Daya Laku (Agensi) Perempuan dalam Kelompok Ekstremisme Kekerasan
Narasi-narasi kebencian terhadap negara dan terhadap mereka yang berbeda agama maupun paham keagamaan seringkali dilakukan kelompok-kelompok ekstremisme kekerasan untuk menjadi pembenaran untuk mendorong anggotanya melakukan tindak terorisme. Ketika aparat keamanan semakin gencar melakukan penangkapan dan memperketat pengawasan, kelompok-kelompok ekstremisme kekerasan tersebut mulai melibatkan perempuan secara aktif di lapangan sebagai eksekutor tindak pidana terorisme. Sebagai contoh, Dian Yulia Novi pada tahun 2016 yang dipersiapkan suaminya untuk melakukan aksi pengeboman istana. Kemudian Ika Puspitasari yang ditangkap pada tahun 2016 karena mendanai aksi terorisme yang dikoordinir oleh suaminya. Setelah itu Anggi Indah Kusuma yang merencanakan aksi bom bunuh diri bersama suaminya di Jakarta dan Bandung pada tahun 2017.
Peran aktif perempuan dalam kelompok terorisme di Indonesia juga terlihat dengan ditangkapnya Dewi Anggraini yang mempengaruhi suaminya, Rabbial Muslim Nasution, untuk melakukan aksi bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan, pada tahun 2019. Dewi juga merencanakan aksi serupa di Bali. Di tahun yang sama WNI asal Makassar, Ulfah Handayani Saleh, bersama dengan suaminya Rullie Zeke, melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral di Jolo, Filipina. Sementara itu, seorang perempuan bersama suaminya juga terlibat aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar pada tahun 2021.
Pelibatan perempuan muda dalam tindak terorisme juga menjadi tren baru di Indonesia seperti terlihat pada kemunculan dua perempuan muda “duo Siska” (Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah) yang diduga berencana membantu napi terorisme paska kerusuhan di Rutan Mako Brimob di Depok tahun 2018, disusul penyerangan Mabes Polri oleh Zakiah Aini tahun 2021.
Tren pelibatan keluarga dalam aksi terorisme semakin menguat di Indonesia dengan serangkaian bom di Surabaya yang melibatkan tiga keluarga (suami, istri dan anak-anak) tahun 2018. Bom Surabaya tanggal 13 Mei 2018 dilakukan satu keluarga. di tiga titik gereja di daerah Surabaya. Yusuf (18) dan Firman (16) meledakkan diri di Gereja Katolik Santa Maria, di Jalan Ngagel Madya 01, Surabaya, dengan cara berboncengan motor, mengakibatkan korban jiwa sebanyak dua orang pelaku dan lima anggota masyarakat. Lalu, sang ibu, Puji Kuswati (43), beserta dua anaknya Famela (9), dan Fadhila Sari (12), meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia di Jl. Diponegoro, Surabaya. Sang bapak, Dita Oepriarto (48), meledakkan diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya dengan korban jiwa sebanyak tujuh orang, plus Dita sebagai pelaku. Pada hari yang sama, juga terjadi ledakan bom di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Ledakan itu merenggut tiga nyawa, yaitu seorang bapak bernama Anton Febriyanto (47), istrinya, Puspitasari (47), serta seorang anak RAR (17). Dua anak Anton, yakni FP (11) dan GHA (10) yang terluka dilarikan ke rumah sakit oleh anak keduanya, AR (15). Anton diduga saat itu sedang merakit bom di kediamannya. Sehari setelahnya, yaitu 14 Mei 2018, terjadi aksi bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya yang dilakukan Tri Murtiono (bapak / 50 tahun), Tri Ernawati (ibu / 43 tahun), Muhammad Daffa Murdana (anak / 19 tahun), Muhammad Darih Satria Murdana (anak / 15 tahun), dan Aisyah Assahara Putri (anak / 8 tahun).
Di Sibolga, tahun 2019, Solimah meledakkan dirinya bersama dengan anaknya di rumah mereka, setelah menolak menyerah paska suaminya ditangkap aparat. Sebelumnya aparat keamanan dan suaminya berusaha bernegosiasi selama sembilan jam dengan Solimah agar menyerah. Mereka juga minta bantuan tokoh agama setempat untuk membujuk wanita tersebut. “Tolong menyerahlah, ingat anakmu. Bicara baik-baik kalau ada masalah. Karena tidak ada agama yang mengajarkan hal yang seperti itu. Ayo menyerahlah,” kata Ustad Zainun Sinaga melalui alat pengeras suara masjid. Namun Solimah tetap bertahan hingga meledakkan diri pada pukul 1.30 dini hari, yang mengakibatkan puluhan rumah di sekitarnya rusak, melukai seorang petugas dan penduduk sipil, dan sekitar 20 keluarga mengungsi. Abu Hamzah juga merekrut mantan istri teroris yang akan dinikahi sebagai calon istri kedua. Perempuan berinisial R, yang akan melakukan aksi terorisme di Tanjung Balai, kemudian berhasil ditangkap. Abu Hamzah juga merencanakan peledakan bersama Y alias Khadijah, calon istri ketiganya, di Jawa Tengah. Y meninggalkan anak dan suaminya untuk bergabung dengan kelompok Abu Hamzah. Namun Y meninggal dunia akibat minum cairan pembersih lantai di toilet kantor polisi.
Sementara itu, Fitri Diana alias Fitri Adriana, bersama suaminya, Abu Rara, membawa anak sambungnya ketika melakukan aksi penusukan Menko Polhukam Wiranto tahun 2019. Pada 10 Oktober 2019 sekitar pukul 05.00 WIB, Abu Rara memimpin bai’at istri dan anaknya dalam rangka mempersiapkan amaliah. Ia kemudian memberikan mereka masing-masing satu pisau kunai untuk penyerangan. Sebelum berangkat, dia berpesan kepada istri dan anaknya agar nanti di Alun-alun Menes tidak bertegur sapa, seolah-olah tidak saling kenal. Saat itu Abu Rara pura-pura menyalami Wiranto yang baru saja turun dari mobil. Setelah dekat, dia kemudian menusuk perut Wiranto memakai pisau kunai. Wiranto ditikam di dekat pintu gerbang Lapangan Alun-alun Menes, desa Purwaraja, kecamatan Menes, kabupaten Pandeglang, Banten. Setelah Wiranto terjatuh, Abu Rara melawan membabi buta, sehingga melukai dada Fuad Syauqi ajudan Wiranto. Begitu pun dengan Fitri yang menyerang dari belakang menggunakan pisau kunai sehingga melukai Kompol Daryanto di bagian punggung.
(bersambung)
***
Tulisan Debbie Affianty selengkapnya dapat dibaca melalui buku “Teroris, Korban, Pejuang Damai: Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme di Indonesia” (AMAN INdonesia, 2023). Buku dapat dipesan melalui link berikut bit.ly/pesanbukuwgwc





