi yang sangat nyata. Aku tidak merasa sedang diwawancarai tetapi sedang bercerita kisah hidup kepada orang yang aku percaya. Semuanya mengalir begitu saja, tidak seperti pengalaman wawancara lain yang penuh tips trik tekstual dan jawaban baku.

Transformasi Diri: Dari Anak Muda untuk Anak Muda (Bagian 3)

Setelah menjadi bagian PeaceGen, aku memperoleh lingkungan tumbuh yang suportif. Aku bertemu sesama Muslim yang penuh welas asih, juga rekan-rekan dari kelompok agama dan suku berbeda pula. Juga banyak kesempatan keluar dari zona nyaman. Dengan pekerjaan ini, aku dipaksa menjelajahi ragam wilayah di Indonesia sendirian, dipaksa bertemu dan berbicara dengan kelompok orang yang dulunya sangat aku segani. Bahkan berbicara di depan umum. Aku juga didorong menjadi diri sendiri. Aku menumbuhkan kepribadian yang sebelumnya tak terbayang ada di dalam diri aku.

Aku merasa bahagia bekerja di isu dan organisasi ini. Namun, tantangan muncul ketika aku harus mengkomunikasikan pilihan hidupku kepada orangtua. Kedua orangtuaku PNS, dan mengkhawatirkan masa depan anaknya nanti jika tidak memiliki pekerjaan yang dianggap dapat menjamin kestabilan finansial. Selain itu, bekerja di isu perdamaian juga memunculkan kekhawatiran tersendiri. Orang tua khawatir jika aku tidak lagi menjalankan agama sesuai keyakinan mereka dan cenderung sekuler.

Di awal masa bekerja, orang tua seringkali bertanya apakah aku punya uang atau tidak. Mereka juga dengan rajinnya menyampaikan informasi lowongan calon PNS untuk aku ikuti. Karena merasa bosan ditanya terus-terusan, aku ikut tes di salah satu kementerian yang sesuai latar belakang pendidikanku. Namun, ternyata ada saja kejadian yang membuatku harus berefleksi lagi. Tepat di hari aku datang ke depan gedung penyelenggaraan tes, aku tidak diterima masuk karena warna bajuku salah. Baju biruku kontras terlihat dibandingkan kandidat lain yang berpakaian hitam putih. Satpam gedung tersebut kemudian memintaku untuk meminjam baju kandidat lain yang sudah selesai tes.

Lima belas menit lagi tes akan dimulai. Aku harus mencoba berkenalan dengan orang yang asing dan tiba-tiba meminjam baju jika ingin diizinkan masuk. Atau aku harus membujuk satpam dan panitia dengan bajuku yang memang ngaco. Kemudian terpikir, “Untuk apa aku harus berjuang dan mengorbankan rasa maluku untuk satu hal yang tidak benar-benar aku inginkan?” Aku lalu minggat dan berbohong kepada orang tua bahwa aku ikut tes. Kebohongan itu tidak berlangsung selamanya; tiga bulan berselang, aku mengaku pada orang tua bahwa aku membohongi mereka. Sontak saja mereka kecewa dan marah. Dengan perasaan malu dan putus asa, aku memilih tidak bertemu mereka selama beberapa bulan.

Di tengah suasana konflik itu aku melanjutkan pekerjaanku dengan penuh perhatian. Dimulai dari Boardgame for Peace hingga Frosh Project ID, aku menikmati bekerja untuk menguatkan anak muda menjadi pribadi dengan kualitas diri baik yang dapat berkontribusi ke masyarakat. Aku dan tim menjalani serangkaian aktivitas yang tidak main-main. Berbulan-bulan lamanya kami membuat desain perencanaan, melakukan riset dan mengembangkan produk pembelajaran, serta melakukan beberapa kali uji coba kepada kelompok anak muda baik laki-laki dan perempuan untuk memperoleh masukan mereka.

Mengelola Frosh juga membuatku harus menghadapi salah satu ketakutan terbesar, kembali ke kampus dan berbicara dengan dosen. Semasa kuliah, aku minder atau mengalami sindrom inferioritas terhadap dosen-dosen di kampusku. Sebagai seorang perempuan, lulusan S1, dan bekerja di sektor sosial, aku sangat ketakutan menghadapi para dosen dan pejabat kampus.

Aku masih teringat di satu sesi audiensi awal, hanya ada dua peserta perempuan termasuk saya di antara  banyak doktor dan profesor. Beberapa pihak bertanya, apa itu PeaceGen dan bergerak di bidang apa? Apa nilai-nilai yang diperjuangkan PeaceGen? Sungguh ketegangan luar biasa yang saya rasakan kala itu. Muncul pertanyaan di benak saya, “Apakah Frosh mampu berkolaborasi dengan kampus ini?” dan “Apakah saya, seorang alumni yang biasa-biasa saja bisa membawa perubahan positif di kampus saya?”

Syukurlah, penerimaan positif muncul dari beberapa aktor kunci di kampus tersebut. Apalagi saat kami mempresentasikan kurikulum game-based learning, yang menjadi daya tarik baru bagi pegiat pengembangan karakter di ITB. Setelah diskusi berjalan, terbentuk komitmen untuk diskusi-diskusi lanjutan.

Kelegaan tersebut rupanya tidak bertahan lama. Tanggapan positif ketika audiensi tetap perlu ditindaklanjuti serangkaian diskusi teknis dan persiapan berbagai dokumen administratif. Saya terhenyak, ternyata proses birokrasi ini mengganjal kami hingga 8 bulan lamanya. Tentu saja seberapapun baik program bisa berjalan, tetap perlu kepastian hukum dalam bentuk Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani perwakilan kampus, antara PeaceGen dan Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Baru kemudian kami sadar, kerumitan birokrasi tersebut tidak terlepas kehati-hatian kampus untuk berkolaborasi dengan lembaga luar. Pada saat itu, polarisasi politik memang cukup tajam. Peace Generation sebagai organisasi dengan kata “peace” juga tak terlepas radar kewaspadaan kami.

(bersambung)

***

Tulisan Lindawati Sumpena selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc 

Penulis

Opini

Di sini kita membahas topik terkini tentang perempuan dan upaya bina damai, ingin bergabung dalam diskusi? Kirim opini Anda ke sini!

Scroll to Top