Islam, agama yang dikenal dengan pesan kedamaian, sering kali disalah pahami oleh sebagian kalangan, terutama terkait konsep jihad. Dalam konteks ini, penting untuk menyoroti upaya-upaya yang bertujuan untuk mengembalikan pemahaman yang benar tentang Islam sebagai agama damai. Salah satu upaya tersebut terlihat dalam program sosial yang dilakukan oleh Division for Applied Social Psychology Research (DASPR), khususnya melalui program yang bertema “Resiliensi Keluarga: Ibu Tangguh, Keluarga Utuh” bekerjasama dengan Working Group on Women and Preventing/Countering Violent Extremism (PCVE) (WGWC). Program ini menggunakan pendekatan yang menggugah, seperti pemutaran film dokumenter “Keluargaku Jihadku” dan diskusi reflektif bersama mantan narapidana terorisme.
Memahami Keluarga yang Terdampak Radikalisme
Film dokumenter “Keluargaku Jihadku” mengisahkan perjuangan keluarga yang suaminya ditangkap karena terlibat terorisme. Kisah ini membuka mata para penonton tentang dampak radikalisme terhadap keluarga, terutama istri dan anak-anak yang sering kali menjadi korban dari ideologi kekerasan. Dengan menampilkan narasi para istri yang berjuang keluar dari bayang-bayang terorisme, film ini tidak hanya menggambarkan penderitaan mereka, tetapi juga menunjukkan semangat untuk bangkit dan menjalani kehidupan yang damai.
Salah satu pesan utama dari film ini adalah bahwa jihad tidak harus diwujudkan melalui kekerasan. Dalam wawancara dengan dua istri mantan narapidana terorisme, jihad didefinisikan sebagai perjuangan yang sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan. Mereka menekankan bahwa belajar, bekerja untuk keluarga, dan menjaga keharmonisan rumah tangga juga merupakan bentuk jihad yang sejati. Pesan ini sangat relevan untuk masyarakat Indonesia, yang dikenal dengan keberagamannya dan semangat hidup rukun.
Islam dan Toleransi: Refleksi dari Nabi Muhammad SAW
Dalam buku “Kontra Ekstremisme di Indonesia”, ditulis Erni Kurniati, salah satu sesi program yang dibahas adalah “Resiliensi Keluarga: Ibu Tangguh, Keluarga Utuh”. Yakni mendeskripsikan bagaimana peserta diajak untuk merefleksikan nilai-nilai toleransi yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Islam, sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, telah memberikan banyak teladan tentang bagaimana hidup berdampingan dengan damai, bahkan dengan mereka yang berbeda keyakinan.
Kisah-kisah Nabi Muhammad SAW. menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya sekadar konsep, melainkan tindakan nyata. Misalnya, Nabi dikenal menghormati tetangganya yang berbeda agama dan selalu mengedepankan dialog daripada konflik. Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai ini, umat Islam dapat berperan sebagai penjaga perdamaian di tengah masyarakat yang plural.
Mengurai Kesalahpahaman tentang Jihad
Salah satu tantangan terbesar dalam upaya kontra ekstremisme –dalam konteks agama Islam, adalah mengurai kesalahpahaman tentang jihad. Narasi yang sering kali dikaitkan dengan kekerasan sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam yang sejati. Dalam sesi program DASPR –merujuk pada dokumentasi buku “Kontra Ekstremisme di Indonesia”, narasumber menjelaskan bahwa jihad memiliki syarat dan adab tertentu yang harus dipenuhi, termasuk memastikan bahwa tindakan tersebut tidak menimbulkan kerugian bagi umat Islam dan manusia secara umum.
Konsep ini diperkuat dengan penjelasan tentang istilah irhab dalam Al-Qur’an oleh Nasir Abas –narasumber. Kata ini, yang berarti “menggetarkan”, sering disalah artikan sebagai “terorisme”. Padahal, konteks ayat yang menyebutkan irhab lebih merujuk pada persiapan untuk menghadapi musuh dalam perang, bukan untuk menebar teror di tengah masyarakat sipil. Penjelasan ini menjadi penting untuk menghilangkan justifikasi ideologis yang sering digunakan oleh kelompok radikal.
Jihad dalam Konteks Modern
Di era modern, makna jihad harus disesuaikan dengan tantangan zaman. Dalam program “Resiliensi Keluarga: Ibu Tangguh, Keluarga Utuh”, jihad didefinisikan sebagai perjuangan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti mendidik anak, bekerja keras, dan menjaga keharmonisan keluarga. Narasi ini memberikan alternatif pemahaman yang lebih relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini.
Sebagai contoh, salah satu istri dalam film “Keluargaku Jihadku” menyebutkan bahwa belajar dengan sungguh-sungguh adalah bentuk jihad yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda. Sementara itu, perjuangan seorang ibu yang harus menghidupi keluarganya setelah suaminya ditangkap juga dianggap sebagai jihad yang mulia. Pemaknaan ini menegaskan bahwa jihad tidak selalu berkaitan dengan konflik, melainkan dapat diwujudkan dalam tindakan positif yang membawa manfaat bagi orang lain.
Islam sebagai Agama Damai
Pesan utama yang ingin disampaikan oleh DASPR melalui programnya adalah bahwa Islam adalah agama yang mencintai kedamaian. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam hadir untuk membebaskan manusia dari penindasan dan membawa kedamaian. Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang menekankan pentingnya hidup harmonis dan saling menghormati antar sesama manusia.
Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis dialog, DASPR berhasil menyentuh hati para peserta program, termasuk keluarga mantan narapidana terorisme. Program ini tidak hanya membantu mereka memahami ajaran Islam yang sebenarnya, tetapi juga memberikan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Penutup: Peran Kita dalam Menyebarkan Islam Damai
Upaya mewujudkan Islam sebagai agama damai tidak hanya menjadi tanggung jawab para ulama atau lembaga tertentu, tetapi juga setiap individu Muslim. Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam yang sejati, kita dapat menjadi agen perdamaian di lingkungan kita masing-masing.
Melalui program seperti “Resiliensi Keluarga: Ibu Tangguh, Keluarga Utuh”, DASPR telah menunjukkan bahwa perubahan adalah mungkin, bahkan bagi mereka yang pernah terjerumus dalam ideologi radikal. Kisah-kisah inspiratif dari para istri mantan narapidana terorisme mengingatkan kita bahwa jihad yang sejati adalah perjuangan untuk menciptakan kehidupan yang damai, harmonis, dan penuh kasih sayang. Mari kita bersama-sama mengambil pelajaran dari program ini dan terus berkontribusi untuk mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.





